Home / Politik / Medah: Kemiskinan NTT Jangan Ditutupi

Medah: Kemiskinan NTT Jangan Ditutupi

Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi NTT Drs. Ibrahim Agustinus Medah ketika berorasi dalam pembukaan Musda Partai Golkar Kabupaten Manggarai Timur di Aula Kefikepan, Borong Kabupaten Manggarai, Jumat (9/12/2016)/Foto: Lorens
Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi NTT Drs. Ibrahim Agustinus Medah ketika berorasi dalam pembukaan Musda Partai Golkar Kabupaten Manggarai Timur di Aula Kefikepan, Borong Kabupaten Manggarai, Jumat (9/12/2016)/Foto: Lorens

Bagikan Halaman ini

Share Button

Borong–Ketua DPD I Partai Golkar NTT Ibrahim Agustinus Medah menegaskan, persoalan kemiskinan yang selama ini membelenggu masyarakat, jangan ditutup-tutupi.

“Seluruh komponen dan masyarakat NTT mari bersama-sama berantas kemiskinan. Bukan berarti kita mau menjual kemiskinan untuk dikasihani, juga bukan untuk mempermalukan diri kita sendiri, Kita harus tahu masalah kita, dan setelah tahu saya membangkitkan semangat kita untuk mengatasi masalah tersebut. Jangan kita menutupinya, jika kita tahu masalah kita bahwa kita miskin, maka kita harus menyelesaikannya. Jika kita menutupinya, kita tidak akan bisa mengatasi masalah dasar kemiskinan di NTT,” tegas Ibrahim Medah ketika berpidato dalam pembukaan Musda Partai Golkar Kabupaten Manggarai Timur di Aula Kefikepan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Jumat (9/12/2016).

Acara pembukaan Musda itu dihadiri Bupati Manggarai Timur Yoseph Tote dan sejumlah tokoh di antaranya Frans Sarong, bersama pimpinan Partai Politik se-Kabupaten Manggarai Timur serta unsur Muspida.

Medah mengakui seluruh Pemerintah Daerah beserta perangkatnya sudah bekerja keras sehingga sudah banyak yang dihasilkan. Tetapi masih ada juga yang tersisa yang belum dapat diselesaikan. Salah satu indikator sederhanya yaitu masih saja terjadi pegiriman TKI dan TKW dari NTT ke luar negeri bahkan ada yang dengan nekad tanpa melalui prosedur yang sesungguhnya.

“Mereka ingin keluar dari kemsikinan, meski lewat jalur ilegal,” katanya.

Indikator lain, kata Medah data BPS dan badan-badan internasional menunjukan, di NTT IPM-nya masih sangat rendah yaitu berada di nomor 32 dari 34 Provinsi di NTT.

“IPM ini terdiri dari Kesehatan, Pendidikan dan Daya Beli. Terkait daya beli, korelasinya dengan income per kapita dan NTT hanya ada di angka 7 jutaan sedangkan secara nasional sudah mencapai diatas 34 juta. Kita masih jauh dibawa. Jika kita tidak serius membangun NTT maka NTT masih akan tetap seperti sekarang,” katanya.

Ia juga menyoroti masalah kesehsatan di NTT yang masih menjadi persoalan serius. Masih banyak ibu yang meninggal saat melahirkan, masih banyak bayi yg meninggal, juga banyak busung kapar dan gsizi buru. Juga soal pendidikan yang masih rendah. Data-data ini menggambarkan NTT masih jauh tertinggal.

“Saya sampai pada kesimpulan bahwa kemiskinan di NTT bisa diatasi jika kita mampu mengatasi masalah pertanian. Karena lebih dari 72 persen rata-rata masyarakat NTT hidup di sektor pertanian,” ujarnya.

Mantan Bupati Kupang dua periode ini mengatakan, sektor yang paling prioritas untuk mengatasi masalah kemiskinan yaitu sektor pertanian. Dan untuk mengatasi persoalan pertanian, kunci utamanya adalah air dan pengolahan lahan.

Baca Juga :  Medah: Pariwisata Sektor Hilir di NTT masih Bergantung Pasokan Luar Daerah

“Masalah air di NTT hingga saat ini belum diselesaikan secara maksimal. Bahkan sebagai senator, saya sudah banyak mendesak pemerintah pusat untuk membantu mengatasi masalah air di NTT dan sudah mulai dilakukan sejak tahun ini dan tahun-tahun yang akan dilipat-gandakan untuk mengatasi masalah air,” jelasnya.

Meski begitu, menurut Medah, APBN belum cukup menjawab persoalan air untuk pertanian, peternakan dan konsumsi manusia. Untuk mengatasi air di NTT infrastrutkur air harus dibangun sampai ke seluruh dusun, karena topografi alam NTT yang sangat ekstrim.

“Kalau APBN hanya bisa membangun bendungan maka tidak banyak bermanfaat karena topografi yang extrim di NTT ini, satu bendungan raksasa tidak banyak dinimkmati banyak orang. Maka APBD seluruh Kabupaten dan Provinsi NTT setiap tahun harus bisa disishkan minimal lima persen untuk membeli alat berta serta perlatan sumur bor yang setiap hari dimanfaatkan untuk menggali air dalam bentuk embung, cekdam, waduk dan sumur bor. Jika ini konsisten dilakukan maka persoalan air di NTT bisa teratasi,” katanya.

Menurut Medah, data statistik menyebutkan luas lahan yang diolah secara intensif oleh petani di NTT rata-rata hanya mencapai lima hektare. Dengan lahan yang terbatas dan air yang tidak menentu, maka sulit mengharapkan petani NTT bisa keluar dari kemiskinan. Itu pasalnya, Medah mengatakan, strategi kedua setelah mengatasi masalah air, pemerintah harus bisa menolong rakyat agar petani bisa mengolah lahannya lebih luas.

“Jumlah lahan tidur diluar kawasan hutan di NTT sesuai data yang ada mencapai 1.300.000 hektar. Belum termasuk ladang-ladang yang dikerjakan secara berpindah, dan belum termasuk juga lahan setengah hektar yang dialoha secara insetif. Nah, pemerintah harus membantu masyarakat agar lahan pertanian masyarakat bisa dipluas. Pemerintah harus membantu teknologi untuk mengolah lahan dengan cara menyisihkan lima persen dari setiap tahun dari total APBD untuk membeli exafator dan traktor yang kerjanya setiap hari mengolah lahan pertanian masyarakat. Jika ini kita berkomiten bersama seluruh Kabupaten maka sekitar 2 tahun lahan tidur di NTT sudah terolah. Jika air tersedia, dan lahan pertanian yang luas juga tersedia, maka masyarakat tinggal menanam dan merawatnya,” kata Medah.

Dikatakannya, jika pertanian di NTT maju maka kemiskinan di NTT akan berkurang bahkan habis, karena sektor lain akan bertumbuh. “Pertanian maju, maka sektor parwisata, industri dan perdagangan akan maju. Sehingga untuk memberantas kemiskinan di NTT maka sektor pertanian harus diperabiki. APBD seluruh Kabupaten harus disisihkan untuk infarstrktur air dan lahan pertanian. Apakah ini bisa dilakukan?, Kalau saya Gubernur NTT pasti bisa,” ujar Medah disambut sorak ratusan kader Golkar dan undangan.

Baca Juga :  Jawaban Prabowo Soal HAM Dinilai Masuk Akal

Bupati Manggarai Timur Yoseph Tote yang hadir pada Musda itu mengatakan, Partai Golkar telah menjadi mitra yang sangat baik selama ini dengan pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.

“Golkar adalah Partai Kerja dan sebagai Pemerintah, kami sangat mersepons baik program Partai Golkar yang saat ini gencar mengajak masyarakat untuk menanam ubi ungu. Kami siap bersama Golkar dan masyarakat Manggarai Timur mengembangkan ubi ungu karena kandungan antioksidan yang tinggi sangat bermanfaat bagi kesehatan. Juga memiliki prosepk ekonomi yang bagus,” ujarnya.

Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Manggarai Timur, Johanes Nahas mengatakan siap memenangkan Ibrahim Agustinus Medah dalam hajatan pemilihan Gubernur NTT tahun 2018 mendatang. “Golkar Manggarai Timur siap mengamankan keputusan Musda Golkar NTT yang mengusung Ibrahim Medah menjadi calon Gubernur NTT, karena dengan segudang pengalaman birokrasi dan politik mampu mengatasi kemiskinan di NTT,” ujar mantan Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur ini.

Di hari yang sama, Musda Partai Golkar Kabupaten Manggarai kembali secara aklamasi memilih Wakil Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Simprosa Riansari Gandut sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Manggarai periode 2016-2020.

Di Manggarai Barat, Matheus Hamsi kembali menahkodai DPD II Partai Golkar Kabupaten Manggarai Barat untuk periode ketiga setelah secara aklamasi terpilh dalam forum Musda yang dipimpin oleh Wakil Ketua Kaderisasi DPD Partai Golkar Provinsi NTT Nixon Mesakh.

Musda Partai Golkar di tiga Kabupaten di Manggarai yang diselenggarakan serempak dalam sehari itu dibuka oleh Ketua DPD I Partai Golkar NTT Ibrahim Agustinus Medah di Kabupaten masing-masing. Medah didampingi Ketua Dewan Pertimbangan DPD Partai Golkar Provinsi NTT Felix Pullu, SH Sekretaris Thomas Tiba Owa, S. Ag, Bendahara Alfridus Bria Seran, ST, Wakil Ketua Bidang Organisasi Gady Buly, SH, Wakil Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini Laurensius Leba Tukan, Wakil Ketua Bidang SDA Maksimus Adipati Pari dan Wakil Sekretaris Benny Taopan, SH. M.Hum, Hery Liman dan Adrianus Moron. (Laurens Leba Tukan–Wakil Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini DPD I Partai Golkar NTT)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda