Home / Bisnis / Klaster Bawang-Tenun Ikat Tumbuhkan Ekonomi Kreatif Warga Perbatasan

Klaster Bawang-Tenun Ikat Tumbuhkan Ekonomi Kreatif Warga Perbatasan

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo bersama Kepala BI Perwakilan NTT Naek Tigor Sinaga
Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo bersama Kepala BI Perwakilan NTT Naek Tigor Sinaga

Bagikan Halaman ini

Share Button

Atambua–Bank Indonesia (BI) Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT) membangun klaster bawang merah dan tenun ikat di perbatasan RI-TImor Leste mulai berdampak pada tumbuhnya ekonomi kreatif masyarakat setempat.

Hasil panen bawang merah dan kerajinan tenun ikat dari dua klaster ini dipamerkan di Galeri Tenun Atambua saat kunjungan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Selasa (18/9).

Tjahjo bersama Kepala BI Perwakilan NTT Naek Tigor Sinaga, dan Gubernur NTT Viktor Laiskodat berkeliling ruangan gedung tersebut untuk melihat hasil kerajinan warga, serta kegiatan pameran hasil bumi seperti bawang, tomat, cabai dan hasil tenun di luar ruangan.

Kepala BI Perwakilan NTT Naek Tigor Sinaga mengatakan BI memfasilitasi para perajin yang tergabung dalam kelompok tenun ikat dengan infrastruktur pendukung seperti rumah tenun, dan peralatan tenun.

Mereka juga dibekali suprastruktur yakni memperkuat sumber daya manusia (SDM) dan keterampilan perempuan penenun dengan berbagai pelatihan seperti kewirausahaan, penguatan kelembagaan, pewarnaan dan penenunan.

Baca Juga :  Siklon Jangmi Melumpuhkan Pelayaran di NTT

“Adanya pendampingan produk-produk yang dihasilkan adalah produk-produk yang berkualitas,berdaya saing dan diminati pasar, karena itu Bank Indonesia juga memfasilitasi mereka untuk terlibat dalam berbagai kegiatan pameran baik di NTT maupun di Bali, Surabaya, Makasar dan Jakarta. Kami
meyakini hal ini dalam meningkatkan ekonomi rumah tangga khususnya warga yang pada akhirnya mendukung pembangunan ekonomi,” kata Sinaga.

Menurutnya klaster bawang mereah dibangun di Desa Fatuketi dan Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, kini menjadi alternatif sumberpendapatan masyarakat karena dampak kekeringan.

Bahkan hasil bawang merah dari dua desa tersebut sudah diekspor ke Timor Leste. Selain itu, klaster bawang merah tersebut juga sudah mampu menyediakan bawang merah untuk warga Kabupaten Belu dengan harga Rp10.000 per kilogram.

Ke depan,Bank Indonesia mendorong agar pemasaran tenun ikat berbasis ICT (Information and Communication Technology) agar lebih mudah menembus pasar ekspor.

Baca Juga :  Bank NTT Serahkan Bantuan CSR ke Kota Kupang

“Bank Indonesia meyakini bahwa dengan keterlibatan semua pihak dalam pembangunan di daerah perbatasan, maka akanmenciptakan ketahanan ekonomi, menciptakan momentum pertumbuhan ekonomi terutama seiring dengan tumbuhnya sumber-sumber ekonomi baru di luar jawa yang pada akhirnya menciptakan stabilitas ekonomi. Dengan stabilitas ekonomi maka inflasi yang rendah dan terkendali akan lebih mudah dicapai,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Tigor juga menyerahkan kendaraan tiga roda (motor VIAR) kepada klaster bawang merah untuk memudahkan mobilisasi penjualan dan penyerahan secara simbolis PSBI, penyediaan air bersih kepada SMPN Silawan, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur.

Mendagri Tjahjo Kumolo menyambut baik klaster pengembangan ekonomi yang dilakukan Bank Indonesia tersebut. Dia minta pemerintah daerah melestarikan kerajinan khas daerah, tidak hanya di Belu tetapi juga di seluruh daerah. “Saya sudah lima kali ke sini. Bandara akan ditingkatkan dan juga kerajinan-kerajinan khas harus terus bertumbuh,” ujarnya. (mi)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda