Home / Lingkungan / Pendekatan RIL-C Mampu Kurangi Emisi Lebih Dari 50%

Pendekatan RIL-C Mampu Kurangi Emisi Lebih Dari 50%

emisi/Kabar24
emisi/Kabar24

Bagikan Halaman ini

Share Button

Penerapan RIL-C oleh HPH di seluruh Indonesia dapat berkontribusi dalam pencapaian target penurunan emisi pemerintah Indonesia dengan biaya yang lebih murah (cost-effective) dibandingkan dengan cara penurunan emisi lain

Jakarta–Audit SCS Global Services pada Februari-Maret 2018 menunjukkan metodologi Reduced Impact Logging-Carbon (RIL-C) yang dikembangkanThe Nature Conservancy (TNC) terbukti mampu mengurangi emisi hingga 20,075 tCO2 atau lebih dari 50% dibandingkan dengan praktik yang biasa dilakukan oleh perusahaan pemegang konsesi.

Dilakukan pada lahan konsesi PT Narkata Rimba di Wahau, Kalimantan Timur, seluas lebih dari 500 hektar, audit ini menunjukkan bahwa metodologi RIL-C terbukti secara ilmiah mampu mengurangi emisi secara signifikan dari praktik penebangan yang dilakukan oleh konsesi hutan alam produksi (HPH).

“Berkat dukungan mitra, termasuk TNC, kami telah berhasil menerapkan metodologi RIL-C sebagai salah satu kunci utama untuk pengelolaan hutan alam secara lestari,” ungkap Direktur PT. Narkata Rimba Andreas Nugroho Adi lewat siaran pers, Selasa (17/4).

Manajer Senior untuk Hutan Produksi TNC Indonesia Ruslandi menambahkan hasil audit independen ini menunjukkan RIL-C sebagai sebuah metodologi yang handal dan transparan untuk pengurangan emisi.

Hasil audit ini bahkan menunjukkan bahwa metodologi RIL-C mampu mengurangi emisi hingga 20% lebih banyak dari studi kami sebelumnya. Dengan luas hutan produksi yang mencapai sekitar 60% dari total luas hutan, kami yakin jika RIL-C diterapkan oleh HPH di seluruh Indonesia, RIL-C dapat berkontribusi dalam pencapaian target penurunan emisi pemerintah Indonesia dengan biaya yang lebih murah (cost-effective) dibandingkan dengan cara penurunan emisi yang lain.

Baca Juga :  Gunung Egon Keluarkan Gas Beracun sampai Radius 3 Kilometer

Penerapan pembalakan berdampak rendah atau biasa disebut Reduced Impact Logging (RIL) merupakan salah satu kriteria utama dalam pemenuhan standar Pengelolaan Hutan Produksi Lestari. RIL mulai dikembangkan pada awal tahun 1990an dan saat ini sudah banyak pemegang konsesi hutan alam produksi yang menerapkan praktik ini.

Sejak 2009, The Nature Conservancy (TNC) meneruskan pengembangkan metodologi ini untuk secara spesifik ditargetkan mampu mengurangi emisi dari kegiatan pembalakan dan menghitung pengurangan emisi yang diperoleh dari mempraktikkan metodologi pembalakan ramah lingkungan dan rendah karbon atau yang lebih dikenal dengan istilah RIL-C.

Dalam mengembangkan metodologi ini, TNC melakukan penelitian ilmiah yang intensif di 9 HPH di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Dari penelitian ini, ditemukan bahwa praktik pembalakan konvensional menghasilkan emisi rata-rata 51,1 ton C/ha (1,5 ton C/m3 kayu panen), sementara pembalakan dengan menggunakan metodologi RIL-C dapat mengurangi emisi yang dihasilkan hingga 40%. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional, Global Change Biology.

Baca Juga :  Rumah Warga Kolbano Rusak Diterjang Rob

Lebih lanjut, metodologi RIL-C beserta modul performanya juga telah terdaftar dalam standar internasional yang kredibel, the Verified Carbon Standard (VCS), sehingga metodologi ini dapat dipakai secara global.

“Saat ini di Indonesia ada sekitar 270 HPH yang mengelola sekitar 20 juta hektar hutan produksi. Dari data ini, diperkirakan 270.000 hektar hutan produksi dipanen tiap tahun. Apabila 50% konsesi tersebut mengadopsi pendekatan RIL-C, maka sektor hutan produksi dapat berkontribusi secara nyata terhadap target pengurangan emisi di Indonesia, yakni kurang lebih 10 juta ton CO2 per tahun,” kata Country Director TNC Indonesia Rizal Algamar.

Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Berau Barat Hamzh mengungkapkan dukungannya terhadap metodologi RIL-C.

“Kami berharap pada waktunya RIL-C dapat menjadi kebijakan mandatory dari Pemerintah Indonesia dengan memberikan penghargaan yang terukur bagi pemegang izin yang melaksanakannya. Ke depannya, kami juga berharap kapasitas KPH dapat ditingkatkan sehingga mampu mengimplementasikan RIL-C pada wilayah-wilayah yang dikelolanya,” ujarnya. (gma)

Tags : # # #

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda