Home / FICER / Kebesaran Tuhan di Dili

Kebesaran Tuhan di Dili

Bagikan Halaman ini

Share Button
Patung Kristus Raja

Patung Kristus Raja

BILA sudah sampai Dili, jangan lupa pergi ke Fatucama. Wilayah perbukitan di bagian timur pusat kota ini tidak saja menawarkan panorama elok dari segala sisi, tetapi juga wisata spiritual.

Di bukit ini berdiri patung Kristus Raja atau Christo Rei setinggi 27 meter konon tertinggi ketiga di dunia setelah patung Kristus Penebus Dosa di puncak Gunung Corcobado, Rio de Jeneiro, Brazil yang memiliki tinggi 30 meter, dan patung Yesus Memberkati setinggi 30 meter di Manado, Sulawesi Utara.

Karena itu di sela-sela kunjungan ke sana, saya menyempatkan diri bertandang ke Fatucama. Ruas jalan mulus dan berkelok-kelok melintasi pesisir pantai sejauh tujuh kilometer. Dili-Fatucama bisa ditempuh dengan mobil sewaan atau taksi sekitar 20 menit. Kendaraan diparkir di lokasi yang sudah disiapkan di kaki bukit sehingga selanjutnya perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki.

Ada 601 anak tangga yang mesti dilewati sebelum tiba di kaki patung setinggi 27 meter itu. Patung berdiri pada bola dunia yang ditopang pilar setinggi 10 meter. Patung Kristus Raja  dipahat seniman Mochamad Syailillah dari Bandung ini, membentangkan dua tangannya menghadap ke Dili seolah memberkati kota bersama penghuninya.

Inilah satu dari sejumlah peninggalan Indonesia di Timor Leste. Patung Kristus Raja memang simbol agama Kristen, akan tetapi patung yang dibangun pada 24 November 1996 itu lebih tepat disebut sebagai hadiah Presiden Soeharto bagi bekas provinsi Timor-Timur itu.
Sepanjang jalur pendakian, pengunjung akan melewati 15 stasi (tempat perhentian peristiwa penyaliban Kristus) yang terawat rapi. Perjalanan melelahkan meniti anak tangga bakal terbayar jika mencapai setengah jalan, anda bakal disuguhi pemandangan pantai di bawah serta perbukitan hijau terjal di arah timur.

Baca Juga :  Saya Menunggu di Montmartre

Acou Buavida, warga setempat yang ditemui di Fatucama mengatakan setiap hari tidak kurang 50 orang berkunjung ke patung. Pengunjung biasnya bertambah banyak Jumat atau Minggu untuk berwisata sekaligus berdoa. Pada perayaan Jumat Agung dan Paskah, bisanya patung ristus Raja ramai dikunjungi umat Katolik untuk berdoa dan melakukan jalan salib. “Setiap pagi selalu ada orang yang datang ke Christo Rei untuk olahraga,” katanya.

Bagian kanan dan kiri patung terdiri dari jurang sedalam sekitar 100 meter. Sedangkan bagian depannya laut lepas. Lokasi di kaki patung juga cukup luas bisa menampung hingga 100 orang. Namun masih ada lokasi yang lebih luas yang bisa menampung sampai 500 orang sebelum mencapai stasi terakhir. Di sini sudah tersedia tempat duduk bagi pengunjung untuk melepas lelah.

Hamparan pasir putih di sepanjang jalan menuju patung merupakan merupakan lokasi wisata yang juga sudah ditata lebih rapi dari kondisi lima tahun lalu. Di sisi jalan terdapat berbagai penginapan dan rumah makan langganan pejabat dan pekerja asing. Kediaman Perdana Menteri Xanana Gusmao dan salah satu rumah milik pasangan Raul Remos dan Krisdayanti juga terdapat di wilayah ini.

Baca Juga :  Aldo Doken dan Janji yang tak akan Terpenuhi

Ada lagi patung Paus Yohanes Paulus II yang dibangun pada 2007 di Tasitolu, sekitar delapan kilometer arah barat Dili. Menurut Acou, patung ini dibangun untuk mengenang kunjungan Sri Paus pada 12 Oktober 1989. Seperti patung Kristus Raja, patung ini juga menghadap ke Kota Dili. “Ini menjadi bukti kebesaran Tuhan,” katanya.

Masyarakat Timor Leste seperti Acou sulit melupakan rentetan peristiwa penting pasca kunjungan pemimpin umat Katolik itu. Menurutnya di lokasi tersebut pada 20 Mei 2002 untuk pertama kalinya bendera nasional Timor Leste dikibarkan dan lagu kebangsaan dinyanyikan. Di lokasi yang sama diperkirakan terdapat kuburan massal peristiwa pembantaian Santa Cruz pada 1991. Untuk mengenang kejadian itu, di situ saat ini telah dibangun sebuah gereja kecil (Kapela). “Peristiwa penembakan itu tetap dikenang,” katanya. Patung ini juga rutin didatangi peziarah termasuk dari luar negeri untuk berwisata maupun berdoa.

Ongkos taksi dari pusat kota ke Tasitolu misalnya tidak terlalu mahal, sekitar US$6 setara Rp60 ribu. Namun bila memilih naik kendaraan umum, lebih irit atau hanya menghabiskan US$20 sen sekitar Rp2.000 sekali jalan.

Bedanya jalan menuju Tasitolu tidak mulus, banyak lubang di tengah jalan sehingga perjalanan bisa menghabiskan waktu lebih dari 30 menit. Keuntungan lain jalan mulai dari kaki bukit hingga patung beraspal mulus bisa dilewati kendaraan bermotor, sehingga pengunjung tidak perlu lagi menaiki tangga seperti bila mengunjungi Patung Kristus Raja. (lintasntt.com/Gamaliel Amalo)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda