Home / Bisnis / Stok Garam di Sabu Raijua Melimpah

Stok Garam di Sabu Raijua Melimpah

ILUSTRASI: Panen Perdana Garam Industri di Bipolo/Foto: Gamaliel
ILUSTRASI: Panen Perdana Garam Industri di Bipolo/Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Kelangkaan garam di sejumlah daerah tidak merembet ke Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Stok garam di daerah itu pada Rabu (2/8) mencapai 809 ton.

Stok garam yang melimpah tersebut mendorong sejumlah pengusaha mulai berdatangan ke Sabu untuk membeli garam. “Setiap hari selalu ada pengusaha yang datang ke Sabu untuk membeli garam,” kata Pelaksana Tugas Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke.

Produksi garam di daerah itu ditangani oleh Dinas Kelautan dan Perikanan. Sampai akhir Juli 2017, tercatata 12 pengusaha sudah datang ke Sabu untuk membeli garam. Pengusaha asal Pati, Jawa Tengah membeli 280 ton garam terdiri dari 260 ton garam curah dan 20 ton garam yodium. Selain itu pemerintah daerah setempat sedang dalam proses pengiriman ke Surabaya.

Baca Juga :  UMP NTT 2015 Naik Rp125 Ribu

Selain Surabaya dan Pati, sejak 2016, garam produksi petani Sabu Raijua juga dikirim ke Kupang, Banten, Pontianak, dan Makassar. Nikodemus menyebutkan produksi garam di Sabu Raijua setiap 10 hari sebanyak 15 ton per hektare atau 45 ton per bulan. Dengan demikian, produksi garam di Sabu Raijua per bulan mencapai 2.970 ton per bulan berasal dari tambak seluas 66 hektare.

Menurutnya kelangkaan garam di daerah lain juga mendorong peningkatan permintaan garam di daerah itu, yang kemudian mendorong penaikan harga. Saat ini harga garam telah naik mencapai Rp2.200 per kilogram dari harga satu bulan sebelumnya Rp2.000 per kilogram.

“Jika banyak pembeli terus berdatangan ke Sabut membeli garam, kami akan naikkan harga jual garam. Bisa juga dijual dengan sistem lelang. Kami akan memilih pembeli yang menawar dengan harga tertinggi,” kata Dia.

Baca Juga :  Kemendag Pastikan Harga Sembako di Kupang Stabil

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sabu Raijua Charles Meyok mengatakan stok garam tetap tersedia di gudang. Pasalnya penen garam berlangsung setiap 10 hari. Bahkan saat ini pemerintah daerah mulai membuka lagi lahan seluas 70 hektare untuk tambak garam. “Produksi garam di Sabu tidak akan terputus. Selalu ada garam,” kata Dia. (sumber: mi/palce)

 

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda