Home / Nasional / Jalan Kaki 2 Kilometer Demi Ikut Upacara bersama Menteri Desa

Jalan Kaki 2 Kilometer Demi Ikut Upacara bersama Menteri Desa

Siswa Jalan Kaki  ke ibu kota Kecamatan Nanaek Duabesi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengikuti Upacara HUT RI ke-71/Foto: Gamaliel
Siswa Jalan Kaki ke ibu kota Kecamatan Nanaek Duabesi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengikuti Upacara HUT RI ke-71/Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Atambua–Puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Nanaek Duabesi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), berjalan kaki melintasi jalan berbatu dan terjal demi mengikuti Upacara HUT RI ke-71 yang dipimpin Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes-PDTT) Eko Putro Sundjojo.

Upacara itu digelar di lapangan Kecamatan setempat yang berbatasan langsung dengan Distrik Suai, Negara Timor Leste.

Dengan tergopoh-gopoh sambil berlari kecil, Maria Tahuk, siswa kelas 5 SD Tubaki, mengenakan seragam Merah Putih lengkap dengan dasi dan topi, membawa plastik yang berisi biskuit.

Karena jarak dari rumah ke lokasi lapangan tempat digelarnya upacara jauh, mereka pun memilih membawa perbekalan. “Nanti pulang baru makan,” ujarnya kepada rombongan wartawan yang saat itu berpapasan langsung dengannya.

Baca Juga :  Kerugian Kapal Tenggelam di Alor Miliran Rupiah

Perbekalan tersebut ternyata disiapkan guru yang nantinya dibagi bersama siswa lainnya yang mengikuti upacara HUT Kemerdekaan di lapangan.

Maria mengaku, ia bersama teman-temannya sudah biasa berjalan kaki melintasi jalan berbatu dan perbukitan. Jarak dari rumah ke sekolah juga sekitar dua kilometer.

Bagi Dia, yang penting dari menghadiri upacara HUT RI ialah bertemu pejabat negara. “Saya senang bertemu pejabat negara, apalagi kami dengar bahwa hari ini Menteri yang datang untuk pimpin upacara,” ujarnya.

Siswa lainnya, Martha Mau Bere dari SD Katolik Weklalenok mengaku, tidak masalah berjalan kaki sampai dua kilometer ke lapangan upacara. “Kami sudah biasa jalan kaki,” kata Martha.

Martha menjelaskan, persoalan yang dialami warga di daerahnya yakni, terbatasnya angkutan perdesaan yang menghubungkan kota kabupaten dengan desa tersebut. Ongkos ojek dari jalan utama sampai desa sebesar Rp 20.000 per orang.

Baca Juga :  Teroris Nyaris Ledakan Bom dekat Pastor Gereja Katolik Medan

Satu-satunya angkutan umum yang melayani masyarakat setempat adalah mobil pikap milik pengusaha setempat yang menetapkan ongkos Rp15.000 per penumpang sampai Kota Atambua.

Martha pun berharap, dengan kehadiran Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes-PDTT) Eko Putro Sundjojo, kendala yang dihadapi warga bisa dibantu, sehingga warga setempat bisa beraktivitas dengan baik dan lancar. (gma/gr/sumber: MI/kompas)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda