Home / Humaniora / Minat Baca Rendah karena Akses Buku Kurang

Minat Baca Rendah karena Akses Buku Kurang

Najwa Shihab/Beritagar
Najwa Shihab/Beritagar

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, mengatakan, minimnya minat baca masyarakat di Tanah Air disebabkan akses terhadap buku sangat sulit. Bahkan, kata dia, banyak sekolah di pedalaman sama sekali tidak ada minat baca.

“Saya merasa bukan minat bacanya yang kurang karena setiap ke perkampungan dan bawa buku, anak-anak menangis kalau bukunya dibawa pulang,” kata Najwa kepada wartawan sebelum mengikuti talkshow bertajuk ‘Literansi untuk Kebinekaan’ di Kupang, Nusa Tenggara Timur yang akan berlangsung Jumat (11/8) malam ini.

Selain itu, kata host program ‘Mata Najwa’ yang akan berakhir tayangannya di Metro TV tersebut, harga buku di Indonesia mahal disebabkan pajak impor kertas tinggi. Kondisi ini membuat buku-buku yang dijual ke pelosok Indonesia lebih mahal.

Baca Juga :  Prajurit dan Staf Kodim 1604 Kupang Gelar Latihan Posko

Dia pun telah menyampaikan ide kepada Presiden Joko Widodo pada Mei 2017 lalu untuk mengirim buku secara murah ke daerah.

“Di rumah saya ada titipan banyak buku, tetapi mau kirim ke daerah ongkosnya mahal,” kata Najwa.

Karena itu, ia minta setiap tanggal 17 setiap bulan dilakukan pengiriman buku secara gratis lewat PT Pos Indonesia. Ide ini langsung diterima Presiden. Selain itu, mereka juga harus memastikan buku-buku tesebut tiba di tujuan di seluruh Tanah Air.

Pendekatan lain untuk meningkatkan minat baca ialah memperkenalkan perpustakaan digital. Namun, pendekatan ini masih terbatas di kota-kota besar karena di perdesaan yang infrastrukturnya belum memadai, perpustakaan digital tidak berfungsi secara maksimal.

Baca Juga :  Bupati TTU Libatkan Wartawan Selidiki Kematian TKW Dolfina ke Malaysia

“Warga di desa juga senang baca buku fisik. Ini tantangan kita untuk menyiapkan generasi yang cinta pengetahuan didekati dengan berbagai cara,” ujarnya.

Project Officer Garda Lamaholot, Bara Pattyradj, mengatakan, isu kebinekaan yang diangkat dalam talkshow tersebut saat ini intens dibicarakan dalam konstelasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Literasi itu bukan hanya berbicara tentang membaca dan menulis melainkan bagaimana orang memandang kehidupan,” katanya. (sumber: mi/palce amalo)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda