Home / Bisnis / Panen Berkurang, Harga Gabah dan Beras di NTT Naik

Panen Berkurang, Harga Gabah dan Beras di NTT Naik

Foto: Lintasntt.com
Foto: Lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Harga gabah dan beras di tingkat petani Nusa Tenggara Timur naik selama periode Juli-Agustus 2018.

Penaikan harga dua komoditas itu disebabkan banyak faktor, antara lain kemarau panjang yang berdampak terhadap berkurangya hasil panen. Petani kemudian memilih menahan gabah dan beras yang membuat harga melonjak.

“Harga gabah dan beras naik bisa akibat kemarau,” kata Kepala Badan Pusat Statitisk (BPS) Nusa Tenggara Timur (NTT) Maritje Pattiwaelapia seusai rilis perkembangan indeks harga konsumen Agustus 2018 di Kupang, Senin (2/9).

Sesuai data BPS NTT, harga gabah selama Agustus sebesar Rp4.850 per kilogram (kg) naik dari posisi Juli sebesar Rp4.800 per kg atau naik sebesar 0,69%. Sedangkan di penggilingan harga gabah pada Agustus sebesar Rp4.950 per kg, naik sebesar 3,15% jika di bandingkan Juli sebesar Rp4.900 per kg.

Baca Juga :  Volume Air Bendungan Sutami di Mbay Menyusut Drastis

Selain itu harga tiga jenis beras juga sama-sama naik. Beras premium pada Agustus dijual sebesar Rp10.000 per kg atau naik Rp2,95% jika dibandingkan dengan harga beras premium pada Juli sebesar Rp9.550 per kg.

Begitu juga beras medium meng penaikan sebesar 2,53% dari harga Rp9.350 per kg pada Juli menjadi Rp9.600 per kg pada Agustus.

Tingginya harga beras di tingkat petani membuat serapan Badan Logistik (Bulog) Divre NTT merosot. Sampai Agustus 2018 beras yang diserap Bulog baru mencapai 1.456 ton atau 32,36% dari target 4.500 ton selama 2018. Harga beras sebesar itu jauh di atas harga harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp7.300 per kg.

Baca Juga :  Ratusan Hektare Tanah HGU PT PGGS Diserahkan ke Warga

Selain itu, nilai tukar petani (NTP) subsektor padi dan palawaji Agustus 2018 juga menurun sebesar 0,11%, berbeda dengan NTP subsektor perikanan, pertanian, perkebunan rakyat dan hortikultura justru naik. “Terjadi peningkatan NTP Agustus 2018 sebesar 0,81 persen jika dibandingkan dengan NTP Juli 2018,” ujarnya.

Sementara itu, selama Agustus, NTT mengalami deflasi sebesar 0,45% dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 132,15. Deflasi terjadi karena adanya penurunan IHK pada empat kelompok pengeluaran yakni bahan makanan, perumahan, sandang, dan makanan jadi. Kelompok bahan makanan misalnya mengalami mengalami penurunan indeks terbesar yakni 2,56%. Sedangkan tiga kelompok lainnya mengalami kenaikan indeks harga.

“Kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami kenaikan indeks tertinggi sebesar 1,39%,” ujarnya. (gma)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda