Home / Lingkungan / Petani Rumput Laut NTT Menang di Pengadilan Australia NTT

Petani Rumput Laut NTT Menang di Pengadilan Australia NTT

Ferdi Tanoni (kanan) saat Jumpa Pers Seusai Diterimanya Gugatan Nelayan Indonesia di Pengadilan Sidney, Australia
Ferdi Tanoni (kanan) saat Jumpa Pers Seusai Diterimanya Gugatan Nelayan Indonesia di Pengadilan Sidney, Australia

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Pengadilan Federal Australia di Sydney yang dipimpin Hakim tunggal Griffiths J dalam amar putusanya Selasa (24/1) memenangkan gugatan Daniel Aristabulus Sanda untuk berhak mewakili seluruh petani rumput melawan di Nusa Tenggara Timur melawan PTTEP Australasia.

Pada Oktober 2016 perusahaan pencemar Laut Timor PTTEP Australasia itu menolak gugatan Daniel Astabulus Sanda dan mengajukan keberatan kepada Pengadilan Federal Australia untuk mengugurkan gugatan itu dengan alasan bahwa Daniel Astabulus Sanda tidak berhak untuk mewakili dan mengatasnamakan seluruh petani rumput laut di NTT.

Ketua Tim Advokasi Korban Petaka Tumpahan Minyak Montara di Laut Timor Ferdi Tanoni yang juga adalah Ketua Peduli Timor Barat (YPTB) menyampaikan kepada wartawan di Kupang, Kamis (26/1).

Ferdi Tanoni menjelaskan dalam amar putusannya setebal 22 halaman di bawah file nomor 1245 of 2016, hakim Griffiths J. setelah mempertimbangkan keberatan yang diajukan oleh PTTEP Australasia serta memperhatikan berbagai bukti yang diajukan pengacara Daniel Astabulus Sanda, Dia memutuskan menolak seluruh keberatan yang diajukan oleh PTTEP Australasia

Baca Juga :  Dua Tim Daftar Lomba Tangkap Buaya di Kupang

Penolakan ini mendasari Peraturan Mahkamah Agung Northern Territory yang mengakui hak perwakilan bahwa terdapat banyak orang yang mempunyai kepentingan yang sama dalam satu penyebab atau masalah, satu atau lebih dari orang-orang tersebut dapat menggugat atau digugat, atau dapat diizinkan oleh pengadilan atau hakim untuk mempertanyakan, penyebab atau hal tersebut atas nama atau untuk kepentingan semua orang yang berkepentingan.

Menanggapi putusan Pengadilan Federal Australia tersebut, peraih Civil Justice Award Australian Lawyers Alliance pada 2013 ini mengatakan kemenangan petani rumput laut di Pengadilan Federal Australia kemarin itu merupakan sebuah kemenangan awal yang sangat menjanjikan bahwa kebenaran akan terungkap di Pengadilan Federal Australia demi keadilan bagi puluhan ribu rakyat korban di NTT.

Lebih lanjut Tanoni mengatakan bahwa putusan pengadilan yang memenangkan petani rumput laut tersebut merupakan hal teknis yang sangat penting untuk menjamin kelanjutan perkara ini.

Baca Juga :  Menteri Susi Khawatir Kerusakan Ekosistem Laut Labuan Bajo

Seperti diberitakan sekitar 13.000 petani rumput laut di Nusa Tenggara Timur mengajukan class action di Pengadilan Federal Sydney, Australia, Rabu (3/8/2016) terkait tumpahan minyak dari anjungan minyak Montara yang mengakibatkan mata pencaharian mereka hancur.

Class action itu diajukan oleh petani rumput laut Indonesia Daniel Sanda yang mewakili dirinya dan para petani rumput laut lainnya terhadap perusahaan yang mengoperasikan ladang minyak Montara, PTTEP Australasia anak perusahaan PTTEP asal Thailand.

Insiden tumpahan minyak itu terjadi pada 21 Agustus 2009 setelah terjadi ledakan besar. Setelah itu, selama lebih dari 74 hari, minyak dan gas bercampur zat timah hitam dan bubuk kimia sangat beracun dispersant telah mengotori dan meracuni Laut Timor dan Laut Sawu, perairan Indonesia. Diperkirakan sebanyak 500 ribu hingga 2 juta liter minyak per hari mengotori lautan. Kebocoran itu akhirnya berhasil ditutup pada 3 November 2009. (siaran pers YPTB)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda