Home / Humaniora / Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Dipicu Miras

Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Dipicu Miras

MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise /Foto: Lintasntt.com
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise /Foto: Lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengingatkan pemerintah daerah (Pemda) tidak menutup mata terhadap kasus kekerasan perempuan dan anak.

Apalagi di provinsi di wilayah Indonesia timur seperti Papua, kekerasan terhadap perempuan masih tinggi yang umumnya dipicu minuman keras (miras). Para suami menengak minuman keras (miras). Setelah mabuk, mereka memukul istri dan anak-anak.

“Banyak perempuan menjadi gila dan bahkan meninggal dalam perawatan di rumah sakit karena dipukul oleh suami, dan kekerasan fisik terhadap perempuan masih ada sampai sekarang,” kata Menteri Yohana saat menghadiri Peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) di Car Free Day (CDF) Kupang, Sabtu (25/11).

Menurutnya sekitar 28 juta perempuan di seluruh Indonesia mengalami kekerasan setiap hari, dengan jumlah terbanyak di Indonesia timur. Pemerintah daerah tidak boleh menutup mata terhadap kondisi seperti ini. Jangan biarkan mereka menjadi korban kekerasan.

Baca Juga :  Miris, 148 Anak di Kupang Alami Kekerasan Seksual

“Perempuan dan anak menentukan masa depan bangsa. Jangan rasa berat untuk menambah anggaran mengurus perempuan dan anak,” tandasnya.

Menteri Yohana juga minta Pemerintah Daerah NTT tidak membiarkan kasus kekerasan perempuan dan anak terus berlangsung yang kemudian menjurus kepada perceraian.

“Mohon (pemerintah daerah) memperhatikan hal-hal ini. Jangan ada lagi kekerasan terhadap perempuan dan anak,” kata Dia.

Menurutnya Kementerian PPPA sudah melakukan langkah-langkah pencegahan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak seperti bertemu dewan adat di Papua dan di NTT.

“Kami menggandeng pemerintah, tokoh agama dan tokoh adat untuk bersama-sama memberikan penyuluhan sampai ke desa-desa supaya perempuan dan anak dilindungi. Jangan sampai dieksploitasi dan didiskriminasi,” ujarnya. (sumber: mi/palce)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda