Home / Humaniora / Kisah Dolin Asal Kupang yang Kuliah di ITS Surabaya

Kisah Dolin Asal Kupang yang Kuliah di ITS Surabaya

Bagikan Halaman ini

Share Button
Foto: media indonesia

Foto: media indonesia

SURABAYA–LINTASNTT.COM:: Telah hampir dua semester Fridolinda Seruya Nakluy merasakan pahit manisnya bangku kuliah. Menimba ilmu di kelas, mengerjakan tugas atau bersiap menghadapi ujian akhir semester, seharusnya sudah menjadi realita yang tak lagi aneh bagi perempuan yang akrab disapa Dolin itu.

Namun, mahasiswa jurusan Statistika Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Jawa Timur, ini mengaku masih belum percaya bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Tanah Air. Apalagi, keluarga Dolin termasuk golongan kurang mampu.

Raut bahagia tampak di wajah Dolin saat ditemui di sela-sela ajang Pertamina Goes to Campus di ITS, Surabaya, Jatim, beberapa waktu lalu. Berbagai kisah mengenai kehidupan sehari-harinya ia ceritakan. Tahun ini, indeks prestasi kumulatif alias IPK Dolin cukup bagus, yakni 3,46.

“Lulus SMA saya tidak terpikirkan bisa kuliah, karena bisa sekolah hingga SMA saja sudah puji syukur. Tidak pernah kebayang kuliah di luar daerah, karena saya hanya mengetahui Universitas Nusa Cendana yang ada di Kupang saja,” ujar dia.

Dolin, 18, merupakan salah satu penerima beasiswa dari Pertamina. Sejak awal, putri daerah yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur itu memang bertekad kuliah agar bisa membahagiakan kedua orangtuanya.

Baca Juga :  Undana Terima 7.169 Mahasiswa Baru

Namun, impian itu serasa jauh dua tahun silam. Pasalnya, tidak mungkin Dolin bisa kuliah jika mengandalkan uang orangtuanya. Sang ayah hanya sebagai tukang ojek dengan penghasilan tidak lebih dari Rp500 ribu per bulan. Membayar iuran sekolah di SMA Negeri 1 Kupang saja sulit, apalagi membiayai kuliah. Semasa sekolah dulu, Dolin bahkan harus mencari tambahan biaya dengan menjadi guru les kimia bagi teman-temannya.

“Ayah belum bisa bayar uang sekolah, jadi saya ngelesin buat bayar uang sekolah, karena di kelas aku aktif jadi teman-teman yang belum paham minta diajarin,” ujar anak kedua dari pasangan Mikael Nakluy dan Sarleta itu.

Dari penghasilan yang tak seberapa itu, Dolin mampu membiayai sekolahnya. Meskipun harus berjalan kaki menempuh jarak lima kilometer dari tempat tinggalnya, semangat juangnya Dolin untuk terus belajar tidak pernah padam. “Saya punya cita-cita jadi menteri pendidikan,” cetus dia.

Gayung pun bersambut. Dolin yang kala itu kebetulan memberikan les kimia kepada anak dari salah satu karyawan Pertamina di Kupang, ditawarkan untuk program beasiswa Pertamina Tunas Patra. Kesempatan itu langsung ia ambil.

Baca Juga :  Menteri PPA Minta Pemprov NTT Serius Cegah Perdagangan Manusia

Berbagai tes dilalui, mulai dari psikotes, wawancara hingga tes tertulis. Akhirnya Dolin pun berhasil mendapatkan beasiswa dari CSR Marketing Operation Region V (Surabaya) Pertamina untuk melanjutkan kuliah ke bangku PTN.

Demi menggapai cita-citanya, Dolin rela hidup jauh dari orangtua dan saudaranya. Namun, tak sekalipun ia melupakan keluarga. Kelebihan uang saku bulanan yang ia dapat selalu ia sisihkan, sebagian untuk ditabung dan sebagian lagi ia kirim ke kampung halaman.

“Hidup adalah anugerah, jadi apa pun yang terjadi saya harus terus melangkah, karena apa pun yang diberikan pasti yang terbaik buat saya. Saya berterima kasih banyak kepada Pertamina yang telah memberikan saya kesempatan untuk kuliah,” ujar Dolin.

Lebih jauh, Dolin berharap program beasiswa Pertamina bisa terus berlanjut. Pasalnya, masih banyak putra-putri daerah yang juga bisa maju jika diberikan kesempatan. “Karena keterbatasan biaya, mereka berhenti melanjutka n sekolah walaupun sebenarnya mereka mampu berprestasi,” tandas dia. (Sumber: Metrotvnews.com)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda