Home / Sains-Tekno / Studi: Alam Semesta Sedang Sekarat, Menuju Kehancuran Total

Studi: Alam Semesta Sedang Sekarat, Menuju Kehancuran Total

Bagikan Halaman ini

Share Button
Ilustrasi sebuah galaksi di alam semesta (Shutterstock)

Ilustrasi sebuah galaksi di alam semesta (Shutterstock)

Energi yang dipancarkan oleh 200.000 galaksi di alam semesta kini hanya tinggal separuh dari energi yang mereka pancarkan dua miliar tahun silam

Lintasntt.com: Alam semesta rupanya perlahan-lahan sedang menuju kepada kehancuran total, demikian ungkap sebuah studi terbaru yang menganalisis energi yang dihasilkan oleh sejumlah galaksi di alam semesta.

Riset yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan para astronom (International Astronomical Union’s General Assembly) di Hawaii, Amerika Serikat pada 10 Agustus itu menunjukkan bahwa energi yang dipancarkan oleh ratusan ribu galaksi di alam semesta terus berkurang. Ini adalah riset terlengkap yang pernah dilakukan para ilmuwan sejauh ini.

Memanfaatkan data yang dikumpulkan oleh tujuh teleskop, termasuk teleskop-teleskop yang melayang di antariksa milik badan antariksa AS (NASA), para ilmuwan itu menemukan fakta bahwa besarnya energi yang dipancarkan oleh 200.000 galaksi di alam semesta kini hanya tinggal separuh dari energi yang mereka pancarkan dua miliar tahun silam.

Simon Driver, ilmuwan dari lembaga International Centre for Radio Astronomy Research, Australia yang memimpin riset itu mengatakan bahwa mereka menghitung energi yang dipancarkan oleh ratusan ribu galaksi itu dengan mengukur panjang gelombangnya.

Baca Juga :  UI Luncurkan City Car dan Bus Bertenaga Listrik

Tujuan dari riset itu, jelas Driver adalah untuk memetakan semua energi yang dihasilkan di antariksa. Setiap galaksi berukuran 21 panjang gelombang dan ini sudah diterima oleh para ilmuwan sejak 1990an.

Semua energi di alam semesta dihasilkan selama terjadinya Big Bang, proses yang berlangsung selama 3 miliar tahun yang menghasilkan formasi bintang dan beragam galaksi. Tetapi setelah masa itu, prosesnya kian melambat. Alam semesta sendiri diperkirakan kini sudah berusia 13,8 miliar tahun.

“Sebagian besar energi itu tercipta akibat Big Bang, tetapi ada juga energi tambahan yang secara konstan dilepaskan oleh bintang-bintang saat elemen seperti hidrogen dan helium bersatu,” jelas Driver.

“Energi yang baru dilepaskan itu itu diserap oleh debu antariksa atau melesat di antara ruang antargalaksi dan menghantam benda langit lainnya seperti bintang, planet, dan juga lensa-lensa teleskop,” imbuh dia.

Pancaran energi inilah yang kemudian diukur untuk menunjukkan bahwa alam semesta perlahan-lahan berhenti bertumbuh, jelas Sarah Sweet seorang pakar astronom dari Research School of Astronomy and Astrophysics, ANU, Australia. Sarah tak terlibat dalam riset itu.

“Tim peneliti ini menemukan bahwa total energi yang dihasilkan oleh alam semesta kini 1,5 kali lebih sedikit ketimbang dua miliar tahun lagi,” jelas Sweet.

Baca Juga :  30 Ilmuwan Cari Jejak Benua Zealandia

“Kita tahu bahwa sebagian besar energi ini berasal dari bintang dan debu antariksa, jadi temuan mereka mengindikasikan bahwa jumlah bintang baru di alam semesta semakin sedikit dan kini semakin banyak bintang tua yang sekarat dibandingkan pada masa lalu,” imbuh dia.

“Jika bintang-bintang ini diumpamakan sebagai sel-sel tubuh manusia, maka kondisi saat ini menunjukkan bahwa kemampuan regenerasi sel alam semesta sudah tak berfungsi. Jadi alam semesta sedang sekarat,” ia membandingkan.

Meski demikian para ilmuwan itu menegaskan bahwa alam semesta yang kita kenal akan benar-benar mati dan lenyap dalam hitungan triliunan tahun. Saat itu, jelas mereka, alam semesta akan semakin dingin, gelap, dan jarak antara satu objek dengan objek lain akan semakin jatuh karena alam semesta terus meluas.

“Setelah triliunan tahun kita hanya akan bisa melihat galaksi kita sendiri, karena galaksi lain sudah terlalu jauh,” kata Aaron Robotham, salah satu peneliti dalam riset itu.

“Semua benda yang kita kenal akan menghilang, lubang hitam-lubang hitam akan menguap, dan yang tertinggal hanya sebuah tempat yang hening nan kosong,” tutup Robotham. (dari suara.com/Phys.org/CNET)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda