Home / Lingkungan / Sekitar 300 Ha Lahan Migrasi Komodo Terbakar

Sekitar 300 Ha Lahan Migrasi Komodo Terbakar

Ilustrasi: Labuan Bajo/Foto: Gamaliel Amalo
Ilustrasi: Labuan Bajo/Foto: Gamaliel Amalo

Bagikan Halaman ini

Share Button

Labuan Bajo–Sekitar 300 hektare lahan gambut di Taman Nasional (TNK) Komodo dilaporkan hangus terbakar sejak Sabtu (30/6) sampai Senin (2/7).

Wilayah yang terbakar itu terletak di Dusun Menjaga, Desa Macan Tanggar, Kecamatan Komodo, arah selatan Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo. Lokasi itu merupakan lahan migrasi komodo, dan dikenal sebagai cagar alam Wae Wuul.

Menurut penuturan Armin Sukarno, 47, penduduk Dusun Menjaga, api bermula dari bibir pantai di daratan Menjaga yang kemudian menjalar dengan cepat.

“Awal api itu muncul sejak Sabtu 30 Juni dari bibir pantai. Kemudian menjalar di semak-semak kering hingga ke puncak Gunung Golo Mori dan sangat luas,” papar Armin.

Baca Juga :  Satgas Montara Harus Ambil Alih Pencemaran Laut Timor

Api diduga akibat ulah nelayan. Akan tetapi, hingga kini belum ada yang mengaku bertangung jawab.

Di lahan gambut tersebut, kata Armin, terdapat beragam hewan liar seperti kerbau, rusa, kuda, termasuk puluhan ekor komodo yang kerap bermigrasi dari Pulau Rinca yang juga masuk kawasan Taman Nasional Komodo.

Wae Wuul bersebelahan dengan Pulau Rinca dan hanya dibatasi laut dengan daratan Flores. Jarak tempunya hanya beberapa ratus meter.

“Kadang hewan-hewan bermigrasi berjarak 10 menit waktu tempuh. Selatnya agak dangkal memudahkan bermigrasi. Sayangnya lahan hunian Mereka abis dimakan api,” tutur Armin.

Armin menyebutkan meski ribuan hektare lahan tersebut milik BKSDA, warga di Dusun Menjaga telah menjual tanah lebih dari puluhan hektare ke tangan investor asal Jakarta maupun asing.

Baca Juga :  DKP NTT-WWF Sosialisasi RAN dan Pengelolaan Hiu

“Lihat di lokasi meski ada papan nama milik BKSDA, ada dipasang pilar milik warga, pertanda tanah itu telah di miliki orang,” ucap Armin.

Sajudin, tokoh masyarakat Menjaga mengaku tanah tersebut dijual oleh warga berdasarkan kesepakatan warga dengan tokoh adat baik Tu’a Gol (pemangku adat tanah). Ada sebagian lagi dijual oleh para calo tanpa diketahui warga setempat.

Hingga berita ini di

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda