Home / Timor / Kota Kupang Diduga Pilih Kasih soal Proyek Jalan Hotmix 30 KM

Kota Kupang Diduga Pilih Kasih soal Proyek Jalan Hotmix 30 KM

Kondisi-Jalan-dari-Terminal-Oepura Menuju-Kantor-Lurah-Naikolan. Foto: Zonalinenews
Kondisi-Jalan-dari-Terminal-Oepura Menuju-Kantor-Lurah-Naikolan. Foto: Zonalinenews

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Proyek pekerjaan jalan hotmix sepanjang 30 kilometer (km) di Kota Kupang yang dikerjakan sejak 2015, sampai Februari 2016 tak kunjung rampung.

Selain itu pembangunan jalan tersebut terindikasi pilih kasih. Pasalnya ruas jalan di permukiman yang ditempati pejabat dan anggota DPRD sudah selesai dibangun. Kondisi ini jauh berbeda dengan ruas jalan di permukiman penduduk, berbatu dan lubang di berbagai tempat.

Seperti terlihat di Jalan Damai, Kelurahan Oebobo dan di depan kantor Kecamatan Alak, termasuk di sejumlah titik di Kelurahan Liliba. Bahkan ruas jalan yang menghubungkan Kelurahan Liliba dengan Oebufu ditinggalkan begitu saja. Jalan-jalan tersebut tergenang air hujan.

Sebaliknya di lokasi permukiman elite di Kelurahan Kelapa Lima tepatnya di belakang SMAN 2 Kupang, daerah konstituen Anggota Dewan, dan Kelurahan Oesapa Selatan dekat rumah pribadi Kabid Bina Marga Dinsa Pekerjaan Umum (PU) Kota Kupang sudah selesai dikerjakan dan terlihat mulus.

Keluhan tersebut disampaikan salah satu warga Kota Kupang David Wilson kepada wartawan, Senin 1 Februari 2015 sekitar pukul 10.30 Wita.

Menurut David, kondisi seperti itu menunjukan pelayahan pemerintah Kota Kupang tidak merata. “Ini sangat tidak adil,” ujar David.

Proses pekerjaan jalan kata Dia, seharusnya sudah rampung pada akhir 2015 lalu. Namun sampai saat ini tak kunjung selesai. Dampaknya, setiap hari masyarakat direpotkan dengan genangan air di ruas jalan yang rusak tersebut. Kondisi ini sangat meresahkan. Apalagi jalan yang belum selesai itu licin sehingga membahayakan pengguna jalan.

Baca Juga :  Dua Nelayan Kolbano Hilang di Laut

“Keterlambatan pekerjaan ini sangat menganggu masyarakat karena setiap hari debu masuk di dalam rumah kita. Dan yang sangat disayangkan lagi pihak-pihak terkait. Dinas PU Kota diduga tidak melakukan pengawasan terhaadap pembangunan jalan tersebut.

Ia mengatakan pekerja sudah melakukan pemadatan kelikir di beberap titik jalan di Kelurahan Alak kemudian ditinggalkan begitu saja. Karena tidak ada pekerjaan lanjutan, setelah hujan turun jalan tersebut rusak lagi.

“Masyarakat kecil ini sangat bersyukur dengan apa yang sudah diberikan oleh pemerintah tetapi apa yang dilakukan pemerintah jangan setengah–setengah seperti ini. Kita ingin pekerjaan jalan di Kota Kupang cepat diselesaikan,” kata Dia.

Pada 27 Januari 2016, Kabid Bina Marga Dinas PU Kota Kupang Yusuf Made mengatakan kepada wartawan di ruang kerjanya bahwa telah terjadi keterlambatan penyelesaian pekerjaan sehingga pemerintah memberikan tambahan waktu selama 50 hari kepada kontraktor.

Menurutnya, yang melakukan pekerjaan jalan hotmix di Kota Kupang menggunakan dana APBD II Tahun 2015 ada tiga perusahaan yakni PT UKB (asal Kupang), PT HMN (asal Kupang), dan PT TKU (asal Jakarta).

Baca Juga :  Jalan Ambles, Akses Menuju Perbatasan Timor Leste Terputus

Dari tiga perusahaan ini lokasi di bagi perkecamatan seperti Kecamatan Kelapa Lima dikerjakan oleh PT. HMN. Kemudian Kecamatan Oebobo dikerjakan oleh PT UKB, dan Kecamatan Alak dan Maulafa PT TKU. Dari tiga perusahaan ini yang menyelesaikan pekerjaannya tepat pada waktu hanay PT HMN.

“Sedangkan PT UKB dan PT TKU masih menyisakan pekerjaannya hingga sekitar 50%. Karena itu dua perusahaan ini diberi adendum penambahan waktu pelaksanaan 50 hari. Dan dikenakan denda seper 1.000 setiap hari selama 50 hari sesuai nilai kontraknya,” ungkap Yusuf.

Ia mengakui keterlambatan pekerjaan oleh dua perusahaan tersebut karena stok material asapal langka. Pasalnya PT TKU tidak memiliki AMP di Kupang.

Sedangkan PT UKB tidak mengalami kelangkaan aspal karena perusahaan tersebut tengah melakukan aktivitas di tempat lain.

“Dengan adanya keterlambatan penyelsaian pekerjaan yang tidak tepat pada waktunya ini saya merasa ini adalah sebuah kegaglan. Namun untuk ke depan kita harus lebih teliti lagi untuk perusahaan yang ingin melakukan kegiatan pekerjaan di Kota Kupang sehingga tidak lagi terjadi seperti sekarang ini,“ kata Yusuf. (edited/sumber: zonalinenews)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda