Home / Bisnis / Pupuk Bersubsidi Langka di Kupang

Pupuk Bersubsidi Langka di Kupang

Buruh Menurunkan Pupuk Bersubsidi dari kapal di Pelabuhan Tenau Kupang beberapa waktu lalu. /Foto: Gamaliel
Buruh Menurunkan Pupuk Bersubsidi dari kapal di Pelabuhan Tenau Kupang beberapa waktu lalu. /Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Ratusan petani di Persawahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur mengeluh karena belum memperoleh pupuk bersubsidi, padahal petani setempat telah menamam padi sejak dua pekan terakhir.

“Kami sudah membayar harga pupuk sesuai rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) sejak Desember 2016, tetapi pupuk belum juga dikirim ke petani,” kata Simon Dethan, petani di Persawahan Tarus, Rabu (25/1).

Simon mengaku membutuhkan empat karung pupuk terdiri dari urea, ponska dan petroganik, belum termasuk 145 petani lainnya di persawahan tersebut.

Petani setempat sudah berkali-kali mendatangi pengecer pupuk di persawahan setempat, namun tidak ada solusi. Pihak agen mengaku sudah mengajukan permintaan pupuk ke distributor. “Jadi kita menunggu saja,” kata Dia.

Baca Juga :  Capain PAD Kota Kupang Agustus 2016 Rp103 Miliar

Simon khawatir jika kelangkaan pupuk berlangsung sampai Februari, bakal berdampak terhadap pertumbuhan padi. Petani sangat membutuhkan pupuk dasar untuk memupuk tanaman padi yang rata-rata berusia satu minggu. Seharusnya pupuk tersedia dan cukup sebelum petani menanam.

Menurutnya kelangkaan pupuk pernah terjadi pada musim tanam awal 2014 dan awal 2015 yang berlangsung selama dua bulan. Kelangkaan pupuk di persawahan di perbatasan Kota Kupang dan Kabupaten Kupang itu pernah terjadi pada Juni-Juli 2016.

Ketika itu tanaman padi berubah warna jadi kuning. Kondisi seperti itu bisa berdampak terhadap menurunnya produksi. Hanya dengan pemupukan yang teratur menyuburkan tanaman dan mencegah tanaman padi menguning sebelum berbuah.

Baca Juga :  Harga Cabai di Pasar Kasih Rp50.000/kg

Petani lainnya Efi Herin berharap pemerintah segera mengatasi kelangkaan pupuk di persawahan tersebut sehingga tidak merugikan petani. “Jika pemupukan padi terlambat, dampaknya produksi padi berkurang,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian NTT Yohanis Tay Rubu belum memberikan pernyataan terkait kelangkaan pupuk tersebut. Adapun alokasi pupuk bersubsidi di NTT 2017 sebanyak 48.254 ton, terdiri dari urea 21.300 ton, SP-36 5.054 ton, ZA 2.920 ton, NPK 13.600 ton, dan organik 5.380 ton. Penyaluran pupuk bersubsidi di NTT dilakukan oleh PT Pupuk Petrokimia dan PT Pupuk Kaltim. (sumber: media indonesia/palce amalo)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda