Home / Nasional / Monopoli Rugikan Peternak NTT

Monopoli Rugikan Peternak NTT

Pertemuan Himpunan Peternak Pengusaha Sapi dan Kerbau (HP2SK) NTT bersama pimpinan DPRD NTT di Kupang, Rabu (2/3). Foto/Gamaliel
Pertemuan Himpunan Peternak Pengusaha Sapi dan Kerbau (HP2SK) NTT bersama pimpinan DPRD NTT di Kupang, Rabu (2/3). Foto/Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Pengusaha ternak di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengaku rugi akibat rendahnya harga beli sapi dari pengusaha asal Jakarta. Selain itu, pengiriman sapi dari NTT ke Jakarta dimonopoli pengusaha tertentu.

Hal itu mengemuka dalam pertemuan sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Peternak Pengusaha Sapi dan Kerbau (HP2SK) NTT bersama pimpinan DPRD NTT di Kupang, Rabu (2/3).

Ketua HP2SK NTT Dedy Budiyanto mengatakan dua persoalan itu kini melilit pengusaha NTT. Mereka juga mempertanyakan nota kesepahaman antara Gubernur DKI dan Gubernur NTT terkait dengan pengembangan sapi pada 2015, yang sampai saat ini belum berjalan.

“Mestinya pengusaha dari Jakarta dan NTT bersinergi untuk memenuhi target pengiriman sapi ke Jakarta. Jangan dimonopoli pengusaha tertentu,” kata Dedy di Kupang, Rabu (2/3).

Baca Juga :  Kapal Tenggelam di Selat Rote

Dia mengatakan saat ini ada tiga pengusaha yang menopoli pengiriman sapi menggunakan kapal ternak.

Sebaliknya, peternak NTT tidak diberi kemudahan. Akibatnya, peternak daerah itu memilih mengirim sapi ke Jakarta menggunakan kapal kargo yang membutuhkan waktu hampir dua pekan. Selain itu, harga sapi di tingkat pengusaha NTT Rp35 ribu per kilogram hidup.

Harga itu turun karena harga yang ditetapkan pengusaha dari Jakarta Rp32 ribu per kilogram hidup. Terkait dengan persoalan itu, Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno mengatakan segera memanggil gubernur guna menanyakan persoalan

tersebut. Menurutnya, nota kesepahaman DKI Jakarta dan NTT harus mampu membawa kesejahteraan bagi peternak dan pengembangan ternak di NTT.

Baca Juga :  Kapal Cepat Terbakar di Flores Timur

“Karena nota kesepahaman itu yang kemudian berlanjut kepada pengadaan kapal ternak,” kata dia. Menurutnya, persoalan itu akan menjadi perhatian serius DPRD NTT. Jika nota kesepahaman tidak berdampak baik kepada pengusaha, tentu berdampak juga kepada peternak. (sumber: harian media indonesi/palce amalo)

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda