Home / Travel / Objek Wisata Komodo Indah dan Menyimpan Bahaya

Objek Wisata Komodo Indah dan Menyimpan Bahaya

Bagikan Halaman ini

Share Button

Labuan Bajo–Perairan Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyimpan keindahan yang tiada dua. Namun, keindahan itu ternyata menyimpan bahaya. Seperti diakui dive master Nurdin Rais yang sudah menyelam sejak 1987, perairan Komodo memiliki karakter arus bawah (undercurrent).

“Sampai saat ini saya belum tahu persis karakter (arus bawah) karena berubah-ubah,” jelas pria yang akrab dipanggil Om Nero itu di Labuan Bajo, ibu kota Manggarai Barat, Kamis (5/5/2016).

Ketua Persatuan Dive Master Seluruh Flores itu mengaku sulit menaklukkan arus tersebut. Karena itu, ia memberlakukan aturan ketat bagi penyelam pendatang. Misalnya, harus mengantongi sertifikat menyelam tingkat advanced, mengikuti briefing, menandatangani surat tidak menuntut perusahaan bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mengikuti arahan pemandu lokal, menyelam berpasangan (buddy system), serta sehat jasmani dan rohani.

Speed Boat yang Melayari Labuan Bajo-Komodo/Foto: Gamaliel

Speed Boat yang Melayari Labuan Bajo-Komodo/Foto: Gamaliel

Jika terjadi musibah, mereka harus segera menghubungi tim search and rescue (SAR). Nero masih mengingat kejadian yang dialami Neo Qiu Ping Vera, 18, warga Singapura.

Baca Juga :  Jason Menangi Etape Larantuka-Maumere, Indonesia Poisis Ke 4

Ia menyelam di perairan Gili Lawa, Taman Nasional Komodo, Minggu (24/4) malam, dan ditemukan tak bernyawa Senin (25/4) siang.

Vera datang bersama empat rekannya ke Bali. Di sana mereka bergabung dengan empat orang lagi, termasuk pemandu bernama Putu Sudirtana. Mereka menyewa perahu dan peralatan dari warga di Labuan Bajo, lalu pergi menyelam.

Sesuai dengan keterangan yang ia peroleh, hanya tujuh orang yang menyelam dan telah mengikuti prosedur yang benar, termasuk pemandu lokal bernama Gusti Abu. Ternyata Putu mengalami masalah dan kembali ke perahu tanpa diketahui penyelam lain.

Gerbang di Loh Buaya/Foto: Gamaliel

Gerbang di Loh Buaya/Foto: Gamaliel

Selama 10 tahun terakhir, sudah 10 penyelam tewas. Kondisi itu, lanjut Nero, menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Mereka seharusnya menyiapkan fasilitas pendukung.

Baca Juga :  Gunung Batutara di Lembata Meletus Setiap 20 Detik

“Jangan hanya berpromosi tanpa menyiapkan fasilitas memadai,” ujarnya.

Selain itu, sejak Sail Komodo 2013, bermunculan usaha dive ilegal. Mereka hanya bermodal komunikasi yang baik dengan tamu dari berbagai daerah dan perusahaan tur di Jakarta dan Bali. Padahal risiko kehilangan nyawa, jika menyelam tanpa prosedur, sangat besar.

Pengawasan terhadap operator tur dan penyediaan fasilitas keamanan seharusnya seiring dengan peningkatan promosi pariwisata. Para turis pun seba-iknya mengikuti arahan pemandu sehingga tidak ada lagi korban saat berwisata. (sumber: media indonesia/palce amalo)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda