Home / Humaniora / Miris, 148 Anak di Kupang Alami Kekerasan Seksual

Miris, 148 Anak di Kupang Alami Kekerasan Seksual

Kepala Rumah Perempuan Kota Kupang Libby Sinlaeloe /Foto: Ellya Djawas
Kepala Rumah Perempuan Kota Kupang Libby Sinlaeloe /Foto: Ellya Djawas

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Sebanyak 148 anak mengalami kekerasan seksual di Kota Kupang selama 2013-2015.

Kepala Rumah Perempuan Kota Kupang Libby Sinlaeloe mengatakan pelaku kekerasan seksual paling banyak berasal dari keluarga dekat korban yakni orang tua kandung, orang tua tiri, kakak, tetangga, dan pacar.

Rumah Perempuan adalah lembaga swadaya masyarakat yang selama bertahun-tahun mendampingi korban kekerasan seksual anak di Kupang.

“Kondisi ini tentu miris sekali karena anak perempuan akhirnya tidak aman lagi di tempat tinggalnya karena apa yang melakukan kekerasan seksual adalah orang-orang yang berdekatan yang dikenal dengan baik oleh korban,” kata Libby kepada lintasntt.com di Kupang, Kamis (12/5).

Dia mengatakan angka tersebut sangat tinggi sehingga ia khawatir di masa mendatang, kasus kekerasan seksual terhadap anak meningkat. Bahkan kasus yang terjadi pada Yuyum di Bengkulu, bisa terjadi di NTT. Hal ini dilihat dari pelaku kekerasan seksual yang biasa dilakukan satu pelaku, mulai berkembang jadi dua sampai tiga pelaku.

Baca Juga :  Atma Jaya Gelar Pameran 'Jejak Akulturasi Budaya Portugis dan Indonesia'

“Kami melihat bahwa orang yang melakukan kekerasan seksual ini satu orang pelaku satu orang korban tapi akhir-akhir ada sekumpulan orang,” ujarnya.

Libby mengatakan saat Rumah Perempuan bersama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahrga, Dinas Kesehatan, dan Polres Kupang Kota telah menghasilkan draft standar operasional penanganan kasus kekerasan seksual pada anak, antara lain mengatur mengenai penanganan kesehaan psikologis anak.

“Untuk itu kampanye-kampanye pencegahan harus lebih banyak dilakukan dalam rangka meminimalisir persoalan-persoalan ini. Selain menangani kasus-kasus yang sudah ada, kampanye pencegahan sangat perlu dilakukan terutama karena memang banyak korban adalah anak-anak,” ujarnya. (rr)
\

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda