Home / Lembata - Alor / Kisah Alquran Kulit Kayu Berusia 500 Tahun di Alor

Kisah Alquran Kulit Kayu Berusia 500 Tahun di Alor

Alquran Kulit Kayu/Foto: Gamaliel
Alquran Kulit Kayu/Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kalabahi–Sebuah Alquran milik penyebar Agama Islam masih tersimpan rapi di Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, NTT.

Alquran tersebut mulai ramai dikunjungi wisatawan asing dan domestik. Mereka ingin melihat dari dekat kondisi Alquran serta mempelajari sejarah masuknya peradaban Islam di Alor.

“Diperkirakan usia Alquran kulit kayu ini lebih dari 500 tahun lalu masuk ke Alor namun bisa usianya lebih dari itu, karena menurut orang-orang dari kerajaan di
Ternate, Alquran ini berusia lebih dari 800 tahun terhitung sejak dibawa keluar dari Ternate,” ujarnya.

Saat ini Alquran tersimpan rapi di rumah Nurdin Gogo, 32. Ia adalah keturunan ke-14 Sultan Iang Gogo, satu dari lima bersaudara penyebar ajaran Islam asal Ternate, Maluku Utara.

Baca Juga :  Gempa Alor tidak Menimbulkan Kerusakan Bangunan

Empat orang lainnya Elyas Gogo, Djo Gogo, Boi Gogo, dan Kimales Gogo. Mereka datang ke Alor di masa pemerintahan Sultan Baabulah.

Menurut Nurdin, perahu layar yang mereka tumpangi lima bersaudara ini bernama Tuma Ninah (berhenti atau singgah sebentar).

Perahu singgah Vilete (Tanjung Bunga, Desa Alila) untuk mencari air minum. “Karena tidak menemukan air, Iang Gogo kemudian menusukan tongkat ke pasir, seketika itu muncul air tawar dari dalam pasir. Mereka kemudian minum dan membawa air ke perahu,” ujarnya. Air tawar tersebut masih ada di Bota desa Alilia, Kecamatan Alor Barat Laut.

“Alquran ini berisikan ayat-ayat lengkap Alquran 30 juz (114 surat) diisi dalam kotak berbahan kayu,” ujarnya kepada wartawan yang mengunjungi rumah Nurdin, Rabu (10/8).

Baca Juga :  80 Persen Gangguan Listrik di Lembata karena Pohon

Kondisi Alquran terlihat masih utuh, namun tidak diketahui jenis kulit kayu yang digunakan untuk menuliskan ayat-ayat Alquran tersebut.

Dia mengatakan pemerintah daerah setempat berencana memindahkan Alquran ke museum, namun permintaan itu ditolak. “Kondisi Alquran tidak rapuh, tetepi kita juga tidak tahu ketika dpindahkan ke museum justeru kondisinya akan rusak karena digunakan bahan pengawet,” kata Dia.

Bupati Alor Amon Djobo mengatakan bahwa situs Alquran tua memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu wisata religi di Alor terurama bagi umat muslim di berbagai daerah di Tanah Air.

“Kami akan kembangkan situs Alquran tua ini menjadi destinasi wisata religi selain potensi wisata kampung adat, panorama bawah laut, dan wisata pantai,” ujarnya. (gma/rr)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda