Home / Humaniora / Siapa Viktor Laiskodat? (3)

Siapa Viktor Laiskodat? (3)

Viktor Laiskodat
Viktor Laiskodat

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh: Matheos Viktor Messakh

 

Selepas Jeruji Besi

Keberuntungan memang selalu selalu berada di pihak mereka yang berani. Perlahan tapi pasti, ia melebarkan sayap jaringan usaha hingga mendapat posisi tinggi di sejumlah perusahaan.

Perusahaan-perusahaan dimana ia menjadi tukang tagih, menghitung jasa tagihan Viktor dalam bentuk saham.

“Waktu itu lagi trend perusahaan memberi hutang bahkan ada yang sampai trilyunan rupiah,” jelas Viktor. Maka jadilah ia pemegang saham di sejumlah perusahaan. “Ini mungkin untuk pertama kalinya seorang preman melakukan hal ini,” akunya.

Setelah menyelesaikan pendidikan hukum di tahun 2000 ia mendirikan kantor pengacara sendiri. Selain menjadi komisaris di berbagai perusahaan, Viktor juga mendirikan sejumlah yayasan nirlaba, yang semuanya digunakan untuk menyalurkan berkat yang diperolehnya.

Keberhasilan yang diraih dalam tempo yang relatif singkat itu, membawa banyak isu tak sedap, terutama kedekatannya dengan pengusaha Tomy Winata. “Orang gak percaya maka mereka bangun isu bahwa saya menikahi anak Tomy Winata. Mana ada? Orang kalau kawin sama anak bos atau saudaranya bos, dia malah gak akan laku,” jelas suami dari Juliet Sutrisno ini.

Kedekatannya dengan pihak militerpun tak luput dari gunjingan. Tapi Viktor punya penjelasan tersendiri.  “Memang hidup saya itu di situ. Kami Artha Graha itu memang dibangun oleh tentara. Basic awal bisnis itu dari tentara. Pak Tomy [Tomy Winata] dekat tentara ya otomatis jaringan saya menuju ke situ,” jelasnya.

Baca Juga :  12 Siswa Miskin Ditolak Masuk SMA 9 Kupang

“Rata-rata properti kami itu dulu dipakai oleh kelompok-kelompok tertentu untuk bisnis perjudian. Itu properti dan bukan kami yang menjalankan. Kenapa itu dilakukan? Karena negara membutuhkan untuk operasional di Aceh. Bukan karena kami yang mau cari uang. Tak satu sen pun masuk ke kantong kami.

Di saat Reformasi, tidak seperti di jaman pak Harto dimana ada standby anggaran, maka salah satu pilihan pemerintah itu adalah perjudian. Jadi judi dibuka di Jakarta itu bukan untuk kepentingan ekonomi siapa-siapa tapi untuk kepentingan operasional Jakarta untuk Aceh waktu itu,” jelasnya.

Bagi Viktor, hubungannya dengan dua orang penting dalam hidupnya, Tomy Winata (TW) dan Surya Paloh, bukanlah hubungan kerja, melainkan hubungan guru dan murid.

“Mereka idola saya. Karakter mereka tegas, jujur, ngomong apa adanya. Dan mereka tidak pernah give up dalam setiap kegagalan hidup. TW pernah bangkrut dua kali tapi bangkit lagi. Surya Paloh berkali-kali gagal. Tapi malah mereka bangkit dan makin bertumbuh,” jelasnya.

Sebagai pemberani, seorang Viktor dapat saja jatuh, tapi ia tak gampang menyerah. Dua kali bangkrut di tahun 2000 dan 2005 namun ia bangkit kembali.

Ia juga tahu benar arti peribahasa ‘siapa yang menyembunyikan masa lalu tak akan mempunyai masa depan.’ Karena itu Viktor tak pernah menyembunyikan cerita hidupnya. “Itu hidup saya, saya utuh dalam hidup saya dan karakter saya di situ. Karena itu orang pernah minta untuk hilangin data saya di Google dan sebagainya saya gak mau. Itu sejarah hidup saya, tidak boleh hilang. Hitam putih, itu saya. Anak cucu saya harus ngerti, macam apa kakeknya.”

Baca Juga :  Artis Cantik AS Ditangkap, Diduga Usai Melayani Tamu

Keberanian dan keteguhan Viktor diwarisi dari sang ayah. Darah politik mengalir dari sang ayah yang adalah seorang ketua PDI di jaman Orde Baru. “Bapa itu manusia setia terhadap profesinya. Dia itu mau kampanye hanya lima orang, dia pidato mati pung. Saya hidup di situ, dan memahami politik itu di PDI. Dari Parkindo lalu PDI,” kenangnya.

Langkahnya ke kursi gubernur bukanlah langkah yang pertama. Viktor selalu kembali. Ia pernah dicalonkan oleh partai Golkar menjadi Gubernur NTT periode 2003-2008, namun kalah satu suara dari Piet A. Tallo. “Dulu itu saya gak merasa sebagai sebuah kegagalan. Itu bukan bad loser. Itu good loser. Dan saya melawan seorang yang luar biasa,” akunya.

Pasca kekalahan dari Piet Tallo, ia memutuskan masuk Golkar atas dorongan Ruben Funay dan Ibrahim A. Medah. Ia langsung dicalonkan menjadi anggota DPR RI dan terpilih untuk periode 2004-2009. (bersambung..)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda