Home / Humaniora / Siapa Viktor Laiskodat (4)

Siapa Viktor Laiskodat (4)

Viktor Laiskodat
Viktor Laiskodat

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh: Matheos Viktor Messakh

Kami Baku uji

Keberanian Viktor memang telah menjadi buah bibir, tapi tak banyak yang tahu soal kedetakatan anak Semau ini dengan Sang Khalik. Tak seperti lazimnya kebanyakan pentobat, kedekatan itu bukanlah didapatkannya saat dipenjara.

“Dalam satu kesempatan, hidup saya begitu susah setengah mati, itu di awal 1997. Saya baca di Maleakhi 3: 10 “bawalah kepadaKu sepersepuluh dari hasil usahamu agar dalam rumahmu tidak berkekurangan dan ujilah Aku Tuhan semesta alam apakah Aku tidak akan membuka tingkap-tingkap di langit agar engkau berkelimpahan. Aku akan mengusir belalang pelahap daripada hidupmu,” katanya dengan fasih tentang ayat kitab suci ini.

“Saya tidak tertarik yang lain”, lanjutnya. “Saya tertarik dengan ‘ujilah Aku’ itu, maka sejak itu saya dengan DIA baku uji sampai hari ini. Dan sejak itu saya tahu bahwa saya bertumbuh terus jatuh, bertumbuh jatuh. Jatuh itu cuma latihan agar bisa naik lebih tinggi. Dan sejak itu kedekatan hubungan saya dengan DIA luar biasa,” jelas Viktor.

Viktor mendirikan persekutuan doa yang menjadi sarana penyejuk rohani ribuan anak asuhannya yang sehari-hari bergelut dengan kerasnya Jakarta. Hingga hari ini semua kegiatan sosial dan kerohaniannya terus bertumbuh mengiringi kesuksesan hidupnya.

Sebagaimana Josef Nae Soi mengatakan, Viktor telah menemukan kehidupannya. “Hidup dia bergejolak tapi sekarang dia menemukan kehidupan, bukan hidup saja. Banyak orang yang tidak pernah menemukan kehidupan,” kata mantan Staf khusus Mentri Hukum dan Perundang-undangan ini.

“Sekarang dia komplit. Diskusi apa saja pasti dia bisa ladeni, dan dia apa adanya, tidak menutup-nutupi. Selalu ada pemikiran yang original, itulah orang yang menemukan kehidupan. Hidup biasa, seringkali hanya contek sana contek sini, tapi orang yang menemukan kehidupan pasti original. Kalau orang lain tidak mungkin saya bersedia jadi wakil,” kata Nae Soi.

Karakter Viktor memang tergambar dalam dua tokoh politik yang ia kagumi:  Nelson Mandela dan Vladimir Putin. Baginya, Mandela adalah contoh sempurna pengampunan yang membawa kebaikan dan Putin adalah contoh sempurna dari kemampuan membangkitkan kembali pride (kebanggaan) sebuah bangsa yang terpuruk.

“Putin punya kharakter yang kuat dan membangun pride di saat orang menganggap remeh Rusia. Saat Uni Soviet pecah, Cina dan Amerika Serikat memandang sebelah mata Rusia. Tapi sekarang Rusia ditakuti oleh Cina maupun Amerika.”

“Mendela mengalami penderitaan dan tidak membuat penderitaan itu menjadi alasan untuk membalas. Duapuluh tujuh tahun dalam penjara, tapi dia tidak membalas. Itu luar biasa. Musuhnya diampuni dan Aftika Selatan terbang.”

Baca Juga :  Gerhana Bulan Sabtu Dini Hari Berlangsung Selama 103 Menit

“Dan saya suka dia punya quote: ‘I’m the master of my fate, I’m the captain of my soul’.”  [saya adalah tuan dari nasib saya, saya adalah kapten dari jiwa saya, red]

Pemimpin yang Legitimate

Kini, anggota DPR RI ini maju lagi sebagai calon gubernur NTT periode 2018 – 2023. Bagi Viktor, tugas yang menanti seorang gubernur NTT adalah bagaimana membuat NTT maju secara ekonomi dan pada saat yang sama membangkitkan harga diri orang NTT.

“Kemampuan seorang kepala daerah, khususnya gubernur NTT bukan hanya me-manage dan mengarahkan seluruh potensi daerah tapi dia juga harus mempunyai jaringan nasional maupun internasional yang luas,” jelas Viktor.

“Itu akan membuat dia cepat bergerak menyelesaikan urusan-urusan di daerah. Karena khusus untuk NTT kita hidup 95 persen itu dari pusat. Jadi kalau kita bisa menyelesaikan urusan internal kita maka akan mengurangi beban pusat.”

Bagi Viktor, kepemimpinan itu bukan soal jabatan atau posisi. Kriteria pertama seorang pemimpin adalah legitimasi atau pengakuan. ”Pemimpin yang benar adalah pemimpin yang legitimate yaitu pemimpin yang diakui entah ada atau tidak ada jabatan, selalu melayani,” jelasnya. “Yang sering terjadi, ada jabatan tapi tidak legitimate. Bahaya ini. Banyak orang dipilih karena janji mau bikin ini dan itu”.

“Jangan hanya menunjukkan peduli sama orang kalau lagi maju. Harus asli, dari dulu sudah seperti itu. Kalau lihat orang susah, ya urus. Bukan kalau mau maju aja,” jelasnya.

Kriteria kedua dari seorang pemimpin, menurut Viktor, adalah visi. “Visi saya adalah bagaimana membangkitkan masyarakat NTT dari tidur panjang. Delapan puluh persen orang NTT begitu selesai sekolah mau jadi PNS. Karena itu banyak sarjana yang nganggur sepanjang masa. Atau menjadi tenaga honorer sepanjang hidup. Ini yang kita mau ajak bangkit. Bangkit dari masalah yang membuat dia tidak pernah lihat dunia lain selain PNS.”

“Tidak baik orang cuma punya satu pilihan. Kita musti punya beberapa pilihan sehingga kemampuan kita diuji. Mengapa pilihan itu tidak ada? Karena pemimpin tak mampu menciptakan lapangan pekerjaan.”

Karena itu, menurutnya, lapangan pekerjaan harus dibuka atas dasar kekuatan sumber daya daerah. Salah satu sumber daya daerah yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang besar adalah industri garam. Industri ini harus dikerjakan secara massive untuk memenuhi 4.2 juta metrik ton yang diimpor oleh Indonesia. “Kita harus kerja 1.5 juta metrik ton baru bisa. Kalau kita bisa mampu suplai itu, maka sedikit-sedikitnya 15 ribu tenaga kerja terserap.”

Baca Juga :  BPJS Kota Kupang Buka Pendaftaran JKN dan KIS

Menurut Viktor, garam industri menjadi pilihan yang tepat bagi NTT karena pasokan garam dalam negeri dikuasai oleh mafia. “Karena industri garam besar sudah dikerjakan di Tiongkok, India, Australia, mereka tinggal suplai dan pemerintah bayar. Itu dikendalikan oleh mafia,” jelasnya.

“Siapapun yang jadi gubernur, dia harus lebih giat daripada para mafia. Dia harus mampu bicara dengan Presiden, stop impor garam! Ini ndak mungkin kalau pemimpin tidak punya keberanian. Ini tidak bisa menyelematkan orang.”

“Ada orang berani tapi bodoh. Hanya nekad. Mati semua. Ada juga yang pintar, berani tapi rakus. Ini hancur. Kerjanya maling terus. Apa saja diambil.”

“Orang seperti itu tidak bisa bangun NTT. You bangun NTT kalau rakus ndak bisa. You bangun NTT tapi tidak ada kecerdasan tak bisa. You bangun NTT tapi tidak ada keberanian tak bisa. Ini daerah, daerah susah, you musti berani untuk melawan dengan pusat. Bikin ini, bikin itu, kalau tidak saya tabrak.

Selain bicara soal industri garam, manajemen pariwisata yang modern dan profesional, ia juga bicara soal sejumlah kesempatan di depan mata yang harus ditangkap NTT antara lain bagaimana menangkap peluang menyediakan logistik blok Masela yang bernilai satu milyar US Dollar serta rencana pemindahan Observatorium Lembang yang bernilai Rp 40 trilyun ke wilayah sekitar gunung Timau.

“Ini kerja untuk masa depan. Sebuah masa depan itu harus kita rebut. Tidak bisa duduk dan melihat masa depan saja, harus direbut! Jadi langkah pertama kita rebut dulu kekuasaan. Kekuasaan ini bukan kita pakai untuk senang. Kita butuh pemimpin dengan leadership yang kuat. Percuma jadi pemimpin kalau semuanya cuma janji. Analoginya, yang kita siapkan adalah sebuah kapal induk NTT. Karena kapal induk maka nahkodanya harus berani dan berdiri tegak di sana punya kemampuan.”

Bagi Viktor, kepulangannya ke NTT adalah sebuah bakti. “Saya baktikan apa yang telah saya dapatkan selama ini ke NTT. Fokusnya kepada bagaimana melayani. Kalau saya jadi gubernur maka saya akan menggunakan seluruh potensi dalam diri saya agar semua itu bisa membawa NTT sejahtera.”

Bakti itu ia jalani dengan sadar dan siap akan kosekwensinya. “Saya datang mencoba mengambil kekuasaan dan memanage kekuasaan itu menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat NTT. Tapi kalau rakyat dan Tuhan berkehendak lain, ya tidak ada masalah dan saya tetap berkarya untuk NTT. Minimal [upaya saya] sudah termaafkan. Saya telah berusaha untuk meyakinkan bahwa inilah jalan keluar kita,” katanya enteng.  (*)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda