Home / Humaniora / PKK NTT Bentuk Desa Model Pengendalian Malaria

PKK NTT Bentuk Desa Model Pengendalian Malaria

Foto: lintasntt.com
Foto: lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

 

Kupang–Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Nusa Tenggara Timur turut membantu pemerintah daerah dalam kegiatan pengendalian malaria di seluruh kabupaten dan kota.

Wakil Ketua PKK NTT Maria Fransisca Djogo mengatakan seluruh kader PPK siap dikerahkan untuk memerangi malaria, antara lain memberikan edukasi kepada masyarakat untuk membersihkan lingkungan dan cara-cara hidup sehat dan bersih.

“Ke depan kita buat desa model untuk pengendalian malaria. Di sana juga dipantau ibu hamil, saat memeriksakan kehamilan di puskesmas juga diperiksa malarianya,” katanya dalam kegiatan Pembentukan Konsorsium Percepatan Eliminasi Malaria se-Daratan Sumba di Tambolaka, Jumat (25/5/2019).

Menurutnya kebersihan lingkungan serta asupan gizi yang memadai untuk ibu hamil dan anak-anak, sangat penting untuk mencegah serangan penyakit termasuk malaria.

Selain itu, ualitas guru PAUD juga ditingkatkan agar mereka memiliki pengetahuan yang cukup untuk membantu merubah minset masyarakat seperti cuci tangan sebelum makan, dan kebiasaan hidup sehat lainnya. “Kebiasaan ini harus dimulai dari ibu hamil, balita dan anak-anak,” ujarnya.

Baca Juga :  Ingin Buktikan Keaslian, Pedagang di Kupang Bakar Bensin

Kader PKK di daerah itu diingatkan membantu memberikan pengawasan kepada masyarakat agar tidur di dalam kelambu yang sudah dibagkan Kementerian Kesehatan. Kader PKK juga harus mampu memberikan edukasi untuk merubah kebiasaan sebagian warga tidak tidur di dalam kelambu.

Masyaraka beralasan tidak bebas atau sulit bernapas jika tidur mengunkaan kelambu. Kebiasaan itu harus ditinggalkan sebagai bagian dari upaya penanggulangan malaria. “Kader PKK juga harus intensifkan pengawasan agar masyarakat mau tidur menggunakan kelambu,” katanya.

Dia menyebutkan rumah adat masyarakat Sumba yang memberikan ruang kepada ternak di bawah rumah panggung, dan manusia tidur di lantai bagian atas juga menyumbang angka kesakitan malaria.

“Kita bikin satu gerakan kebersihan kampung karena kampung yang harus kita prioritaskan pola hidup bersih dan sehat,” kata istri wakil gubernur NTT tersebut.

Baca Juga :  WorldVentures Foundation dan Happy Hearts Indonesia Rekonstruksi 100 Sekolah di Sumba

Pada kesempatan tersebut, Asisten I Setda NTT Jamaludin Ahmad menyoroti persoalan perkawinan
yang menyebabkan anak yang dilahirkan menderita stunting.

Wakil Ketua PKK NTT Maria Fransisca Djogo bersama Kepala Dinas Kesehatan NTT dokter Dominggus Mere. Foto: Lintasntt.com

Wakil Ketua PKK NTT Maria Fransisca Djogo bersama Kepala Dinas Kesehatan NTT dokter Dominggus Mere. Foto: Lintasntt.com

Menurutnya generasi muda mesti diberikan wawasan baru untuk tidak memilih jodoh dari dalam kampung atau di darahnya. “Pilih jodoh harus lintas daerah karena perkawinan dalam daerah yang sama menyebabkan anak yang lahir stunting,’ ujarnya.

Kegiatan pembentukan konsorsium Malaria se-daratan Sumba tersebut dihadiri Kasubdit Malaria Kementerian Kesehatan (Kemkes), dokter Nancy Dian Anggraeni, Kadis Kesehatan NTT dokter Dominggus Minggu Mere, bupati dan kepala dinas kesehatan empat kabupaten di Sumba, dan Dokter Maria Endang Sumiwi dan Dr Ermi Ndoen dari Unicef Indonesia.

Hadir pula Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Sumba Timur Rambu Kahiyani Mbilijora, Ketua TP PKK Sumba Barat Meity HW Dapawole-Monteiro, Ketua TP PKK Sumba Barat Daya Ratu Wulla Talu, dan Wakil Ketua TP PKK Sumba Tengah, Adriana Buli. (mi/gma)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda