Home / Politik / Nasdem-Golkar Tetap Koalisi di Pilgub NTT

Nasdem-Golkar Tetap Koalisi di Pilgub NTT

Partai NasDem
Partai NasDem

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasdem Nusa Tenggara Timur (NTT) Alexander Ofong menegaskan Nasdem tetap berkomitmen dengan koalisi yang sebelumnya dibangun bersama Partai Golkar.

“Saat ini kita upayakan komposisi cagub dan cawagub dengan figur yang baru, tetapi tetap dengan golkar,” kata Alexander Ofong di Kupang, Jumat (17/11).

Sebelumnya Nasdem dan Golkar mengusung pasangan Jacky Uly-Melkiades Laka Lena untuk bertarung di pemilihan gubernur (Pilgub) namun bubar. Menurut Alexander pembubaran pasangan Jacky-Melkiades akan diumumkan ke publik dalam waktu dekat. “Nanti Jacky Uly yang akan menyampaikan pengunduran dirinya sebagai cagub,” tandasnya.

Menurutnya penetapan tersangka terhadap Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto juga tidak akan membuat Nasdem mundur dari koalisi. Menurutnya Partai Golkar memiliki 11 kursi di DPRD NTT. Sesuai aturan KPU, parpol atau kaolisi parpol minimal memiliki 13 kursi untuk mengusung pasangan calon gubernur di Pilkada NTT.

Baca Juga :  Kristo Blasin Yakin Diusung PDIP di Pilgub NTT

Pengamat Politik Maksimus Lalongkoe mengatakan kasus Setya Novanto menyedot perhatian publik luas dan membuat internal golkar bergejolak.

Pasalnya sejak kasus ini mencuat, sejak itu sudah ada gerakan-gerakan elite-elite Golkar untuk menggelar Munaslub menggantikan Setya Novanto, dengan tujuan partai tidak menjadi korban politik khususnya menghadapi pilkada serentak 2018.

Gejolak ini tentunya membuat internal golkar saling gesek antar yang loyalis Setya Novanto dengan elite Golkar yang selama ini berseberangan dengan kelompok Ketua DPR tersebut. “Kondisi ini juga berpengaruh terhadap bakal calon golkar yang sebagian sudah mendapat rekomendasi seperti di Nusa Tenggara Timur maupun daerah lainnya yang sama-sama menggelar pilkada 2018,” ujarnya.

Maksimus mengatakan parpol lain yang sudah membangun komunikasi untuk koalisi, bisa saja berpikir kembali nasib koalisi itu dengan melihat untung dan ruginya. “Melihat kondisi ini, yang memaksa elite-elite golkar mengadakan Munaslub untuk menyelamatkan pilkada 2018,” ujarnya. (mi/palce)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda