Home / Dunia / Kisah Perang Enam Hari Israel-Arab

Kisah Perang Enam Hari Israel-Arab

Tank Israel / Foto Reuters
Tank Israel / Foto Reuters

Bagikan Halaman ini

Share Button

Selama perang enam hari, Israel merebut Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai dari tangan Mesir, Tepi Barat (termasuk Yerusalem Timur) dari tangan Yordania, dan Dataran Tinggi Golan dari tangan Suriah.

KISAH perang paling terkenal dalam sejarah dunia adalah Perang Enam Hari antara Israel melawan tiga negara Arab yakni Mesir, Jordania, dan Suriah.

Perang Enam Hari dimulai pada 5 Juni 1967 dengan serangan udara mendadak Israel yang mengakibatkan ratusan pesawat tempur AU Mesir hancur. Di saat yang sama Israel juga menggelar serangan darat ke Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai.

Mesir yang tak menduga serangan mendadak itu kelabakan dan terpaksa mundur dari Sinai sehingga pasukan Israel menduduki semenanjung itu.

Mesir kemudian menyeret Jordania dan Suriah ke dalam perang. Namun, serangan balasan Israel membuat negeri itu merebut Jerusalem Timur dan Tepi Barat dari Jordania serta dataran tinggi Golan dari Suriah.

Pada 11 Juni 1967, gencatan senjata diteken. Saat perang berakhir korban tewas di pihak Mesir, Jordania, dan Suriah mencapai hampir 20.000 orang. Sedangkan Israel hanya kehilangan kurang dari 1.000 tentara saja.

Perang ini dipicu dengan penumpukan pasukan negara-negara Arab di perbatasan Israel sebagai persiapan perang melawan negeri Yahudi itu. Pada 27 mei 1967, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser mengatakan, tujuan utama negara-negara Arab adalah menghancurkan Israel.

Mesir kemudian menekan pakta aliansi dengan Jordania pada akhir Mei yang isinya kedua negara akan memberi bantuan jika salah satu dari mereka diserang Israel. Penandatanganan kesepakatan aliansi Mesir dan Jordania ini di mata Israel jelas merupakan sebuah pernyataan perang.

Melihat kondisi ini Israel tak tinggal diam. Angkatan udara negeri itu melatih para pilot dan kru daratnya dengan keras sehingga satu pesawat bisa digunakan untuk empat kali sortie sehari.

Sementara, biasanya angkatan-angkatan udara negara-negara Arab hanya melakuan satu atau dua sortie per hari.

Selain itu, para pilot tempur Israel juga berlatih ekstensif menembak target dan menghapal semua detil informasi soal AU Mesir. Hasilnya, AU Israel (AU) bisa mengerahkan gelombang serangan nyaris tanpa henti ke pangkalan-pangkalan udara mesir di hari pertama perang.

Tak hanya itu, IAF juga unggul jauh dari Mesir dengan melumpuhkan angkatan udara negeri itu hanya dalam satu hari. Di darat, AD Israel memiliki 264.000 personel, meski jumlah itu mungkin sudah ditambah para wajib militer dan pasukan cadangan.

Untuk menghadap tentara Jordania di Tepi Barat, Israel mengerahkan 40.000 tentara dan 200 tank.

Dua brigade tentara Israel ditempatkan di dekat Jerusalem, Brigade Pasukan Payung ke-55 dikirim ke Semenanjung Sinai. Sedangkan Brigade Lapis Baja ke-10 ditempatkan di sisi utara Tepi Barat.

Sementara Mesir, memiliki menempatkan 100.000 personel militernya di Sinai, termasuk empat divisi infantri, dua divisi lapis baja, satu divisi mekanik. Selain itu Mesir memiliki 950 tank, 1.110 kendaraan taktis, dan lebih dari 1.000 pucuk persenjataan artileri. Pasukan Suriah berkekuatan 75.000 personel yang dtempatkan di sepanjang perbatasan negeri itu.

Baca Juga :  Operasi Pembebasan Sandera WNI, 18 Tentara Khusus Filipina Tewas

Sedangkan Jordania memiliki 55.000 tentara yang diperkuat 300 tank modern, serta persenjataan artileri modern. Meski di darat cukup kuat, angkatan udara Jordania tak terlalu tangguh dengan hanya memiliki 24 jet Hawker-Hunter buatan Inggris, enam pesawat tranpors, dan dua helikopter.

Meski demikian jet-jet tempur Hawker Hunter Jordania ini mampu mengimbangi Dasualt Miraget III milik AU Israel.

Selain itu, terdapat 100 tank dan satu divisi tentara AD Irak yang disiapkan di perbatasan Jordania dan sejumlah sukarelawan pilot tempur dari AU Pakistan.

Pada 5 Juni pukul 07.45, Israel menggelar serangan udara dengan sandi Operasi Focus dengan menerbangkan hampir semua jet tempurnya ke Mesir. Saat itu, infrastruktur pertahanan Mesir sangat buruk dan tak ada pelindung apapun di pangkalan-pangkalan udara untuk melidungi jet-jet tempurnya.

Jet-jet tempur Israel dikirim ke Mesir dengan dua jalur, yaitu terbang rendah di atas permukaan Laut Tengah dan melintasai Laut Merah.

Sebenarnya gelombang jet-jet tempur Israel ini tertangkap radar Jordania yang kemudia n mengirimkan kode ” perang” ke rantai komando militer Mesir.

Namun, masalah komunikasi dan komando dalam angkatan bersenjata Mesir mengakibatkan pesan penting itu tak terkirim ke pangkalan-pangkalan udaranya.

Akibat masalah ini, jet-jet tempur Israel leluasa menghancurkan landasan pacu dan jet-jet tempur AU Mesir. Hanya empat jet tempur Mesir yang bisa mengudara saat serangan berlangsung.

Di akhir hari pertama perang, sebanyak 336 pesawat militer Mesir hancur dan 100 pilot tewas, tetapi angka ini dibantah pihak Mesir.

Di antara pesawat-pesawat yang hancur itu terdapat 30 pesawat pengebom Tu-16, 27 pesawat pengebom Il-28, 12 pengebom tempur Su-7, lebih dari 90 MiG-21, MiG-19, dan 25 MiG-17 serta 32 jenis pesawat angkut dan helikopter segala jenis.

Sementara pihak Israel hanya kehilangan 19 pesawat, dua hancur dalam pertarungan di udara dan sisanya terkena artileri anti-serangan udara. Kesuksesan serangan ini menjamin superioritas Israel di udara di sepanjang perang selama enam hari itu.

Sementara di darat, pada 5 Juni 1967 pukul 07.50, tiga brigade lapis baja Israel yang dipimpin Mayor Jenderal Tal melintasi perbatasan Mesir di dua titik yaitu Nahal Oz dan Khan Younis.

Pasukan Israel ini melintasi perbatasan dengan diam-diam dan menahan tembakan selama mungkin untuk menjaga efek kejutan dari serangan tersebut.

Tembakan pertama dilepaskan di “Celah Rafah” sebuah daerah yang membentang sepanjang 11 kilometer yang dilintasi tiga jalan utama di Sinai yang menuju kota El-Qantarah el-Sharqiyya dan Terusan Suez.

Baca Juga :  65 Imigran Tujuan Australia Terdampar di Rote

Tempat itu dipertahankan empat divisi tentara Mesir dan dilengkapi dengan ladang ranjau, bunker bersenjata, bunker bawah tanah, senjata tersembunyi, dan parit.

Kondisi semakin sulit karena medan di kedua sisi “Celah Rafah” ini nyaris tak mungkin dilalui. Sehingga Israel berencana untuk mengosentrasikan pasukan untuk menyerang tentara Mesir di titik tertentu.

Mayjen Tal kemudian memerintahkan Brigade Lapis Baja ke-7 untuk menjepit Khan Younis dari utara dan Brigade Lapis Baja ke-60 maju dari sisi selatan.

Nantinya, kedua brigade lapis baja itu akan bertemu dan mengepung Khan Younis sementara pasukan payung akan diterjunkan untuk merebut Rafah. Pasukan Israel mendapatkan perlawanan sengit dari tentara Mesir yang bertahan di posisi-posisi strategis. Bahkan Brigade Lapis Baja ke-7 kewalahan dihujani tembakan oleh pasukan Mesir.

Akhirnya, bantuan serangan udara dan artileri dikerahkan untuk membantu pasukan tank yang kerepotan itu. Serangan udara dan artileri inilah yang mengakibatkan pasukan Mesir terpaksa mundur.

Pada 5 Juni petang, pasukan Israel berhasil menembus pertahanan Mesir tetapi harga yang dibayar sangat tinggi.

Komandan Brigade Lapis Baja ke-7 Kolonel Shmuel Gonen mengatakan, mereka terpaksa meninggalkan rekan-rekan mereka yang tewas dan puluhan tank hancur di Rafah.

Sedangkan dari pihak Mesir, pertempuran di hari pertama itu mengakibatkan 2.000 tentaranya gugur dan 40 tank hancur.

Setelah jalan terbuka, pasukan Israel maju menuju Arish, kota terbesar di Semenanjung Sinai.

Pasukan dari batalion lapis baja ke-79 menyerang ke jalur Jiradi, sebuah celah sempit yang dipertahankan Brigade Infanteri ke-112 Mesir.

Dalam pertempuran yang sangat sengit, celah strategis itu berpindah tangan beberapa kali meski akhirnya Israel bisa mengatasai perlawanan Mesir.

Meski tak diketahui jumlahnya, pasukan Mesir kehilangan personel dan tank cukup banyak. Sementara Israel kehilangan 66 tewas, 93 terluka, dan 28 tank. Kesuksesan Israel di hari pertama di Mesir ini berlanjut dengan kesuksesan di front Tepi Barat dan Golan.

Di akhir perang, Israel sukses merebut Tepi Barat dan Jerusalem dari Jordania serta dataran tinggi Golan dari tangan Suriah.

Kemenangan dalam perang ini membuat rakyat Israel dilanda euforia dan kesuksesan militer Israel dipuji setinggi langit.
Perang ini kemudian akan disambung Perang Yom Kippur pada 1973 sebagai upaya Mesir dan Suriah merebut kembali daerah yang dianeksasi Israel.

Akibat lain dari perang ini adalah lebih dari 300.000 warga Palestina meninggalkan wilayah-wilayah yang direbut Israel dalam perang ini.

Pada Desember 1967, sebanyak 245.000 warga Palestina mengungsi ke Jordania, 11.000 orang ke Mesir, serta 116.000 warga Palestina dan Golan pindah ke wilayah lain di Suriah. (Sumber: Wikipedia, History, BBC, Kompas)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda