Home / Humaniora / Korban Meninggal Akibat Gigitan Anjing Rabies di NTT Bertambah

Korban Meninggal Akibat Gigitan Anjing Rabies di NTT Bertambah

Ilustrasi: Vaksinasi Anjing Rabies/Foto dari Tribun
Ilustrasi: Vaksinasi Anjing Rabies/Foto dari Tribun

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Korban meninggal akibat gigitan anjing rabies di Nusa Tenggara Timur (NTT) selama September 2019 bertambah menjadi dua orang, dari sebelumnya satu orang.

Korban meninggal yang dilaporkan terakhir seorang pria berusia 67 tahun asal Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada meninggal setelah dirawat selama lima hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bajawa. Pada 2 September lalu, seorang anak berusia 12 tahun asal Manggarai Timur meninggal akibat digigit anjing rabies karena tidak diberikan virus antirabies (VAR) setelah digigit anjing rabies.

“Korban digigit anjing miliknya yang belum divaksinasi pada Maret 2019 dan meninggal pada Minggu (8/9) pukul 14.27 Wita,” kata Pemerhati Rabies dari Rumah Sakit TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, dokter Asep Purnama, Senin (9/9).

Baca Juga :  Rumah Sakit Manggarai Barat Rawat 30 Pasien DBD

Setelah digigit anjing, korban yang tidak disebutkan identitasnya itu melakukan langkah-langkah pencegahan yakni mencuci luka dengan sabun di air yang mengalir. Selanjutnya diberi VAR di dinas kesehatan setempat.

Sayangnya pemberian VAR yang kedua atau pada hari ke-7 setelah digigit anjing, dan pemberian VAR ketiga atau pada hari ke-21 setelah digigit anjing, tidak dilakukan.

“Mungkin kakek itu menganggap luka gigitannya ringan, apalagi anjing penggigit adalah peliharaan sendiri, sehingga pemberian VAR sekali saja sudah dianggap cukup.

Karena tidak diberikan vaksin kedua dan ketiga, tambah dokter Asep, virus rabies masuk ke tubuh korban melalui air liur anjing yang tertular rabies, dan telah menyebar hingga mencapai otak. “Dan pada bulan ke-6 pasca digigit anjing muncullah malapetaka itu,” tandasnya.

Baca Juga :  DPRD NTT Buka Puasa Bersama Wartawan

Menurutnya ratusan warga telah meninggal sejak rabies masuk ke Flores pada 1997 hingga 2019. Selama itu, virus rabies menebar ancaman kematian bagi seluruh warga Flores hingga Lembata. Bahkan rabies telah menyebar ke Bali dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. “Sampai saat ini belum ada tanda-tanda virus rabies meninggalkan Flores. Sebaliknya semakin menjadi-jadi,” ujarnya.

Karena itu, Dia minta masyarakat merelakan anjing peliharaan mereka divaksin untuk mengantisipasi kembali jatuhnya korban jiwa akibat gigitan anjing rabies. Pemerintah Provinsi dan kabupaten se-Flores hingga Lembata juga harus bahu-membahu memberantas melakukan eliminasi anjing rabies. Jika tidak dilakukan, ancaman kematian akibat virus rabies masih berlanjut. (mi/gma)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda