Home / Travel / Mahalnya Pulang Kampung ke Papua

Mahalnya Pulang Kampung ke Papua

Pesawat Lion AIr Bersiap Mendarat di Bandara Sentani, Papua Beberapa waktu lalu/Foto: Gamaliel
Pesawat Lion AIr Bersiap Mendarat di Bandara Sentani, Papua Beberapa waktu lalu/Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Jakarta–Melepas rindu bertemu sanak saudara di kampung halaman adalah momen indah yang dinanti oleh tiap perantau.

Namun tak semua orang dapat pulang kampung minimal satu tahun sekali.

Ada kampung halaman yang sulit dijangkau dari segi biaya transportasi bagi warga Jakarta dan sekitarnya yaitu jika kampung halamannya di Papua.

“Setiap kali saya mau pulang kampung, setidaknya harus direncanakan setahun sebelumnya. Tak mungkin dadakan karena terbatas uangnya sekalipun naik maskapai bujet rendah,” kata Evi yang merantau dari Jayapura, Papua, ke Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Evi yang terakhir pulang kampung ke Jayapura pada tahun 2014, harga tiket pesawat dari Jakarta ke Papua begitu tinggi. Apalagi Evi kini sudah berkeluarga. Pulang kampung berarti bersama suami dan anak, bujet pulang kampung semakin membengkak.

“Saya kalau pulang naik Sriwijaya Air harus keluar bujet Rp 3 juta-an (sekali jalan). Pulangnya naik Batik Air harus sedia Rp 3,5 juta lebih,” kata Evi. Dengan kata lain, ia harus sedia bujet minimal Rp 20 juta hanya untuk tiket penerbangan pergi pulang ia, suami, dan anaknya.

Karena harga tiket ke Papua yang mahal, Evi mengaku jadi jarang pulang kampung. Ia berujar nasib sama juga terjadi pada teman-temannya yang merantau dari Papua bekerja di Pulau Jawa.

Baca Juga :  Bupati Sikka Lepas Etape Kedua Tour de Flores

Contoh lainnya Nova yang berkampung halaman di Sorong, Papua Barat. “Harga tiketnya bikin miris dan mikir berkali-kali. Harus direncanakan dari jauh-jauh hari kalau mau pulang kampung. Harga tiket bisa dua sampai tiga kali lipat daripada liburan ke Singapura, Malaysia, atau Bangkok,” kata Nova.

Nova mengatakan ia harus merogoh kurang lebih Rp 4 juta untuk sekali perjalanan ke Sorong. “Mungkin kalau ke Jayapura bisa lebih murah karena lebih banyak penerbangan dan maskapai pilihan. Ini saya ke Sorong,” kata Nova.

Namun begitu Nova bersyukur kampung halamannya adalah pintu gerbang menuju Raja Ampat. Sehingga biaya wisata bisa berkurang drastis.

“Padahal masih di wilayah Papua, belum beda pulau harga tiketnya segitu,” kata Evi yang akhirnya mengurungkan niat pulang kampung sembari wisata ke Raja Ampat.

Penyebab tiket mahal

Harga tiket menuju Raja Ampat dibanderol mulai dari Rp 3,3 juta sekali jalan pada Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) fase 2 yang digelar 7-9 Oktober 2016. Dengan kata lain kocek Rp 6,6 juta harus siap dirogoh untuk pulang pergi dari Jakarta ke Raja Ampat.

Baca Juga :  Keindahan Labuan Bajo Sihir Jurnalis Tiongkok

Sementara, harga tiket pergi pulang (PP) Jakarta-Seoul dijual mulai dari Rp 3,2 juta dan harga tiket PP Jakarta-Tokyo dibanderol mulai dari Rp 3,5 juta. Padahal dihitung dari jarak tempuh, Jakarta ke Seoul tentu lebih jauh daripada Jakarta-Sorong.

Mengapa demikian? Pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan harga tiket pesawat yang dijual berdasarkan hukum “Demand & Supply”. Ia melanjutkan semakin tinggi kebutuhan suatu rute penerbangan, harga cenderung naik.

“Semakin banyak maskapai yang melayani suatu rute, persaingan makin ketat, harga cenderung turun,” jelas Alvin saat dihubungi Senin (10/10/2016).

Selain itu, menurut Alvin, mahalnya biaya tiket penerbangan juga dipengaruhi oleh skala ekonomi (economic of scale) suatu perusahaan.

Ia mengatakan semakin besar kapasitas produksi dalam hal ini adalah frekuensi penerbangan, maka akan rendah biaya tiket pesawat.

“Kebijakan atau strategi pemerintah tentang positioning Raja Ampat juga berpengaruh. Apakah akan diposisikan sebagai tujuan wisata eksklusif atau massal,” ungkapnya. (sumber: kompastravel)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda