Home / Nasional / NTT Kenang Perjalanan Bung Karno Batavia-Ende

NTT Kenang Perjalanan Bung Karno Batavia-Ende

Plakat Burung Garuda Diturunkan dari KRI Teluk Ende di Pelabuhan Bung Karno di Ende, Kamis (31/5). Foto: Lintasntt.com
Plakat Burung Garuda Diturunkan dari KRI Teluk Ende di Pelabuhan Bung Karno di Ende, Kamis (31/5). Foto: Lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Ende–Ratusan perahu nelayan dengan hiasan warna-warni melintas dekat dermaga Pelabuhan Bung Karno di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (31/5) siang.

Ada perahu yang di bagian haluannya dipasang gambar burung garuda, bendera merah putih ukuran kecil, dan teks proklamasi. Setiap melintas, penumpang perahu melambaikan kepada pejabat dan warga yang mengenakan pakaian adat berbagai etnis, berdiri di dermaga.

Perahu-perahu nelayan itu bagian dari prosesi laut ‘Parade Pesona Kebangsaan’ yang digelar Pemerintah Kabupaten Ende dan Dinas Pariwisata NTT untuk mengenang diasingkannya Bung Karno dari Batavia ke Ende pada 1934-1938.

Sedangkan di belakang perahu nelayan, berlayar KRI Teluk Ende yang mengangkut tiga pasangan remaja pemenang kontes wajah mirip Bung Karno dan Ibu Inggit, serta plakat burung garuda. Begitu turun dari kapal, rombongan disambut tarian yang dipentaskan murid sekolah dasar.

Rombongan kemudian berjalan keluar dari pelabuhan untuk bergabung dengan tim prosesi darat yang berasal dari berbagai etnis di Indonesia, serta TNI dan Polri mengelilingi kota Ende. Mereka mampir di sejumlah lokasi bersejarah seperti rumah pengasingan Bung Karno di Kelurahan Kota Raja, makam Ibu Amsi, mertua Bung Karno dan pohon sukun, tempat Bung Karno merenungkan sila-sila pancasila.

Plakat burung garuda yang dibawa dalam arak-arakan tersebut diletakan di dekat pohon sukun bersama bendera merah putih.

Baca Juga :  800 Polisi Ditempatkan di Ring Tiga Pengamanan Presiden

Kepala Dinas Pariwisata NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan pada 1934, di pelabuhan yang sebelumnya bernama pelabuhan Ende itu, Bung Karno dan keluarganya tiba dengan Kapal Jan van Riebeeck.

“Bung Karno dibuang ke Ende oleh Belanda untuk menghindarkan dari tokoh politik lainnya sekaligus memberangus ide-ide politiknya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” kata Marius Ardu Jelamu kepada wartawan di sela-sela prosesi tersebut.

Karena itu pemerintah daerah menggelar biorama perjalanan Bung Karno guna menunjukkan kepada masyarakat Indonesia dan dunia bahwa Ende. Parade Pesona Kebangsaan tersebut merupakan kelima kalinya sejak digelar pada 2014.

“Sari sisi pariwiasta, kegiatan ini mendongkrak kunjungan wisatawan ke NTT. Wisatawan juga dapat mengunjungi destinasi pariwisata lainnya di Ende seperti Danau Tiga Warna Kelimutu, situs Bung Karno. Dua destinasi wisata itu sudah menjadi branding internasional, selain lokasi destinasi wisata lainnya seperti Parade 1001 Kuda Sandelwood di Sumba, teluk maumere, festival komodo, tour de flores, festival fulan fehan, dan pantai wisata nemberala.

Marius mengatakan diorama perjalanan Bung Karno sebagai proklamator dan tokoh bangsa, tetap menjadi even tahunan jelang hari lahir pancasila 1 Juni, demi membela ideologi bangsa, pancasila. “Kegiatan ini dilakukan di tengah adanya oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab di negeri ini yang mau menggantikan ideologi pancasila dengan ideologi lain,” ujarnya.

Baca Juga :  Jokowi Kunjungi Perbatasan RI-Timor Leste

Namun anak-anak bangsa mulai dari Sabang sampai Merauke dan Sangihe Talaud sampai Rote tetap menjaga kesaktian pancasila, UUD 1945, NKRI, keberagaman, dan toleransi. Hal itu terbukti dengan berkumpulnya warga dari berbagai etnis untuk mensukseskan parada pesona kebangsaan tersebut antara lain suku jawa, batak, rote, timor, ende, manggarai, dan tionghoa. Para etnis tersebut mengikuti prosesi dengan mengenakan pakaian adat daerahnya. Kegiatan juga hadiri seluruh umat beragama di Ende.

“Adanya berbagai etnis turut mensukseskan kegiatan ini menunjukkan kepada publik tentang keberagaman dan toleransi senantiasa hidup di tengah masyarakat dan harus tetap dijaga,” katanya.

Jiwar, Pembina Reog Ponoroga Ende yang ikut memeriahkan kegiatan tersebut mengaku senang dengan kehidupan toleransi antarumat beragama di daerah itu.

“Kami sering mengikuti iven seni dan budaya di Ende. dan sekarang ikut lagi kegaitan parade pesona kebangsaan, aman dan penuh kekeluargaan,” kata Dia.

Jiwar mengatakan pancasila harus tetap dijaga oleh seluruh warga, apalagi Ende sebagai tempat lahirnya pancasila mesti menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. (sumber: mi/palce amalo)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda