Home / Bisnis / Menteri PDTT Borong Kerajinan Rakyat di Perbatasan Timor Leste

Menteri PDTT Borong Kerajinan Rakyat di Perbatasan Timor Leste

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT)  Eko Putro Sandjojo (kedua dari kiri) bersama Bupati Belu Wily Lay (ketiga dari kiri) mengunjungi Kelompok pengrajin 'Neon Ida Laran Ida' di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Belu, Nusa Tenggara Timur, Selasa (16/8/2016)/Foto: Gamaliel
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo (kedua dari kiri) bersama Bupati Belu Wily Lay (ketiga dari kiri) mengunjungi Kelompok pengrajin 'Neon Ida Laran Ida' di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Belu, Nusa Tenggara Timur, Selasa (16/8/2016)/Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Atambua–Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengunjungi perbatasan RI-Timor Leste, Selasa (16/8).

Dalam kunjungan kerja tersebut, Menteri Sandjojo mampir di kantor Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu untuk menemui anggota kelompok pengrajin ‘Neon Ida Laran Ida’ yang beranggota 75 perempuan.

Menteri langsung membeli 10 kain tenun dan sejumlah hasil kerajinan antara lain selendang, tempat sirih, dompet, tempat beras seharga Rp5 juta. Bahan kerajinan ini terbuat dari bahan bekas. Di antaranya kain tenun motif Marabo yang bahan-bahannya berasal dari benang kapas.

“Saya akan pajang semua bahan kerajinan ini di kantor untuk promosi,” kata Menteri Sandjojo.

Baca Juga :  WTM-Oxfam Dorong Kedaulatan Pangan di Sikka

Dia berharap kerajinan warga seperti ini bisa dikembangkan sehingga bisa bermanfaat buat warga setempat.

“Tadi saya sudah omong sama Bupati Belu, agar kerajinan ini bisa dikembangkan dan warga lainnya juga bisa membeli di sini, karena tadi saya lihat ibu ibu juga bisa membuat seragam sekolah, seragam PNS dan TNI,” ujarnya kepada wartawan.

Evarista Adek, satu dari 75 perempuan anggota kelompok tersebut mengatakan untuk memproduksi satu kain tenun butuh waktu minimal satu bulan dengan harga bervariasi mulai 750.000 per lembar sampai Rp1,2 juta per lembar.

Kelompok kerajinan yang dibangun sejak 2013 tersebut sudah mengirim hasil kerajinannya ke berbagai daerah bahkan dijual ke Timor Leste.

Baca Juga :  Gubernur Temukan Harga Daging Ayam di Pasar Naikoten Naik

Seusai berbelanja, Menteri Eko kemudian pintu perlintasan RI-Timor Leste di Motaain, dan melakukan panen perdana bawang di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak. (sumber: media indonesia/Palce Amalo)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda