Home / Humaniora / Medah: NTT Miskin Karena Sektor Pertanian Belum Dikelola Maksimal

Medah: NTT Miskin Karena Sektor Pertanian Belum Dikelola Maksimal

Ibrahim Medah/Foto: Gamaliel
Ibrahim Medah/Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Jakarta–Anggota DPD Ibrahim Agustinus Medah mengatakan kemiskinan yang masih menjerat Nusa Tenggara Timur disebabkan sektor pertanian di daerah ini belum dikelola secara maksimal.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan NTT menempati urutan ketiga daerah termiskin di indonesia

Medah mengatakan hampir 80 persen penduduk NTT menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. “Kalau NTT miskin maka biangnya adalah pertanian, karena mayoritas masyarakat kita hidup di pertanian,” kata Ibrahim Medah ketika beribicara mewakili tokoh masyarakat NTT dalam perayaan Natal Warga GMIT, Ex GMIT dan Simpatisan se-Jabodetabek, di Auditorium PTIK, Jakarta, Jumat (20/1/2017).

Menurut Mantan Bupati Kupang dua periode ini, banyak pihak pesimistis memajukan sektor peranian lantaran musim kemarau di daerah berlangsung selama delapan bulan sehingga lahan pertanian kekurangan air.
“Tetapi sebenarnya NTT jauh lebih beruntung dari Israel. NTT dalam setahun dikaruniai hujan mencapai 40 hari, sedangkan Israel hanya 7 hari hujan. Tetapi Israel mampu menjadi negara pertanian yang sangat maju, NTT dengan hari hujan mencapai 40 hari menjadi provinsi yang paling miskin di Indonesia,” katanya.

Mendah menambahkan, berkat Tuhan yang datang dalam bentuk air hujan yang ada harus dimanfaatkan secara optimal. Dan itu sebenarnya bisa dilakukan. Selain itu, kata Medah, masalah lahan pertanian juga menjadi kendala utama karena rata-rata masyarakat kita mengolah lahan hanya mencapai setengah hektar. “Kemapuan petani kita sangat minim sehingga harus ada interfensi dari pemerintah daerah untuk air dan lahan. Untuk itu semua bisa dilakukan, dan harus dimulai dari pimpinan. Dan pemimpin itu harus yang melayani, pemimpin yang lebih banyak memberi daripada mengambil,” katanya.

Baca Juga :  Ibrahim Medah Bagi Bibit Ubi Ungu di Amabi Oefeto Timur

Dikatakan Medah, semua umat Kristen pasti berharap agar Natal membawa damai sejahtera sama seperti yang dikumandangkan oleh bala tentara Surga bersama para malaikat yang mewartakan kabar tentang kelahiran Yesus. Damai sejahtera yang dikumandangan itu, jika diukur dari aspek rohani maka semua orang yang merayakan Natal akan merasakannya. Tetapi, jika damai sejahtera diukur dari aspek material maka semua orang belum menikmatinya. Bahkan, sebagain besar warga GMIT yang ada di NTT belum menikmati karena dihimpit kemiskinan.

“Karena miskin itu maka setiap tahun kita mendapat laporan dan berita tentang gagal tanam, gagal panen, masih banyak gizi buruk, kematian ibu dan bayi saat melahirkan, dan juga TKI ilegal tanpa mengurus dokumen yang resmi dan meninggalnya TKI di luar negeri serta ekses lain dari kemisikiann. Jika demikian maka damai sejahtera dari bala tentara suegawi bagi orang yang berkenan kepada-Nya belum berlaku sepenuhnya di NTT, khusus bagi warga GMIT untuk menikmati damai sejahtera,” ujar Medah.

Padahal kata Dia, potensi alam NTT sangat kaya raya diantaranya lahan tidur di luar kawasan hutan mencapai 1,3 juta hektar, dalam kawasan hutan lebih dari 2 juta hektar, panjang pantai di NTT mencapai 5.000 kilo meter lebih dan baru diekspolitasi melum mencapai 10 persen. Juga potensi parwisata yang lebih dari 100 titik wisata yang sangat potensial. “NTT kaya potensi tetapi masih misikin material. Bahkan, untuk potensi itu, Tuhan telah memberikan perintah dan kuasa untuk kita taklukan dan kauasi semuanya itu untuk kesejahteraan kita,” katanya.

Baca Juga :  Kapal Nelayan Tenggelam di Komodo, 6 Orang Hilang

Selain itu, kata Medah, Negara juga sangat peduli dengan NTT, sehingga beberapa tahun terakhir dana APBN yang turun ke NTT mencapai lebih dari Rp40 triliun yang 70 persennya dikelola Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota serta tidak sedikit dana APBN yang turun langsung di NTT dalam bentuk proyek infrastruktur.

“Dari jumlah tersebut, kontribusi PAD kita tidak mencapai 10 persen, jika kita tidak mengambil langkah konkrit dan kita hanya sebatas wacana dan slogan maka kita akan tetap pada kondisi kritis. Saya katakan kritis karena banyak yang masih miskin. Mestinya setiap Natal seperti ini kita diingatkan kembali bahwa damai sejahtera itu suduh dicapai atau paling tidak sudah mendekatinya, maka langkah-langkah konkrit harus kita lakukan,” katanya.

Ketua Panitia Perayaan Natal Warga GMIT, Ex GMIT dan Simpatisan se Jabodetabek Brigjen Pol. Drs. Johni Asadoma, M. Hum mengatakan, perayaan Natal BP Perwakilan GMIT Jakarta itu selain sebagai tradisi juga sebagai momentum reuni warga GMIT yang larut dalam rutinitas tugas dan pelayanan masing-masing.

Turut hadir dalam perayaan Natal yang dipimpin oleh Pdt. DR. Andreas A. Yewangoe itu diantaranya Ketua Sinode GPI Pdt. Lisye Sumampou, Sekretaris Sinode GMIT Pdt. Yusuf Nakmofa, mantan Ketia Sinode GMIT tiga periode Pdt. Thobias Messakh serta ratusan warga GMIT, Ex GMIT dan simpatisan se-Jabodetabek. (laurens leba tukan)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda