Home / Humaniora / Masalah Distribusi Air Bersih yang Memengaruhi Kesehatan Masyarakat NTT

Masalah Distribusi Air Bersih yang Memengaruhi Kesehatan Masyarakat NTT

Maria Trivonia Sema/Dok. Pribadi
Maria Trivonia Sema/Dok. Pribadi

Bagikan Halaman ini

Share Button

 Penulis : Maria Trivonia Sema

Mahasiswi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

AIR bersih adalalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air minum.

Adapun persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan dari segi kualitas air yang meliputi kualitas fisik, kimia, biologi dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping (Ketentuan Umum Permenkes No.416/Menkes/PER/IX/1990). Air bersih selalu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga menjadikan air bersih sebagai kebutuhan yang sangat penting. Air bersih  yang diterima oleh masyarakat harus memiliki kualitas yang baik, sehingga tidak membahayakan kesehatan masyarakat.

Pendistribusian air minum kepada konsumen dengan kuantitas, kualitas dan tekanan yang cukup memerlukan sistem perpipaan yang baik, reservoir, pompa dan dan peralatan yang lain. Metode dari pendistribusian air tergantung pada kondisi topografi dari sumber air dan posisi para konsumen berada (Howard, S.P., et.al, 985).

Pemerataan distribusi air bersih sangatlah penting agar setiap masyarakat dapat mendapatkan hak mereka untuk menjadi sehat dan sejahtera.  Sistem distribusi yang baik akan sangat membantu distribusi air bersih hinga ke pelosok negeri.

Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi dengan ketersedian air bersih yang masih sangat kurang. Hal ini terlihat dari banyaknya kasus kekeringan, krisis air, dan gizi buruk yang selalu melanda NTT. Salah satu pemenuh kebutuhan dan pendistribusi air bersih di Nusa Tenggara Timur adalah PDAM. Menurut data Badan Pusat Statistik , tercatat pada tahun 2017 terdapat 16 PDAM yang berada di Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga :  Setiap Bulan Karirpad Dikunjungi Lebih 2 juta Pencari Kerja

Jumlah ini tidak mengalami perubahan sejak tahun 2015. Hal ini berarti hanya ada 16 PDAM yang mengaliri air bersih ke seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur sementara kebutuhan air bersih di NTT setiap tahunnya meningkat. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan penduduk yang pesat dan kondisi geografis di NTT, dimana musim kemarau akan lebih panjang dibandingkan musim penghujan. Pada tahun tahun 2015 kebutuhan air yang PDAM sebanyak 3.082 liter/detik . Kemudian pada taun 2017 meningkat pesat menjadi 6.655 liter/detik (Sumber : data BPS 2017).

Peningkatan jumlah air bersih ini tidak diimbangi dengan adanya penambahan PDAM agar distribusi air dapat lebih luas dan lebih banyak lagi. Walapun terdapat peningkatan penggunakan air bersih PDAM , nyatanya di beberapa wilayah di NTT masih kesulitan mendapatakan air bersih .Menurut data BPBD NTT mencatat terdapat sedikitnya 170 desa di 17 kabupaten dari 22   kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami krisis air bersih yang mengakibatkan 38.879 orang, atau 4.325 keluarga menderita krisis air bersih.

Selain masalah distribusi air bersih bagi masyarakat di NTT, terdapat masalah yang harus diperhatikan, yaitu kualitas air bersih yang diterima masyarakat. Kualitas air minum yang layak akan sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat. Kualitas air bersih yang tidak layak akan mengakibatkan masalah diare di NTT akan semakin meningkat. Menurut data BPPSPAM di tahun 2017 dari 16 PDAM yang tersebar di wilayah NTT terdapat 4 PDAM yang memiliki kualitas yang sehat,8 PDAM kurang sehat dan 4 PDAM tidak sehat.  Data ini menunjukkan bahwa kualitas PDAM yang diterima masyarakat di NTT belum baik. Hal ini dapat menyebabkan munculnya penyakit seperti diare di kalangan masyarakat.

Baca Juga :  PLN Salurkan Bantuan Makanan untuk Korban Banjir Manggarai Barat

Ketersediaan air bersih yang minim di beberapa wilayah di NTT menyebabkan  banyaknnya penyakit diare ataupun gizi buruk. Distribusi air bersih melalui PDAM masih belum mampu mencakup beberapa wilaya di NTT dikarenakan kondisi alam yang sangat tidak mendukung untuk dipasang saliran perpipaan. Hal ini menyebabkan masyarakat menggunakan air hujan , sumur atau sungai untuk memenuihi kebutuhan air.

Menurut data Dinas Kesehatan pada tahun 2017, jumlah pasien yang terkena diare di NTT sebanyak 142.757 pasien dan jumlah pasien diare yang berhasil ditangani hanya 46.097 pasien. Jumlah pasien diare yang tidak ditangani masih sangatlah banyak. Situasi seperti ini akan sangat membahayakan masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Ketersediaan air bersih yang kurang ditambah pelayanan kesehatan yang belum maksimal dari NTT. Hal ini membuat masyarakat NTT semakin menjadi terbelakang.

Pencegahan dari masalah yang sudah sangat lama dialami oleh masyarakat harus segera dilakukan. Pemerintah harus bekerja lebih ekstra untuk distribusi air bersih yang memang layak diterima oleh masyarakat. Air bersih yang layak adalah salah satu hak setiap warga Negara yang harus terpenuhi.

Alternatif lainnya adalah membuat masyrakat mengolah sendiri air bersih dengan memanfaatkan yang tersedia di alam , seperti sumber mata air, sumur atau penampungan air hujan. Namun pemerintah harus menyiapkan setiap alat yang membantu agar masyarakat dapat mengolah air dengan baik. (*)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda