Home / Bisnis / Produksi Daging Ayam di NTT baru 40% dari Kebutuhan

Produksi Daging Ayam di NTT baru 40% dari Kebutuhan

Desiminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) NTT dan Sosialisasi Surat Utang Negara (SUN Ritel seri SBR006) di Kupang, Selasa (9/4). Foto: lintasntt.com
Desiminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) NTT dan Sosialisasi Surat Utang Negara (SUN Ritel seri SBR006) di Kupang, Selasa (9/4). Foto: lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Produksi daging ayam ras di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini baru mencapai 40% dari kebutuhan masyarakat setempat. Bahkan, produksi telur masih di bawah 1% sehingga dua bahan kebutuhan pokok tersebut harus didatangkan dari luar daerah.

Hal tersebut disampaikan Manager Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi, Bank Indonesia Perwakilan NTT dalam acara Desiminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) NTT dan Sosialisasi Surat Utang Negara (SUN Ritel seri SBR006) di Kupang, Selasa (9/4/2019).

“Belum adanya industri pakan ternak merupakan salah satu faktor penyebab utama tingginya harga daging ayam ras di NTT, karena biaya operasional pakan yang cukup tinggi,” kata Andrey.

Selain itu, pemasok DOC daging ayam ras yang masih cenderung monopoli juga menjadi salah satu alasan harga yang didapatkan oleh para peternak tidak cukup murah.

Baca Juga :  Wings Air Resmi Buka Rute Kupang-Lombok

Menurut Andrey, disparitas harga daigng ayam di Kota Kupang dan harga ayam di Jawa Timur sebagai daerah pemasok ayam ras dan telur ke Kupang, cukup tinggi. Harga daging aam di Kupang sebesar Rp64.350 per kilogram (kg0 beda dengan harga daging ayam di Jawa Timur Rp32.900 per kg, atau selisih sebesar Rp30.000 per kg.

Kondisi tersebut membuat daging ayam sebagai satu dari 10 penyumbang inflasi terbesar di NTT. Sesuai catatan Bank Indonesia Perwakilan NTT, pada 2018 terjadi empat kali inflasi yang salah satunya disumbang dari daging ayam yakni pada Mei, Juni, Juli, dan Desember.

“Pengaruh perubahan harganya cukup signifikan terhadap inflasi keseluruhan di provinsi NTT, terutama pada bulan dilaksanakannya hari raya keagamaan yakni Juni dan Desember 2018,” ujarnya.

Pedagang Ayam di Pasar Kasih, Naikotan 1 Kupang.Foto: Gamaliel

Pedagang Ayam di Pasar Kasih, Naikotan 1 Kupang.Foto: Gamaliel

Menurut Andrey, pemerintah daerah telah menempuh sejumlah langkah jangka pendek dan jangka panjang untuk mengatasi persoalan tersebut.

Baca Juga :  Setiap Kabupaten Harus Punya 3 Komoditas Unggulan

Langah-langkah itu ialah pemanfaatan kapal tol laut untuk mengangkut pakan ternak, sebagai upaya untuk dapat menurunkan harga pakan ternak terutama pada peternak mandiri, melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam ras beku sebagai substitusi dan kandungannya juga masih sama dengan daging ayam ras segar, dan mengusulkan pembentukan tim percepatan industri pangan dan breeding farm.

Sedangkan solusi jangka menengah dan panjang yang akan ditempuh ialah melakukan kajian/feasibility study terkait pembangunan industri pakan dan breeding farm serta menjajaki dan mengundang investor industri pakan dan breeding farm. (mi)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda