Home / Nasional / Saluran Irigasi Senilai Rp44 Juta di Rote Selatan Diduga Bermasalah

Saluran Irigasi Senilai Rp44 Juta di Rote Selatan Diduga Bermasalah

Bagikan Halaman ini

Share Button
Sekretaris Komisi C DPRD Rote Ndao, Helmy J Tolla/Foto: Jon Henuk

Sekretaris Komisi C DPRD Rote Ndao, Helmy J Tolla/Foto: Jon Henuk

Rote–Lintasntt.com: Pembangunan saluran irigasi di Dusun Baubafan, Desa Oematamboli, Kecamatan Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao diduga sarat masalah.

Sesuai temuan Komisi A dan Komisi C DPRD Rote Ndao, saluran irigasi sepanjang 300 meter tersebut ternyata dibangun di atas pematang sawah, tidak ada galian, dan tidak didukung oleh gambar. Temuan tersebut membuat anggota dewan meragukan kualitas proyek irigasi yang didanai dana desa tesebut.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Komisi C DPRD Rote Ndao, Helmy J Tolla kepada wartawan, Senin (19/10). Menurut Helmy, perkembangan pembangunan irigasi sampai saat ini mencapai 60-70 persen.

Selain itu, para wakil rakyat tersebut curiga lantaran masyarakat setempat mengaku tidak tahu pembangunan irigasi itu. Padahal dana pembangunannya berasal dari dana desa yang dikelola oleh perangkat desa. “Kita tidak tahu ada perencanaan pembangunan saluran irigasi. Masyarakat baru tahu setelah ada pekerjaan di lapangan,” kata Helmy meniru ucapan masyarakat.

Baca Juga :  Waspadai Angin Kencang dan Gelombang Tinggi di NTT

Ia menyebutkan total dana desa yang dikelola Desa Oematamboli tahun 2015 berjumlah Rp287 juta lebih. Dana sebesar itu diperuntukan bagi tiga item pekerjaan yakni pembangunan saluran irigasi, embung dan MCK. Namun embung dan MCK belum dibangun. “Pekerja yang mengerjakan embung dan MCK masih mengerjakan saluran irigasi,” ujarnya.

Temuan tersebut membuat anggota dewan kecewa. Mereka menduga pengelolaan dana desa di Oematamboli tidak bertanggungjawab.
“Kami sangat kecewa dengan perbuatan oknum kepala desa yang terkesan tidak bertanggungjawab dalam mengelola dana APBD dan dana desa yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Oematamboli,” kata Dia.

Nanti, jika pembangunan saluran irigasi tersebut tidak mendatangkan manfaat kepada masyarakat, Helmy minta pengelolaan seluruh dana desa maupun ADD di Rote ditangnai oleh tenaga teknis. Dengan tenaga teknis, rencana kegiatan dilakukan secara matang sehingga di kemudian hari tidak berdampak hukum.  “Jika tidak, dana-dana tersebut hilang dan raup di kantong oknum kepala desa dan kontraktor yang nakal, “jelasnya.

Baca Juga :  Kapal Nelayan Tenggelam di Kupang

Pekerjaan Melewati Volume

Valen Messakh, seorang kontraktor di Rote yang diduga melaksanakan pembangunan saluran irigasi tersebut, dalam sebuah wawancara sebelumna mengatakan pembangunan saluran irigasi tersebut melewati volume pekerjaan yang ditentukan.

“Kalau ada pihak tertentu yang mengatakan pekerjaan saluran irigasi tersebut asal jadi maka itu tidak benar,” ujarnya. Ia mengatakan pekerjaan saluran irigasi itu tidak hanya menggunakan petunjuk teknis, dan melalui tender, sehingga dalam pelaksaannya hanya menggunakan sketsa.

Menurut Valen, proyek ini dibangun di saluran irigasi lama yang dibangun warga yakni di pematang sawah sehingga tidak butuh pekerjaan galian. “Jika saluran irigasi tersebut dibangun sejajar dengan saluran yang lama atau di bagian bawah, air tidak dapat mengalir,” kata Dia. (hk)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda