Home / Nasional / Pemerintah Didesak Batalkan Penawaran Blok Natuna ke PTTEP

Pemerintah Didesak Batalkan Penawaran Blok Natuna ke PTTEP

Ledakan Ladang Minyak dan Gas Montara 21 Agustus 2009/Foto: YPTB
Ledakan Ladang Minyak dan Gas Montara 21 Agustus 2009/Foto: YPTB

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Plt.Menteri ESDM Luhut Binsar Pandajitan didesak membatalkan penawaran Blok Migas Natuna kepada perusahaan PTT EP.

Bahkan seharusnya seluruh aset dan ijin operasi dari korporasi milik Pemerintah Thailand ini yang ada di Indonesia dibekukan sementara guna mempertanggungjawabkan kejahatan korporasi ini yang dilakukan di Laut Timor pada tahun 2009.

Demikian disampaikan Juru Bicara Tim Advokasi Skandal Laut Timor (TASLAMOR) Herman Jaya kepada wartawan di Kupang menanggapi pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan kepada media di Jakarta bahwa Pemerintah
RI telah memberikan penawaran kepada PTT EP guna mengelola blok Migas di Natuna.

Pelaksana Tugas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Panjaitan mengaku telah menawarkan menawarkan blok migas perairan Natuna kepada PTT Exploration and Production Pcl (PTTEP), perusahaan migas yang berbasis di Thailand, dan Inpex Corporation, perusahaan migas Jepang.

Tawaran kerja sama keduanya dilakukan dalam kesempatan yang berbeda. “Jadi, waktu itu PTT datang, kami tawarkan. Ketika kami ke Jepang, kami tawarkan juga blok-blok migas tersebut ke Inpex. Mereka bilang mereka tertarik,” tutur Luhut, Selasa (11/10).

Menurut Herman Jaya, PTT Exploration and Production Pcl (PTTEP),ini adalah induk perusahaan dari pada PTTEP Australasia Pty.Ltd yang bertanggung jawab penuh terhadap kejahatan tumpahan minyak Montara 2009 di Laut Timor yang telah mengakibatkan lebih dari 100 ribu masyarakat miskin di pesisir NTT menderita hingga saat ini karena kehilangan mata pencaharian mereka yakni para petani rumput laut dan nelayan.

Baca Juga :  Menteri Jonan Diminta Singkirkan PTTEP dari Indonesia

Belum lagi diperkirakan lebih 60.000 ha terumbu karang di kawasan laut Timor dan laut Sawu hancur hancur dan diduga akibat dari petaka tumpahan minyak Montara 2009 tersebut,tambah Herman.

Korporasi ini dikenal sangat ceroboh dan lari dari tanggung jawab nya,pada tahun 2013 terjadi petaka tumpahan minyak mentah di Thailand di Provinsi Rayong yang dilakukan oleh anak perusahaan nya PTT Global Chemistry.

Namun,hingga saat ini tidak jelas pertanggung jawaban nya terhadap kerugian sosial ekonomi masyarakat disana dan kerusakan lingkungan yang terjadi,” jelas Herman.

Korporasi seperti ini seharus nya di black list di Negara ini. Kenapa Pak Luhut tidak mau menawarkan blok migas natuna kepada perusahaan perusahaan nasional?. Akan jauh lebih menguntungkan bila blok migas Natuta ditawarkan dan diserahkan kepada perusahaan nasional baik itu BUMN maupun swasta murni.

Baca Juga :  Korban Pencemaran Laut Timor Desak DPR Gelar RDP

Ironis

Secara terpisah Ketua YPTB,Ferdi Tanoni mengatakan,PTTEP sedang menghadapi gugatan 13.000 rakyat NTT dalam Class Action di Pengadilan Federal Australia.

Selain itu,mantan agen imigrasi Australia ini mengatakan bahwa sangatlah ironis dimana di satu pihak Pak Luhut selaku Menko Kemaritiman,membawahi Tim Nasional Penyelesaian Sengketa Tumpahan Minyak Montara 2009 di Laut Timor yang juga sedang mempersiapkan sebuah gugatan pidana dan perdata terhadap PTT Exploration and Production Pcl (PTTEP)

Sementara di satu sisi selaku Plt.Menteri ESDM, korporasi ini seolah diberikan kepercayaan. “Saya sangat percaya,Pak Luhut selalu dan pasti mengedepankan kepentingan nasional diatas segala kepentingan lain nya,dan keputusan memberikan penawaran kepada PTTEP di Blok Natuna tersebut diduga telah dimanipulasi oleh para staf di Kementerian ESDM dan SKK Migas,” kata Tanoni.

“Saya yakin bahwa bila Pak Luhut telah mengetahu bahwa PTTEP adalah sebuah perusahaan yang melakukan kejahatan di Laut Timor dan telah pula membunuh ratusan ribu mata pencaharian rakyat miskin,pasti beliau tidak teken surat penawaran itu. Saya juga yakin bahwa setiap saat penawaran ke PTTEP tersbut bisa dibatalkan oleh Pak Luhut,” demikian Ferdi Tanoni (Yudi)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda