Home / Nasional / Sambut Imlek, Anggota Keluarga Lay Berdoa di Kelenteng

Sambut Imlek, Anggota Keluarga Lay Berdoa di Kelenteng

Keturunan ke-25 Keluarga Lay di Kelenteng Lay, Minggu, 7 Februari 2016. Foto: Gamaliel.
Keturunan ke-25 Keluarga Lay di Kelenteng Lay, Minggu, 7 Februari 2016. Foto: Gamaliel.

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Menyambut datangnya Imlek 2567, puluhan anggota keluarga Lay di Kupang, Nusa Tenggara Timur menggelar doa bersama di Kelenteng, Minggu (7/2).

Doa bersama digelar sebanyak dua kali yakni pada Minggu pagi, dan tengah malam.

“Doa bersama ini untuk menjalankan tradisi leluhur. Tradisi tidak bisa hilang begitu saja walaupun seluruh keturunan Tionghoa di Kupang sudah memeluk agama Kristen,” kata Feri Ngahu, menantu keluarga Lay kepada wartawan.

Kelenteng Lay terletak di Kelurahan Lai-Lai Bisi Kopan (LLBK) Kupang merupakan satu-satunya kelenteng yang masih ada di NTT. Pada 2016, kelenteng ini telah berusia 151 tahun.

Perayaan usia 150 tahun digelar pada 2015 dan dihadiri keturunan keluarga Lay dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Baca Juga :  Gubernur Lantik Direktur RS WZ Johannes dan Kepala Biro Ekonomi

Feri mengatakan bangunan tersebut sudah populer di mana-mana dengan nama Kelenteng Lay. Padahal sebutan yang tepat ialah Rumah Abu Kelurga Lay’ atau tempat berkumpulnya keluarga Lay (Kongsi Siang Lay).

Rumah abu ialah tempat menyimpan abu leluhur keluarga Lay. Namun abu yang disimpan di situ bukan abu pembakaran jenasah, melainkan abu dupa atau hio yang dimasukan ke rumah abu melalui prosesi.

Kandati tidak lagi menyandang nama Kelenteng, keturunan Tingkok yang datang dari daerah lain ke Kupang, sering mampir ke sana untuk berdoa bagi keselamatan leluhur mereka. “Di sini terbuka, siapa saja warga Tionghoa boleh datang untuk berdoa, tetapi bangunan ini lebih tepat disebut rumah abu,” kata Dia.

Baca Juga :  Helikopter Basarnas Angkut 9 Orang

Keturunan keluarga Lay yang datang berdoa di sana sudah berlangsung dari generasi ke generasi. Saat ini telah memasuki generasi ke-26.

Mereka datang dengan membawa persembahan makanan dan wewangian untuk diberikan kepada pemilik kehidupan, dan leluhur yang berpulang ratusan tahun lalu. “Doa yang dipanjatkan ialah harapan-harapan di tahun baru dan keselamatan,” ujarnya.

Feri mengatakan doa yang dipanjatkan kepada pemilik kehidupan tidak berbeda jauh seperti doa-doa yang dipanjatkan pada pergantian tahun baru pada 31 Desember. “Kalau di Imlek, kita sembahyang pergantian tahun dari tahun Kambing ke tahun Monyet,” ujarnya. (gma)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda