Home / Sumba / Tantangan Melistriki Sumba

Tantangan Melistriki Sumba

Bagikan Halaman ini

Share Button
Sumba

Sumba

PAGI bergeliat. Namun suhu panas sekitar 35 derajat celcius yang menyelimuti Sumba membuat tubuh mulai berkeringat. Beberapa kali mobil yang kami tumpangi bertemu dengan kawanan kuda, sapi dan domba yang merumput di belantara di sisi jalan. Jika sudah begitu, Diki Takanjanji, sopir mobil menginjak rem untuk memberikan kesempatan kepada kami memotret.

Terkadang beberapa angkutan desa melintas yakni truk yang dimodifikasi menyerupai bus mengangkut penumpang dan hasil bumi dari desa-desa di Kecamatan Pabariwai, Tana Rara, dan Matawai Lapau menuju Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Mobil terus bergerak menanjak melintasi jalan berkelok-kelok kemudian menuruni tajam hingga tiba di sebuah perkampungan kecil. Sepi selama perjalanan, hanya terlihat satu atau dua rumah panggung sejauh mata memandang. Rumah penduduk di pedalaman Sumba umumnya rumah panggung. Penduduk tinggal di bagian atas, dan bagian bawah rumah panggung menjadi tempat tinggal ternak.

Tujuan perjalanan kali ini ialah Air Terjun Hiruk Manuk di Desa Kananggar, Kecamatan Pabariwai yang akan dimanfaatkan PT PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur untuk membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH). Kendati hanya berjarak sekitar 80 kilometer di bagian timur Waingapu, Kananggar ditempuh selama empat jam. Selama itu pula, tubuh terguncang-guncang di dalam mobil karena kondisi jalan berbatu. Hingga kemudian, di depan kami, terpampang panorama perbukitan dengan lembah-lembah curam. Saya terkesiap.

Mobil harus melintas perlahan di punggung bukit di atas kondisi jalan yang mencemaskan. Sisi kiri dan kanan jalan itulah jurang berkedalaman antara 200-500 meter dengan kemiringan antara 50-70 derajat

Baca Juga :  Serangan Hama Belalang di Sumba Mulai Berkurang

Diki bercerita pada musim kering, rumput di bukit-bukit itu mengering sehingga berubah warga menjadi kuning. Berbeda dengan kondisi saat ini yang hijau karena wilayah itu sudah memasuki musim hujan sejak November lalu. Penduduk membangun rumah di punggung bukit sedangkan di bagian lembahnya dijadikan tempat bercocok tanam. Diki berbaik hati kembali menghentikan mobil dan membolehkan kami turun untuk menikmati angin sejuk perbukitan yang menerbangkan letih perjalanan yang sudah berlangsung dua jam.

Tengah hari, kami tiba di PLN Ranting Kananggar. Masih harus melanjutkan perjalanan melewati punggung bukit yang tersedia sarana jalan raya. Hingga akhirnya mobil dihentikan dan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak sejauh tiga kilometer. Air terjun ini terletak di balik bukit di tengah hutan belantara berketinggian 62 meter. Manajer PLN Area Sumba Tige Kalle mengatakan konstruksi PLTM Kananggar berkapasitas 2×100 megawatt (Mw) dimulai pada 2013, dan dijadwalkan beroperasi 2014.

Dengan kapasitas sebesar itu, PLN menargetkan pembangkit ini bisa melistriki antara 250-300 rumah. Jika begitu seluruh Kananggar hingga desa tetangga di Kecamatan Tana Rara bisa diterangi listrik dari PLTM tersebut pada 2014. “Kalau debit air rendah terjadi pada Oktober sekitar 0,4 meter kubik per detik. Tetapi jika hujan akan menghasilkan tenaga sampai 2×100 kilowatt (Kw),” katanya. Karena belum tersedia sarana jalan raya ke lokasi air terjun, mobilisasi komponen pembangkit bukan pekerjaan gampang.

Baca Juga :  Hati-hati, Gempa Sumba Menyebabkan Tanah Turun 20 Sentimeter

Hiruk Manuk ialah satu dari tiga air terjun yang kami sambangi. Dua air terjun lainnya terletak di Sumba Barat yakni Lapupu di Desa Laihuruk, Kecamatan Pabeniwai, dan air terjun Lokomboro di Desa Mareda Kalada, Kecamatan Wewewa Timur. Kecuali pembangunan pembangkit di air terjun Lokomboro yang dibangun sendiri oleh PLN, pembangunan pembangkit di air terjun Lapupu saat ini dalam tahap kontruksi dibangun PT Arum Maju Bersama dari Jakarta.

Perusahaan ini membangun pembangkit berkekuatan 2×800 Mw sejak 2011 dan dijadwalkan beroperasi 2013, kemudian pada tahun yang sama, dilanjutkan pembangunan PLTM Lapupu 2 berkekuatan 2×300 Mw. Sarana jalan dari Waikabubak, ibu kota Sumba Barat ke lokasi ini sudah dibangun kendati masih tahap pengerasan. “Pembangunan rumah pembangkit sudah selesai, sekarang tinggal meletakan mesinnya saja,” kata Humas PT PLN Wilayah NTT Paul Bolla.

Ia mengatakan komponen PLTMH terdiri dari bendungan atau intake, bak pengendap, pipa pesat, rumah pembangkit, dan turbin. Air yang mengalir dari sumber ke bendungan lalu menuju bak pengendap. Air kemudian mengalir melalui pipa pesat untuk menggerakkan turbin sehingga menghasilkan energi listrik. Warga Kananggar Melkianus Metaiwa mengatakan air terjun Hiruk Manuk sering dikunjungi warga dari kota dan wisatawan asing untuk berwisata. Akan tetapi keterbatasan akses jalan akhirnya berdampak serius terhadap arus kunjungan wisatawan hingga akhirnya berhenti sama sekali. Tak lama, setelah menuruni lembah kami mencapai puncak air terjun. Sejenak saya terdiam, menikmati kesejukan alam dan derunya air. (sumber: media Indonesia/Palce Amalo)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda