Home / Humaniora / Sikka, Ende dan Flotim Bahas Pengendalian Malaria Lintas Batas

Sikka, Ende dan Flotim Bahas Pengendalian Malaria Lintas Batas

Kegiatan Koordinasi Lintas Batas Program Malaria dan Persiapan Pra-Penilaian Eliminasi Malaria Sikka di Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, Rabu (19/6). Foto: Lintasntt.com
Kegiatan Koordinasi Lintas Batas Program Malaria dan Persiapan Pra-Penilaian Eliminasi Malaria Sikka di Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, Rabu (19/6). Foto: Lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Maumere–Tiga kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai membahas pengendalian malaria lintas batas yang salah satu tujuannya mengejar target percepatan eliminasi malaria di NTT pada 2023, dan eliminasi malaria nasional pada 2030.

Pertemuan melibatkan Tim Eliminasi Malaria Dinas Kesehatan NTT dan Dinas Kesehatan Sikka, serta kepala dinas kesehatan dan kepala puskemas dari dua kabupaten tetangga yakni Ende dan Flores Timur (Flotim).

Pengendalian malaria lintas batas ini sangat penting karena adanya nyamuk penular malaria dan tempat perindukannya di perbatasan dan terinfeksi parasit malaria sehingga menimbulkan kesakitan serta penularan malaria di sepanjang daerah perbatasan tersebut.

Selain itu, adanya migrasi penduduk yang membawa parasit malaria melintasi perbatasan yang menimbulkan kesakitan dan penularan baru di wilayah yang tersedia nyamuk penularnya.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan NTT dokter Theresia Sarlyn Ralo mengatakan pertemuan tersebut juga bertujuan mempersiapkan kabupaten Sikka memasuki tahap pra eliminasi malaria dan pra penilaian eliminasi malaria pada 2020.

“Pada 2021 tidak boleh ada lagi kasus penularan malaria lokal (indigenous) di Sikka, Ende dan Flores Timur. Kalau masih ada, berarti bukan datang dari tiga kabupaten itu,” ujarnya saat berbicara dalam Kegiatan Koordinasi Lintas Batas Program Malaria dan Persiapan Pra-Penilaian Eliminasi Malaria Sikka yang digelar di Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, Rabu (19/6).

Baca Juga :  54 Jamaah Haji Tiba di Kupang

Karena itu Dia minta petugas kesehatan melakukan penyelidikan epidemologi secara benar. Selain itu, jika masih ditemukan penderita malaria, petugas kesehatan setempat harus mencari tahu asal penyakit tersebut untuk selanjutnya diblokir agar tidak berkembang. “Seluruh suspect malaria harus diiperiksa secara laboratorium,” tambahnya.

Selain itu untuk mencegah penularan malaria dari daerah lain, seluruh orang yang baru kembali dari daerah endemis malaria seperti Papua, diwajibkan melakukan skrining (diperiksa). Dari data yang ada, banyak penderita malaria di Sikka diketahui baru kembali dari daerah endemis malaria seperti Papua.

Kepala Dinas Kesehatan Sikka dokter Maria Bernadina Sada Nenu menyebutkan pengendalian malaria dilakukan secara komprehensif dengan upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Sesuai peta jalan (road map) eliminasi malaria, pada 2019 ada delapan kabupaten di NTT ditargetkan mencapai pra eliminasi malaria yakni Timor Tengah Selatan, Flores Timur, Manggarai Barat, Kupang, Nagekeo, Sikka, Rote Ndao dan Ngada.

Akan tetapi realisasinya hanya Kota Kupang dan Manggarai yang memenuhi syarat untuk dilakukan pra-penilaian pada Desember 2018, lantaran ada delapan kekurangan yang harus dilengkapi sebelum mengajukan ke tahap penilaian, yang salah satunya adalah koordinasi lintas batas program malaria.

Baca Juga :  Kasus Pembunuhan, 214 Mahasiswa Sumba Dipulangkan Lewat Bali

Kepala Seksi Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Provinsi NTT Joyce Tibuludji mengatakan jika sudah ada koordinasi lintas batas antarkabupaten, dapat mencegah terjadinya penularan malaria terutama yang berasal dari luar daerah, serta menemukan penderita malaria secara dini yang datang dari daerah endemis malaria

“Oleh karena itu, dalam rangka menyiapkan Sikka memasuki tahap eliminasi dan pra penilaian eliminasi pada 2020, dibutuhkan pertemuan koordinasi lintas batas program malaria dan persiapan penilaian eliminasi malaria Sikka,” ujarnya.

Adapun di NTT masih empat kabupaten daerah endemis tinggi malaria yakni Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. Prosentase kasus malaria di empat kabupaten tersebut 76% atau 13.809 kasus dari 18.053 kasua malaria di NTT.

Kegiatan yang berlangsung hingga Kamis (20/6) ini juga disampaikan beberapa materi terkait program eliminasi malaria yakni Kebijakan Eliminasi Program Malaria NTT, Situasi Malaria di Sikka dan Persiapan Pra-Penilaian Menuju Eliminasi 2021, persiapan penilaian eliminasi malaria. Pemateri dalam kegiatan juga berasal dari Anggota Komite Ahli Tata Laksana Malaria, Kementerian Kesehatan dokter Asep Purnama, dan Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Sikka dokter Harlin Hutauruk, dan Hironimus Taitoh, anggota Tim Advokasi dan Eliminasi Malaria Dinas Kesehatan NTT. (sumber; mi)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda