Home / Bisnis / Juni 2019, NTT Luncurkan Produk Miras Bernama ‘Sophia’

Juni 2019, NTT Luncurkan Produk Miras Bernama ‘Sophia’

Foto: Lintasntt.com
Foto: Lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) segera mengemas minuman keras (miras) lokal untuk dijual bebas di pasaran dengan nama Sophia atau Sopi Asli.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) produksi sopi dilakukan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Fredrik Benu bersama Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Senin (1/4).

Sophia diluncurkan setelah lolos uji lab di Laboratorium Biosains Undana, kemudian diproduksi oleh oleh salah satu unit usaha di universitas negeri tersebut. Sedangkan penjualan dan pemasaran minuman tersebut akan ditangani oleh salah satu pengusaha lokal.

Gubernur Viktor Laiskodat mengatakan sophia mulai produksi Juni 2019 sebanyak 2.000 botol dengan kadar alkohol 45%. Namun, untuk kebutuhan perjamuan, kadar alkohol hanya 5%. Kadar alkohol sebesar itu masih di bawah minuman Pai Ciu asal Cina sebesar 50%, dan di atas kadar alkohol vodka sebesar 40%.

Baca Juga :  Besok, Perajin Tahu Tempe di Kupang Tidak Mogok

Menurutnya sophia akan dikemas menarik untuk persiapan penjualan ke luar negeri seperti Timor Leste dan Australia. “Mimpi kita dengan taste terbaik, harga satu botol Rp1 juta,” ujarnya.

Adapun bahan baku sophia berasal dari sopi, nama minuman keras yang selama turun-temurun diproduksi masyarakat di pedalaman Pulau Timor dan Rote. Kadar alkohol sopi bervariasi antara 60% hingga 98%. Sedangkan sopi merupakan hasil pemurniana dari nira atau hasil sadapan pohon lontar melalui cara destilasi.

Saat ini, Universitas Nusa Cendana telah mengembangkan tiga jenis Sophia, dan dua jenis sudah siap untuk produksi, sedangkan satu jenisnya masih dalam pengembangan agar bisa setara dengan dua jenis lainnya. “Saya sudah coba tiga jenis sopi yang dibuat oleh Undana. Dua rasanya enak dan beda dengan sake dari Jepang,”

Baca Juga :  Sang Pemetik Berupah Rp1 Juta

Minuman keras lainnya di NTT yang juga diproduksi dan dijual bebas di masyarakat seperti peci (peneraci) di Pulau Sumba dan Moke di Flores. Setelah Sophia berkembang, menurut Laiskodat, minuman keras di moke dan peci juga bisa diolah lagi menjadi sophia.

Rektor Undana Fredrik Benu mengatakan sophia menjadi cikal bakal Undana untuk melanjutkan kontrak kinerja bersama pemerintah daerah terutama dalam rekayasa teknologi di Nusa Tenggara Timur. “Ini bagian dari upaya percepatan pengembangan industri lokal berkarakter lokal,” ujarnya. (sumber:mi)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda