Home / Nasional / Pakar: NTT Berpotensi Jadi Gurun Pasir

Pakar: NTT Berpotensi Jadi Gurun Pasir

Bagikan Halaman ini

Share Button

 Kupang—Lintasntt.com: Sebagian wilayah di timur Indonesia terutama Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi mengalami pengguruan akibat pembangunan yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan.

Pengguruan juga bisa dipicu frekuensi kejadian bencana dan iklim ekstrim semakin meningkat, emisi karbon, curah hujan minim, dan ekploitasi tambang. ”

Direktur Eksekutif Center For Climate Risk and Opportunity Management in Southeast Asia and Pacific (CCROM-SEAP) Institut Pertanian Bogor (IPB) Rizaldi Boer mengatakan itu Pelatihan Jurnalis Peruhanan Iklim serta Dampaknya dalam Pembanguanan dan bagi Masyarakat Pedesaan di Kupang, Senin (5/5).

Kecenderungan peningkatan cuaca ekstrim dampak dari meningkatnya kandungan air di atmosfir selama kurun waktu 30 tahun terakhir. Selain itu, kenaikan suhu meningkatkan evaporasi yang membawa dampak kekeringan ekstrim terhadap wilayah di selatan dan timur Indonesia.

Baca Juga :  Dua Anak Jadi Korban Letusan Rokatenda

Ia mengatakan proses pengguruan sudah terlihat, yaitu curah hujan yang terus berkurang, padahal evaporasi terus meningkat. “Semakin besar perbedaan itu, maka wilayah itu semakin kering, dan jika semakin kering ada kemungkinan bisa menjadi gurun,” ujarnya.

Penelitian tentang tren perubahan hujan di NTT menyebutkan, selama periode 1960-2006, menunjukkan kecenderungan peningkatan curah hujan di musim hujan, namun di beberapa daerah menunjukkan tren menurun. Di NTT rata-rata curah hujan mencapai 200 milimeter (mm) tergolong tinggi dan 50 mm, namun hujan lebat turun dalam waktu singkat dan mengakibaktan banjir.

Hujan lebat berlangsung singkat, dan air yang melimpah terus mengalir ke laut. Hal ii terjadi karena jumlah bendungan minim untuk menampung air hujan.

Rizaldi melakukan penelitian di Kabupaten Manggarai yang merupakan salah satu daerah basah di NTT selama 1994-2013. Untuk curah hujan, menunjukkan peningkatan dalam kurun waktu tersebut. Misalnya pada 1994, curah hujan mencapai 3.000 mm, namun sampai 2013 sudah mencapai 4.000 mm. Sebaliknya, pada kemarau, pada 1994, curah hujan kurang dari 400 mm, dan terus berkurang sampai di bawah 200 mm.

Baca Juga :  ASDP Tetap Operasikan Rute Kupang-Alor

Di sisi lain, kejadian bencana selama periode tersebut menunjukkan tren naik-turun. Pada 1994, kejadian bencana di Manggarai lebih dari 10 kali, dan meningkat tajam pada 1998 mencapai 30 kali, namun turun sampai lima kali pada 2004, tetapi meningkat lagi sampai 25 kali pada 2013.

Ia mengatakan kondisi ini membawa dampak serius terhadap pendapatan petani. “Masyarakat mengatasi masalah iklim semakin berat,” ujarnya. (sumber: mediaindoensia/palceamalo)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda