Home / Hukum / Salestinus: Fredrich Yunadi Ditenggarai Punya Peran Dalam ‘Kejatuhan’ Novanto

Salestinus: Fredrich Yunadi Ditenggarai Punya Peran Dalam ‘Kejatuhan’ Novanto

Petrus Salestinus
Petrus Salestinus

Bagikan Halaman ini

Share Button

Jakarta–Koordinator Perhimpunan Advokat Pendukung KPK/PAP-KPK Petrius Salestinus menengarai adanya peran besar penasehat hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi dalam mempercepat ‘kejatuhan’ Ketua DPR tersebut.

Setya Novanto dijemput paksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 16 November 2017. “Bahkan ada yang dengan bahasa yang lebih tegas menyatakan manuver Fredrich Yunadi telah menjerumuskan Setya Novanto, meskipun dikemas dengan selimut demi membela klien,” kata Petrus di Jakarta, Minggu (19/11).

Meski begitu, sejumlah manuver dan argumentasi yang sering kontroversi itu, justru berkontribusi melahirkan antipati publik terhadap Setya Novanto hingga melahirkan perkara baru berupa Laporan Masyarakat tentang upaya merintangi Penyidikan KPK yang dimotori oleh Fredrich Yunadi dkk.

Ini memang sangat tidak menguntungkan bukan saja bagi Partai Golkar dan Setya Novanto, akan tetapi juga bagi Fredrich Yunadi sendiri sebagai Advokat dan Kuasa Hukum Setya Novanto.

Banyak pihak marah, tidak kurang dari Wapres Jusuf Kalla harus meminta agar Fredrich Yunadi berhenti omong karena omongannya menyesatkan bahkan Jusuf Kalla sampai mempertanyakan “hukum dari langit mana lagi yang dipakai Fredrich Yunadi yang menyebutkan untuk memeriksa majikannya, KPK butuh izin Presiden.

Baca Juga :  Pulang Dari Dili, Sopir Ekspedisi Tewas Ditembak

Ada sejumlah pernyataan Fredrich Yunadi yang kontroversi yaitu soal perlunya izin Presiden untuk periksa Setya Novanto, soal Imunitas DPR, soal tunggu putusan MK baru penuhi panggilan KPK, Laporan Polisi terhadap Pimpinan KPK dengan alasan membuat surat palsu dalam perpanjangan cekal dan Laporan Polsisi ke Barsekrim soal Penerbitan Sprindik baru sebagai Tindak Pidana.

Manuver terbaru dan menjadi antiklimaks dari semua manuver Setya Novanto yaitu menghindar dari upaya penjemputan paksa KPK dan berakhir dengan kecelakaan tabrakan yang menyebabkan Setya Novanto mengalami cidera ringan, harus diopname hingga akhirnya benar-benar menjadi tahanan KPK.

Meskipun Setya Novanto sedang berbaring lemas di Rumah Sakit, namun drama untuk membebaskan Setya Novanto melalui langkah-langkah yang tidak populer dan politicking masih akan berlanjut, karena karakter dan kualitas Advokat seperti Fredrich Yunadi inilah yang oleh Setya Novanto dirasakan lebih cocok, apalagi dianggap berhasil memperdaya KPK dengan menang Praperadilan dan secara terbuka melarang Setya Novanto memenuhi panggilan KPK.

Baca Juga :  Mantan Wakil Bupati TTS Akui Keluarkan Memo Pencairan Bansos

Karena itu untuk menghentikan manuver yang dikhawatirkan masih akan bermunculan dan hanya bersifat merintangi kerja KPK, maka KPK sebaiknya segera membuka “penyidikan” atas Laporan Masyarakat tentang dugaan tindak pidana merintangi penyidikan KPK dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP yang disangkakan kepada Setya Novanto.

Dalam Laporan itu, “Fredrich Yunadi” merupakan salah satu orang yang diduga kuat sebagai pelaku di dalam upaya merintangi kerja KPK, dengan cara membuat Laporan Polisi ke Bareskrim Polri, melarang Setya Novanto memenuhi panggilan KPK, baik untuk didengar keterangan sebagai Saksi maupunTersangka di KPK dan menggugat pembatalan SK. Perpanjangan cekal ke PTUN, sekalipun dasar hukumnya sangat lemah. (gma)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda