Home / Humaniora / Penanganan Gizi Buruk di Sikka dan Kupang Jadi Percontohan

Penanganan Gizi Buruk di Sikka dan Kupang Jadi Percontohan

Gizi Buruk/Foto: Lagizi
Gizi Buruk/Foto: Lagizi

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Direktur Gizi Kementerian Kesehatan Doddy Iswardy mengatakan model penanganan gizi buruk di Nusa Tenggara Timur (NTT) dijadikan percontohan di daerah lain dengan nama ‘Program Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat (PGBM)’.

Program ini mengunakan ukuran Lila untuk memperoleh gambaran mengenai keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit balita. Pita Lila terdiri dari warna merah, kuning, dan hijau. Program ini kerjasama dengan Unicef.

“Jika hasil pengukuran menunjukkan warna merah dan kuning, balita harus segera dibawa ke puskemas dan pustu untuk mendapat perawatan,” kata Doddy Iswardy di sela-sela Acara Program Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat di Indonesia-Peta Menuju Perluasan di Kupang, Jumat (20/4).

Pita Lila juga mudah dibawa ke mana-mana, tidak hanya petugas kesehatan tetapi juga masyarakat untuk mengukur sendiri status gizi anak balita mereka. Model ini praktis karena masyarakat tidak perlu menunggu sampai satu bulan untuk menimbang anak balita di posyandu. “Di sinilah ada perubahan perilaku dan edukasi untuk masyarakat,” ujarnya.

Menurut Dia, anak yang hasil pengukuran gizinya terletak di warna merah dan kuning, segera membawa anak mereka ke puskesmas untuk dilakukan penanganan. Anak-anak yang sangat kurus disertai komplikasi medis akan menjalani rawat inap, dan anak-anak sangat kurus tidak disertai komplikasi, akan menjalani rawat jalan.

Baca Juga :  Pendeta Merry Kolimon Pimpin GMIT

Selain itu mereka juga mendapat konseling pemberian makanan bayi dan anak untuk meningkatkan kualitas pemberian makanan tambahan.

Model ini berbeda dengan penanganan gizi buruk yang dilakukan selama ini yakni community feeding center (pos pemulihan gizi) dan therapeutic feeding centre ((pusat pemulihan gizi). “Kalau di posyandu timbang anak sebulan sekali, kalau pakai ukuran Lila kan praktis dan bisa bawa-bawa,” ujarnya.

Dia mengatakan model tersebut pertama kali diterapkan di Kabupaten Sikka antara 2011-2014 dan berhasil menurunkan angka balita kurus dan sangat kurus (gizi buruk).

Provinsi NTT dan lima provinsi lainnya mendapat prioritas pertama penanganan balita kurus dengan model ini karena prevalensi balita kurus di daerah-daerah tersebut sudah masuk kategori ‘kritis’ atau lebih dari 15%. Sedangkan prevalensi balita kurus yang masuk kategori ‘serius’ terdapat di 24 provinsi, antara 10-14%, dan kategori buruk di empat provinsi antara 5-9%.

Dari fase ‘kritis’ di Sikka, pada 2017 prevalensi balita kurus di kabupaten itu sudah turun sampai 7,4% dan balita sangat kurus turun sampai 1,3%. Saat ini Kementerian Kesehatan memperluas penerapan model penangan anak gizi buruk ke Kabupaten Kupang periode 2015-2018.

Baca Juga :  Romantis, Nanang Lamar Kekasihnya saat Gerhana Matahari

Menurut Doddy, sampai akhir 2017, terdapat 719 balita gizi buruk di Kabupaten Kupang. “Setelah memanfaatkan pendekatan PGBM, rata-rata tingkat kesembuhan mencapai 78%, drop out 11%, dan meninggal 1%,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka dokter Maria Bernadina mengatakan program pemulihan gizi di daerah itu dilakukan di lima puskesmas yaitu Magepanda, Wolomarang, Beru, Waigete, dan Watubaing.

Kegiatan yang dilakukan tidak hanya deteksi dan mengobati balita kurus dan sangat kurus, tetapi juga meliputi peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader seperti pelatihan konseling pemberian makan bayi dan anak (PMBA) bagi bidan dan tenaga gizi
.

Kegiatan lain ialah supervisi suportif bagi tenaga kesehatan dan konselor PMBA dalam bentuk pelatihan PGBM bagi tenaga kesehatan, integrasi program kesehatan ibu dan anak, gizi, imunisasi dan malari, serta pelatihan konseling PMBA bagi kader posyandu.

“Kegiatan ini masih berjalan karena setelah program ini selesai 2014, dilanjutkan dengan anggaran pendapatan belanja daerah dan dana desa,” ujarnya. (sumber: mi/palce amalo)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda