Home / Humaniora / Sekolah Alam Manusak Tanamkan Nilai Karakter pada Anak

Sekolah Alam Manusak Tanamkan Nilai Karakter pada Anak

Foto: Yahya Ado
Foto: Yahya Ado

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Masa Orientasi Sekolah (MOS) di Sekolah Alam Manusak, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah usia. Kegiatan ini diwarnai dengan gerakan menanam anakan pohon dan bibit sayuran di lingkungan sekolah.

Aksi menanam ini sebagai simbol menanamkan cita-cita anak sejak dini. Ini merupakan bagian dari penerapkan karakter cinta lingkungan kepada anak-anak usia dini.

Lima belas anak baru yang memulai belajar di tingkat Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) melakukan pekan perkenalan dan orientasi sekolah yang diadakan sejak 15 Juli sampai 19 Juli 2019. Orang tua/wali terlihat antusias mengantar anak ke sekolah dengan konsep alam ini. Konsep belajar yang berbeda dan unik ini membuat anak-anak sangat betah. Anak belajar dari wahana yang disiapkan secara alamiah dengan bahan-bahan lepasan atau sampah di sekitar mereka.

Yahya Ado, inisiator dan pendiri sekolah alam menjelaskan, konsep belajar dengan alam merupakan upaya mendekatkan anak dengan alam yang menghidupi mereka. Pendidikan semacam ini sangatlah penting, agar anak dibiasakan tumbuh dari akar kehidupan dan budaya-budaya mereka sejak lahir. Sekaligus sebagai wujud syukur anak pada alam kehidupan ini. Dengan demikian, tumbuhlah rasa cinta mereka untuk melindungan alam.

Baca Juga :  Hasil Penelitian, Mesin Pengering Tangan Sumber Penyakit

“Kami menerapkan konsep belajar dengan pendekatan alam. Kami mulai tahun ajaran 2019/2020 ini di PAUD dengan lebih menekankan pada tumbuhnya karakter positif pada anak. Anak-anak belajar dari apa yang ada di sekitar mereka. Dari alam dan bahan lepasan (looseparts). Hal ini tentu akan menumbuhkan minat dan kepedulian anak terhadap lingkungan dan kehidupan mereka sendiri,” jelas Yahya.

Sekolah Alam Manusak menerapkan kurikulum pembelajaran 2013 dengan pendekatan alam. Pendekan ini berupaya untuk menumbuhkan kecerdasan anak secara optimal. Proses stimulasi ini akan mengajak anak menemukan ilmu pengetahuan sendiri di alam. Baik itu terkait aspek nilai dan moral, kognitif, sosial-emosional, motorik halus dan kasar, bahasa, dan juga seni.

“Selain peningkatan enam aspek perkembangan tersebut, pembelajaran yang didesign dengan konsep sentra dengan media loose parts ini, akan memfasilitasi anak untuk lebih memahami konsep STEAM (science, technology, engineering, art, and match),” tambah Yahya.

Baca Juga :  Langka, Orang Alor Tangkap Ikan Pakai SMS

Hendriani Banik, perwakilan orang tua wali menyatakan sangat senang melihat anak-anak gembira dan ceria di sekolah. Anak-anak terlihat betah sekali di sekolah. Bahkan ada yang tidak ingin pulang ke rumah.

“Saya melihat anak-anak begitu semangat. Biasanya awal sekolah banyak anak yang enggan melepas orang tua mereka, karena ada interaksi dengan teman baru dan orang-orang baru. Tetapi di sekolah alam, hampir semua anak bisa mandiri dan betah. Ini bagi kami sebagai orang tua merasa tidak khawatir atas proses belajar dan bermain di sekolah ini,” tutur Banik.

Kegiatan orientasi dilakukan selama satu minggu difasilirasi oleh dua orang guru Priskila Seubelan dan Delilla Leowalu, didampingi oleh seorang guru senior Pdt. Yetty Fangidae. Puncak orientasi dilaksanakan pada Jum’at 19 Juli 2019 dengan melakukan outbound bersama di sekolah tersebut. Agenda ini dilakukan untuk membiasakan anak-anak bekerjasama dengan teman-teman mereka di sekolah. Hal ini penting untuk lebih meningkatkan daya kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif anak sejak dini sebagai modal anak menghadapi revolusi pendidikan 4.0. (*)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda