Home / Daerah / Kekeringan, Sektor Pertanian NTT Tumbuh Hanya 1.04%

Kekeringan, Sektor Pertanian NTT Tumbuh Hanya 1.04%

Ilustrasi: Petani mencabut bibit padi di tempat persemaian di Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang beberapa waktu lalu. Foto: Gamaliel
Ilustrasi: Petani mencabut bibit padi di tempat persemaian di Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang beberapa waktu lalu. Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur (NTT) Darwis Sitorus menyebutkan selama triwulan III 2019, sektor pertanian hanya tumbuh 1,04%, padahal kontribusi sektor tersebut terhadap produk domestik regional bruto (PDRD) sebesar 27,84%.

Salah satu penyebabnya ialah bencana kekeringan yang mengakibatkan produksi gabah serta banyak areal persawahan tidak diolah lantaran krisis air.

“Puncak kekeringan sangat memengaruh kondisi ekonomi di triwulan III 2019,” kata Sitorus dalam keterangan pers kepada wartawan di Kupang, Selasa (5/11).

Musim tanam awal 2019 juga bergeser dari triwulan I ke triwulan II yang disebabkan pergeseran musim hujan. Akibatnya, masa panen gabah yang seharusnya di triwulan II bergeser ke triwulan III. Kondisi tersebut yang membuat pertumbuhan sektor pertanian di triwulan III tidak terlalu besar.

Baca Juga :  Petani NTT Tahan Penjualan Gabah

Namun, ekonomi NTT triwulan III tumbuh sebesar 3,87% jika dibandingkan periode yang sama 2018 (year on year). Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh industri pengolahan sebesar 10,53%, sedangkan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh konsumsi rumah tangga, tumbuh sebesar 5,63%.

Sementara itu, industri pengolahan tumbuh paling tinggi yakni 10,53%, kendati kontribusi terhadap PDRB hanya 1,29%.

Di sisi lain, ada dua sektor yang pertumbuhannya minus yakni real estate minus 3,45% serta pengadaan listrik dan gas minus 5,11%.

Kontribusi sektor real estate sebesar PDRB 2,26% dan kontribusi pengadaan listrik gas terhadap PDRB sebesar 0,06%. Sitorus mencontohkan real estate misalnya minus karena menurunnya minat masyarakat menyewa rumah toko (ruko). “Ruko-ruko sekarang tidak laku karena belanja online,” ujarnya. (gma)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda