Home / Lingkungan / Polisi Tangkap Penjual Cangkang Penyu dari Lembata

Polisi Tangkap Penjual Cangkang Penyu dari Lembata

Ilustrasi Penyu yang DIsita BBKSDA NTT dari Nelayan di Kupang beberapa waktu lalu. Foto?Gamaliel
Ilustrasi Penyu yang DIsita BBKSDA NTT dari Nelayan di Kupang beberapa waktu lalu. Foto?Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) menangkap NB, 31 tahun, pelaku penjualan cangkang penyu sisik pada Kamis, 3 Maret 2016.

Kabid Humas Polda NTT Ajun Komisaris Besar (AKB) Jules Abraham Abast mengatakan NB ditangkap saat turun dari mobil di halaman Hotel Amaris, Jalan Bundaran PU, Kota Kupang.

Polisi menerima laporan yang menyebutkan NB membawa 25 paket cangkang penyu sisik dari Lembata menuju Kupang menggunakan Kapal Motor Ile Boleng.

Tiba di Pelabuhan Bolok Kupang, NB naik mobil menuju Hotel Amaris untuk menginap. Ia langsung ditangkap begitu turun dari mobil di depan hotel tersebut. “NB ditangkap di parkiran hotel Amaris,” ujarnya kepada lintasntt.com.

Baca Juga :  Menteri Susi Khawatir Kerusakan Ekosistem Laut Labuan Bajo

Dari tangan NB, polisi menyita barang bukti cangkang penyu sisik. Karena tertangkap tangan, NB yang seharusnya menginap di hotel tersebut, dibawa ke sel Polda NTT untuk ditahan. “Kami menduga Cangkang penyu sisik itu dibeli dari masyarakat,” katanya.

Kepada polisi, pelaku mengaku akan memasarkan cangkang penyu tersebut di Surabaya, Jawa Timur. Jika tidak tertangkap, ia diduga akan naik pesawat dari bandara El Tari Kupang ke Surabaya atau mengirim cangkang penyu tersebut menggunakan kapal laut.

Menurut Jules, NB mengaku baru pertama kali menjual cangkang penyu dan harganya berkisar 8-10 juta tergantung ukuran, bobot, dan kualitas.

cangkang penyu sisik biasa digunakan sebagai aksesoris perempuan, dan dijadikan bahan ramuan obat tradisional China, dan ramuan obat penambah stamina.

Baca Juga :  Terumbu Karang Indonesia Mampu Bertahan Terhadap El Nino

Pelaku penjualan cangkang penyu melanggar Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. (gma)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda