Home / Nasional / Menteri Desa dan PDTT Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila di Ende

Menteri Desa dan PDTT Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila di Ende

Menteri Desa dan PDTT/Foto: lintasntt.com
Menteri Desa dan PDTT/Foto: lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Ende–Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Eko Putro Sandjojo memimpin Upacara Peringatn Hari Lahir Pancasila di Ende, Nusa Tenggara Timur, Kamis (1/6/2017).

Upacara digelar pukul 08.30 Wita setelah sebelumnya Menteri Eko menyaksikan parade perahu hias dari dermaga Ende yang dilanjutkan dengan menerima peserta prosesi laut menggunakan KRI Multatuli.

Sebanyak tiga pasangan yang memenangi kontes wajah mirip Bung Karno dan Ibu Inggit naik kapal tersebut dari Pulau Ende. Mereka didampingi ratusan warga setempat yang membawa lambang negara Garuda Pancasila dan Bendera Merah Putih.

Peragaan itu bertujuan mengingatkan kembali Bung Karno dan Ibu Inggit saat turun dari kapal yang membawanya ke Ende pada 1934.

Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila diikuti Ketua Komisi V DPR Fary Francis, Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno, bupati dan wali kota se-NTT serta pejabat daerah setempat.

Menurut Menteri Eko, Ende merupakan tempat bersejarah karena Pancasila lahir di daerah ini. Di bawah pohon sukun yang bercabang lima, Bung Karno mendapatkan buah pemikiran tentang Pancasila.

Dari 1934-1938 dalam pengasingan di Ende yang jauh dari aktivitas politik, Bung Karno banyak meluangkan waktu dengan masyarakat. Bersama kaum pelajar beliau mengadakan diskusi keagamaan dan mengadakan pertunjukan sandiwara dengan rakyat biasa yang mayoritas buta huruf.

Baca Juga :  Gubernur NTT Tanda Tangan MoU Bangun Jembatan Palmerah Senilai US$ 400 Juta

Aktivitas keseharian di Ende membuat Bung Karno banyak merenung memikirkan masa depan bangsa.

“Beliau berpikir bahwa bangsa yang kuat harus dibangun dengan pondasi ideologi yang kuat. Dengan kata lain, Ende banyak menginspirasi pemikiran Bung Karno tentang kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga lahirlah Pancasila. Pancasila dikemukakan pertama kali oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945 dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (BPUPKI),” ujarnya.

Karena itu Presiden Joko Widodo pada tanggal 1 Juni 2016 telah menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila, sekaligus menetapkannya sebagai hari libur nasional.

Pada peringatan tahun ini untuk kali pertama Hari Lahir Pancasila, dirayakan salah satunya melalui Pekan Pancasila, yang dimulai pada tanggal 29 Mei hingga 4 Juni 2017.

Indonesia adalah negara besar. Negara kepulauan terbesar di dunia yang dikaruniai lebih dari 17.100 pulau, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Selain itu Indonesia juga memiliki lebih dari 1.128 etnis, dengan, 746 ragam bahasa daerah yang beragam. Artinya kodrat Indonesia adalah keberagaman.

Baca Juga :  Menteri Agraria Resmikan 6 Kantor BPN di NTT

Keberagaman Indonesia juga tercermin melalui 74.910 desa di Indonesia. Pemerintah berkomitmen menjunjung tinggi kemajemukan desa-desa di Indonesia melalui otonomi desa. Hal tersebut tercermin dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Namun saat ini, menurut dia, Indonesia sedang menghadapi tantangan. Berbagai pandangan dan tindakan mengancam persatuan Indonesia. Sikap intoleran dan maraknya pesan-pesan kebencian yang beredar di media sosial sedikit demi sedikit dapat mengikis toleransi yang selama ini dibangun jika tidak ditangani dengan serius.

Ancaman terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara dapat ditanggulangi jika semua elemen masyarakat berperan aktif menjaga Pancasila sebagai ideologi bangsa. Pemahaman terhadap Pancasila harus ditingkatkan melalui pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutya, komitmen pemerintah untuk mengawal Pancasila, dapat dilihat salah satunya melalui Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 Tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Pancasila. Bersama seluruh komponen bangsa, lembaga ini akan memperkuat pengamalan Pancasila dalam kehidupan berbanga dan bernegara serta terintegrasi dengan program pembangunan nasional. (sumber: mi/palce amalo)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda