Home / Travel / Orang Alor Masih Pertahankan Tradisi Pakaian Kulit Kayu

Orang Alor Masih Pertahankan Tradisi Pakaian Kulit Kayu

Bagikan Halaman ini

Share Button
Peserta karnaval budaya mengenakan pakaian kulit kayu/Foto: gamaliel

Peserta karnaval budaya mengenakan pakaian kulit kayu/Foto: gamaliel

Kalabahi–Lintasntt.com: Karnaval Budaya Kabupaten Alor yang dipusatkan di Stadion Mini, Kota Kalabahi, Kamis (6/8) petang menarik perhatian puluhan ribu orang.

Mereka berjejer di sisi jalan menuju stadion untuk menyaksikan dari dekat ratusan peserta karnaval yang berasal suku-suku di Alor dan sejumlah suku pendatang seperti Jawa, Bali, Rote, dan Sabu.

Perhatian penonton terutama ditujukan kepada sejumlah peserta asal Desa Kopidil, Kecamatan Alor Barat Laut yang mengenakan busana berbahan kulit kayu. Para pria membawa pedang, serta gong dan tambur yang ditabuh selama perjalanan menuju lapangan.

Mereka berasal dari perkampungan tradisional Mombang yang masih mempertahankan secara turun-temurun. Kepala Desa Kopidil Moses Oungkoil mengatakan pakaian kayu dikenakan oleh nenek moyang mereka sebelum masuknya peradaban moderen.

Baca Juga :  Festival Tenun dan Parade Kuda Jadi Branding Baru Pariwisata NTT

Dari berbagai artikel, pakaian kulit kayu dikenakan sejak zaman Neolitikum atau sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi (SM).

Ketika itu, masyarakat sudah memiliki kemampuan bercocok tanam, mengenakan pakaian dari kulit kayu, perhiasan terbuat dari kulit kerang, dan batu. Tempat tinggal mereka juga sudah menetap (sedenter). “Kami akan tetap pelihara tradisi ini,” ujarnya.

Adapun jenis pohon yang kulitnya dapat dijadikan pakaian, ialah Pohon Ka, sesuai sebutan masyarakat setempat, sehingga pakaian kulit kayu tersebut juga sering disebut Pakaian Ka.

Pakaian Kulit Kayu/Foto:Gamaliel

Pakaian Kulit Kayu/Foto:Gamaliel

Menurutnya, proses pembuatan pakaian jenis ini sederhana, setelah mengeluarkan kulit pohon, kulit yang di bagian luar dipisahkan kemudian dibuang. Sisa kulit bagian bagian dalam dijemur di sinar matahari selama tiga hari berturut-turut.

Baca Juga :  Ayo, Vote Elisabeth di Kontes Putri Pariwisata Indonesia 2015

Sekarang kulit yang sudah mengering tersebut dijahit menjadi busana untuk dikenakan oleh pria dan wanita. Menurutnya, saat ini, pakaian tersebut hanya dikenakan pada upacara adat dan karnaval budaya seperti yang digelar di bersamaan dengan Expo Alor ke-9 tersebut.

Untuk mempertahankan tradisi ini, masyarakat setempat juga tidak boleh menebang Pohon Ka. Pasalnya jika pohon tersebut punah, pakaian kulit kayu pun bisa terancam. “Kami tetap menjaga agar pohon Ka juga tidak boleh punah karena hanya kulit kayu ini yang bisa dijahit menjadi pakaian,” ujarnya. (mi/gamaliel)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda