Home / Bisnis / Potensi Besar, NTT Undang Investor Tambak Garam

Potensi Besar, NTT Undang Investor Tambak Garam

Dirut PT Garam Achmad Boediono (kanan). Foto: Lintasntt.com
Dirut PT Garam Achmad Boediono (kanan). Foto: Lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Dinas Perindustrian Nusa Tenggara Timur (NTT) mengundang investor menanamkan modalnya untuk pengembangan potensi tambak garam di daerah itu yang mencapai ratusan ribu hektare.

Potensi tambak garam di NTT tersebar di 15 dari 23 kabupaten dan kota. Sekretaris Dinas Perindustrian NTT Johnny Pandie mengatakan pengembangan industri garam mengikuti arah dan kebijakan nasional untuk mendukung swasembada garam.

“Standar industri garam untuk mendukung swasembada garam 20.000 hektare, potensi di NTT mencapai 60.000 hektare,” kata Johnny Pandie seperti dikutip Media Indonesia di Kupang, Kamis (10/8).

Dia menyebutkan potensi yang besar tersebut belum dikelola maksimal. Sampai Agustus 2017, luas tambak garam baru mencapai 343,6 ha tersebar di tujuh kabupaten dengan produksi per tahun mencapai 7,883,52 ton. Tujuh kabupaten ialah Kupang, Ende, Timor Tengah Utara, Alor, Sumba Timur, Manggarai, dan Nagekeo.

Baca Juga :  Hasil Sensus Ekonomi, NTT Miliki 436,421 Unit Usaha

Untuk kebutuhan garam industri, pengembangan potensi garam diserahkan kepada investor. Saat ini baru dua investor yang menngembangkan potensi garam yakni PT Garam yagn beroperasi di Desa Bipolo, Kabupaten Kupang dengan nilai investasi awal Rp4,5 miliar dari target Rp10 miliar, dan PT Chetam Garam Flores yang membangun tambak garam seluas 56 hektare di Kabupaten Nagekeo.

Namun perusahaan tersebut belum beroperasi lantaran izin usahanya dicabut. “Izin usaha dicabut akrena perusahaan tidak mampu memenuhi target waktu izin dan pengukuran lahan yang belum tuntas,” ujarnya.

Adapun Dinas Perindustrian NTT mendorong warga untuk mengembangkan garam rakyat dengan teknologi geomembran. Lokasi pengembangan garam rakyat terdapat di sembilan kabupaten masing-masing seluas 0,5 hektare. “Kami melatih kelompok masyarakat untuk mengolah garam mentah menjadi garam beryodium, minimal untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Dia

Baca Juga :  PLN NTT Beli Listrik Tenaga Surya di Atambua dan Ende

Pengembangan garam dengan teknologi geomembran antara lain di Kupang, Rote Ndao, Alor, Sikka, dan Lembata. Sedangkan di Kabupaten Sabu Raijua pengembangan garam dengan tekonologi geomembaran sudah mencapai 200 ha. (sumber: media indonesia/palce)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda