Home / Lingkungan / Pencemaran Laut Timor Ubah Arus Migrasi Ikan

Pencemaran Laut Timor Ubah Arus Migrasi Ikan

Ledakan Ladang Minyak dan Gas Montara 21 Agustus 2009/Foto: YPTB
Ledakan Ladang Minyak dan Gas Montara 21 Agustus 2009/Foto: YPTB

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Pencemaran Laut Timor akibat ledakan anjungan minyak Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor pada Agustus 2009, telah mengubah arus migrasi ikan dari Australia menuju Laut Timor dan Laut Sawu.

“Pencemaran hebat akibat muntahan minyak mentah dari anjungan Montara yang menjadi penyebab utama berkurangnya ikan di perairan Laut Timor,” kata Pemerhati Laut Ferdi Tanoni kepada wartawan di Kupang, Senin (13/6).

Ferdi mengatakan itu sekaligus menanggapi keluhan nelayan kepada Menteri Kelauatan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Kupang, Minggu (12/6) terkait pemasangan rumpon raksasa di perairan Laut Timor yang diduga kuat penghambat migrasi ikan.

Dalam sesi dialog bersama Menteri Susi di Pelabuhan Perikanan Tenau tersebut nelayan mengemukakan kesulitan mereka mendapatkan ikan dalam jumlah besar akibat pemasangan rumpon yang dilakukan kapal nelayan dari luar NTT.

Rumpon-rumpon raksasa itu juga ditebarkan kapal ‘Porse Sine’ berukuran besar asal Bali sehingga menyulitkan nelayan lokal mendapatkan ikan.”Ikan-ikan tersebut sudah terperangkap masuk dalam jaring rumpon,” ujarnya.

Menteri KKP Susi Pudjiastuti kemudian janji akan menemgelamkan rumpon-rumpon tersebut. Pasalnya di Indonesia belum ada izin pemasangan rumpon.

Tanoni yang juga Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) yang tengah memperjuangkan kasus pencemaran Laut Timor di Pengadilan Australia itu mengatakan, berdasarkan hasil penelitian para ahli perikanan dan kelautan dari Amerika Serikat dan Australia, pencemaran minyak di Laut Timor itu telah merubah arus migrasi ikan dari Australia ke wilayah perairan Laut Timor.

Baca Juga :  Kota Kupang-Kabupaten Kupang Kerjasama Atasi Krisis Air

“Banyak fakta membuktikan bahwa pencemaran Laut Timor mengakibatkan migrasi ikan dari Australia berubah, seperti kasus matinya puluhan ikan paus dan ikan lumba lumba yang terdampar di Pulau Sabu dan Lembata beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Selain membawa dampak terhadap perubahan migrasi ikan, kata dia, kasus pencemaran tersebut juga telah menghancurkan usaha budidaya rumput laut yang dilakukan para petani nelayan di Nusa Tenggara Timur, terutama di wilayah pesisir Pulau Rote, selatan Pulau Timor dan Sumba serta beberapa daerah lain di NTT.

Ferdi minta pemerintah memperhatikan puluhan ribu masyarakat pesisir pembudi daya tanaman rumput laut di NTT yang sejak terjadinya pencemaran Laut Timor pada 2009, menderita kerugian yang sangat signifikan akibat menurunnya hasil panen rumput laut hingga mencapai 85 persen.

“Jika saat ini sebagian wilayah perairan pantai sudah mulai berkembang budidaya rumput laut, mutu rumput laut pun sudah jelek, karena wilayah perairan budidaya sudah terkontaminasi dengan minyak,” katanya menambahkan

Selain itu, munculnya fenomena aneh dengan banyaknya buaya di wilayah perairan pantai Kabupaten Kupang yang telah membunuh sejumlah warga lokal, sebagai sebuah indikasi bahwa habitat mereka sudah tercemar.

Menurut pakar perikanan Australia, fenomena tersebut perlu dilakukan sebuah penelitian ilmiah, karena kemungkinan buaya-buaya ini sudah sulit mendapatkan makanan di dalam laut sehingga terpaksa muncul di wilayah perairan pantai yang kemudian memangsa penduduk lokal.

Baca Juga :  Satpol PP Gusur 7 Rumah di Pinggir Kali Liliba

Mengutip hasil penelitian dari WWF Australia, Tanoni mengatakan wilayah pencemeran minyak yang terjadi di selatan Pulau Rote yang merupakan pusat migrasi ikan dari Australia menuju Laut Timor, telah hancur sehingga memicu terjadinya perubahan migrasi ikan.

“Mungkin juga pemasangan rumpon di Laut Timor ikut menghambat migrasi ikan, tetapi rasanya tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan kasus meledaknya anjungan minyak Montara di Laut Timor pada 21 Agustus 2009,” ujarnya.

Ia menambahkan di selatan Pulau Rote, berdasarkan hasil penelitian para ahli dari Amerika Serikat, muntahan minyak mentah bercampur zat kimia serta dispersant beracun itu mencapai sekitar 10.000-20.000 barel per hari selama 74 hari. (1 barel setara159 liter).

“Pemasangan rumpon, serta pencurian ikan di Laut Timor dengan menggunakan pukat raksasa (trawl) sudah lama berlangsung, namun tidak merubah migrasi ikan di perairan NTT secara signifikan,” katanya.

Tanoni meminta Menteri KKP lebih aktif bersama menyelesaikan kasus pencemaran minyak Montara ini dimana Kementerian ESDM diduga kuat masih melindungi berbagai kepentingan aktivitas dari perusahaan pencemar minyak di Laut Timor tersebut, PTT Exploration and Production yang juga beroperasi di Indonesia.

“Jika kita semua sepakat untuk menjaga kelestarian wilayah laut kita, seharusnya Menteri ESDM sudah membekukan dan menyita seluruh aset PTT Exploration and Production di Indonesia dan menyerahkannya kepada rakyat NTT yang menjadi korban dari pencemaran Laut Timor,” katanya. (sumber: media indonesia/palce amalo)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda