Home / Humaniora / Mengenal Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi (2)

Mengenal Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi (2)

Josef A Nae Soi/Copyright: lintasntt.com
Josef A Nae Soi/Copyright: lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Menarik Perhatian Broery Pesulima

Sekembalinya ke Jakarta Ose hampir saja meninggalkan studinya. Seorang temannya di Atmajaya, Ria Marantika, adalah adik dari penyanyi Broery Pesulima. Saat Broery berulang tahun, Ria mengajak teman-temannya termasuk Ose ke rumah Broery.

“Kami anak-anak muda, duduk di belakang main gitar. Begitu Broery dengar suara saya dia langsung ke belakang. ‘Itu suara siapa Ria?’ tanya Broery. ‘Teman saya,’ jawab Ria.”

Broery langsung mengajak Ose untuk mengikutinya bernyanyi keesokan harinya di night club Moon Light di Jalan Sabang. Setelah selesai di Moon Linght, Broery mengajaknya ke night club Tropicana. Di sana mereka bertemu Chris Biantoro. Chrispun mengajaknya menyanyi di sejumlah night club.

Namun jebolan kampus Hugo de Groot di Belanda ini akhirnya memilih dunia pendidikan. Aktifitas menyanyi di sejumlah tempat dihentikan dan ia memilih melanjutkan studi sarjananya. Ia tamat tahun 1983.

Setahun setelah menjadi sarjana, Ose mempersunting gadis pujaannya Maria Fransisca Djogo, seorang perawat tamatan Akademi Carolus yang ia kenal di Jakarta. Pernikahan ini dikaruniai dua orang anak, Alfredo Sebastianus Soipili dan Justina Josepha Mamo Soi. Alfredo Sebastianus, yang diberi nama sesuai nama pemain sepakbola favorit ayahnya Marco van Basten, kini menjadi seorang pengusaha dan Justina Josepha baru saja menyelesaikan pendidikan di Universitas Padjajaran.

Di tahun 1987 ia menjadi dosen pada Akademi Litigasi Republik Indonesia (ALTRI) – Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Pengayoman Kehakiman Jakarta tahun 1987-2005. Puncaknya karier di dunia akademis adalah menjadi Pembantu Direktur III di Altri Kehakiman. (2000-2005). Ilmu hukum laut yang didapatkan dari Belanda ia terapkan sebagai dosen di ALTRI.

Selama menjadi dosen, Ose tak henti memperdalam ilmu manajemen dan hukumnya. Ia antara lain mengikuti kursus Retail Management di Adelaide, Australia (1992), kursus Basic Safety Training, Survival Craft and Rescue Boat serta Advanced Fire Fighting di Rotterdam, Belanda (2002), serta kursus Port Management and the Law of Sea Malmo di Swedia (2003).

Baca Juga :  Salah Sasaran, Kepsek Wajib Menarik Kembali Uang PIP

Pengalaman dan kematangan di bidang maritime dan hukum ini juga yang membuat Yasona H. Laoly, Menteri Hukum dan HAM kemudian mengangkatnya sebagai penasehat di Kementrian Hukum dan HAM di tahun 2014. Jabatan ini diembannya hingga 2019.

Masuk politik secara kebetulan

Hubungan yang baik dengan banyak orang membawa keberuntungan tersendiri bagi Ose. Saat menjadi Sekretaris DPC PMKRI Jakarta di tahun 1975-76 ia sering bertemu dan bertukar pikiran dengan Akbar Tanjung yang saat itu adalah Ketua Umum HMI. Namun setelah ia aktif di Dewan Mahasiswa ia sudah tak bertemu Akbar Tanjung lagi.

Sekitar 12 tahun kemudian, yaitu tahun 1997, iseng-iseng Ose bersama beberapa teman termasuk Eky Syahrudin, mendatangi Musyawarah Nasional Luar Biasa Golkar di Hotel Indonesia. Di sana ia bertemu Akbar Tanjung dan di luar dugaan Akbar memberinya tanda pengenal dan menyuruhnya masuk ke ruang Munas sebagai peserta.

“Saya tidak tertarik sama sekali ke politik pada saat itu. Saat saya salaman sama Akbar, dia bilang ‘Sep you di sini?’ Saya bilang saya mau nonton. Kami dikasih tanda pengenal dan disuruh masuk.”

“Saya kaget begitu Akbar terpilih, nama saya dipanggil sebagai salah satu pengurus pada saat itu. Apalagi kami harus maju ke depan jadi pengurus pusat Golkar,” kata Ose yang saat itu adalah dosen pada Universitas Atmajaya dan juga menjabat sebagai Pembantu Direktur III di ALTRI.

Di tahun yang sama berlangsung Pemilihan umum legislative dan Ose dicalonkan menjadi anggota DPR RI dari NTT namun ia berada di nomor buntut dari 25 calon. Calon nomor 24 adalah professor Toby Mutis dan nomor 23 adalah Jendral Henuhili. Tentu saja sangat kecil harapannya untuk terpilih. Namun pada saat pengangkatan anggota MPR, Akbar justru mengangkat Ose menjadi anggota MPR.

Baca Juga :  Mau Nikah? Eit...Tunggu Dulu

“Saya nomor 25 tapi diangkat, nomor 23 dan 24 tidak ditunjuk tapi saya yang ditunjuk,” kata Ose.

Jabatan anggota MPR itu dari tahun 1997-1999. Di pengurus Pusat Golkar, Ose bertahan menjadi pengurus bidang keagamaan selama 16 tahun sejak ia masuk. Di tahun 2014 ia dipercayai menjadi wakil sekretaris jendral hingga saat ini.

Masuk politik tak mengurangi minat Ose untuk terus mengasah kemampuan manajerialnya. Pada tahun 1998 saat mulai aktif di Golkar, ia justru melanjutkan studi S2 Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen LPMI Rawamangun. Studinya diselesaikan tahun 2002.

Di tahun 2004 ia dicalonkan lagi menjadi anggota DPR RI dan terpilih berturut-turut selama dua periode sampai dengan tahun 2014. Selama dua periode di DPR RI, Ose banyak berkecimpung di komisi yang membidangi infrastruktur, perhubungan, dan urusan percepatan daerah-daerah tertinggal.

Kepiawaiannya dalam melobi anggaran untuk percepatan pembangunan infrastruktur tak banyak diketahui. Salah satu yang patut diingat adalah bagaimana Ose menyelamatkan dana bantuan dari pusat untuk pembangunan Bandara Mbay. Dana tersebut seharusnya dikembalikan ke pusat karena ada persoalan teknis yang belum jelas pada pemerintah daerah Nagekeo.

Namun berkat kemampuan lobi seorang Josef, dana tersebut tetap dipergunakan untuk pembangunan Bandara Tambolaka di Sumba Barat Daya dan Flores Timur. (Matheos Viktor Messakh, bersambung..)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda