Home / Bisnis / Nusa Tenggara Timur Surplus 44.170 Ton Beras

Nusa Tenggara Timur Surplus 44.170 Ton Beras

Buruh Membongkar Beras di Gudang Beras Milik Bulog DIvre NTT di Kelurahan Tenau beberapa waktu lalu. Mulai Senin (16/4) Bulog NTT kembali Operasi Pasar Beras: Foto: Lintasntt.com
Buruh Membongkar Beras di Gudang Beras Milik Bulog DIvre NTT di Kelurahan Tenau beberapa waktu lalu. Mulai Senin (16/4) Bulog NTT kembali Operasi Pasar Beras: Foto: Lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/10) mengeluarkan data produksi beras selama 2017 berjumlah 613.295 ton,

Produksi beras sebesar itu jauh di atas total konsumsi beras tahun yang sama sebanyak 569.125 ton.

“Secara agregat pada 2017, terdapat surplus beras di Nusa Tenggara Timur sebesar 44,170 ton,” kata Kepala Seksi Bidang Statistik Produksi, BPS Nusa Tenggara Timur, Made Suartana dalam acara Expose Data BPS dan Warkshop Wartawan di Kupang, Selasa.

Namun surplus beras tidak berarti membuat ketergantungan NTT terhadap beras dari daerah lain langsung terhenti. Pasalnya surplus beras hanya terjadi di sejumlah daerah produksi, seperti di Manggarai Barat dan Rote Ndao. “Surplus tapi tidak diikuti dengan pemerataan beras,” ujarnya.

Baca Juga :  Medah dan Deno Kamelus Gagas'Masyarakat Ekonomi NTT

Selain itu, surplus beras hanya berlangsung mulai Januari-Agustus, sedangkan selama September-Desember 2017, warga mengalami kekurangan beras sebanyak 76.324 ton. Menurutnya selama September-Desember, produksi beras mencapai 113.384 ton dan konsumsi mencapai 189.708 ton.

Kepala BPS NTT Maritje Pattiwaellapia selama 10 tahun terakhir, produksi gabah kering giling (GKG) di daerah itu cenderung meningkat. BPS mencatat peningkatan produksi padi seesar 11,59% per tahun.

Dia mencontohkan pada 2017 produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 1.091679 ton, meningkat dari prduksi tahun-tahun sebelumnya. Pada 2016, produksi gabah kering giling mencapai 1.055. 225 ton, dan pada 2015 mencapai 948.088 ton.

Pada workshop wartawan juga dibalas tentang inflasi, kemiskinan, indeks pembangunan manusia (IPM) dan indeks tendensi konsumen (ITK). Pada 2017, IPM NTT tumbuh sebesar 0,95% menjadi 63,73, lebih tinggi dari pertumbuhan 2016 sebesar 0,73% atau 63,13. (gma)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda