Home / Daerah / Kupang Masuk Kota Terkotor, Wakil Wali Kota Evaluasi Dinas Kebersihan

Kupang Masuk Kota Terkotor, Wakil Wali Kota Evaluasi Dinas Kebersihan

Kota Kupang/Foto: Gamaliel Amalo
Kota Kupang/Foto: Gamaliel Amalo

Bagikan Halaman ini

Share Button

 

Kupang–Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengumumkan sejumlah kota terkotor di Indonesia sesuai penilaian Adipura periode 2017-2018.

Empat di antara kota tersebut berada di Nusa Tenggara Timur (NTT) yakni Kota Kupang (ibu kota NTT), Waikabubak (ibu kota Sumba Barat), Ruteng (ibu kota Manggarai), dan Bajawa (ibu kota Ngada).

Wakil Wali Kota Kupang Hermanus Man mengatakan pihaknya segera mengevaluasi kinerja dinas kebersihan setempat terkait predikat kota terkotor tersebut.

“Jumat, saya suruh Dinas Kebersihan mempresentasikan menajeman pengelolaan sampah seperti apa,” ujar Herman kepada wartawan, Rabu (16/1).

Menurutnya pemerintah kota sudah bekerja maksimal menjadikan Kupang sebagai kota bersih, hanya saja tidak didukung penuh oleh masyarakat. Warga kota masih membuang sampah secara sembarangan. Sampah yang dibuang warga di jalan terbawa air hujan sehingga berserakan di jalan raya

Baca Juga :  Jokowi Jadwal Ulang Kunjungan ke NTT

Selain itu, lapak-lapak penjualan sayuran dan daging juga dibangun di sisi jalan raya yang membuat wajah kota menjadi jelek. Karena itu menurut Dia, predikat kota kotor tersebut bukan saja membuat pemerintah malu, tetapi juga masyarakat.

Pemerintah kota telah bekerja maksimal untuk menjadikan Kupang sebagai kota bersih. “Di dinas kebersihan ada sekitar 30 truk pengangkut sampah, 300 tenaga kerja membersihkan kota tetapi masih saja masuk kota terkotor,” kata Hermanus Man.

Selain itu, kondisi pasar tradisional di Kupang juga terlihat kumuh. Salah satu penyebabnya pedagang tidak tertib, serta kondisi pasar berlumpur dan becek.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat mengatakan, secara visual empat kota di NTT tersebut kotor. Bagi Dia, predikat kota terkotor menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk bekerja keras membuat wajah kota menjad bersih.

Baca Juga :  Jembatan Gantung Senilai Rp3,4 Miliar Diresmikan di Belu

“Saya harap ke depan bupati dan wali kota bekerja sama membuat daerahnya bersih kembali sehingga bisa mendapatkan penghargaan sebagai kota bersih,” tandasnya.

Sesuai laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kota-kota tersebut dinilai kotor karena sejumlah alasan yakni pengelolaan tempat pemrosesan akhir yang buruk, masih menerapkan open dumping (pembuangan terbuka), serta belum menyelesaikan dokumen kebijakan dan strategi daerah (jatkstrada) pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga. (sumber: MI/palce)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda